Pengajian Aswaja: Peristiwa Besar, Selalu Memunculkan Firqah
// November 10th, 2009 // No Comments » // Berita

ngaji aswaja
Ahlus sunnah wal jama’ah (Aswaja) tak hanya ajaran (madzhab), tetapi juga manhaj, sistem, metode beragama: bersumber pada positioning Islam sebagai ummatan wasatha, (tengah, tidak radikal). Demikian disampaikan Prof. Drs. KH. Muhammad Tolchah Hasan, Wakil Rais Am PBNU pada pembukaan Pengajian Aswaja bagi Pengurus NU yang dilaksanakan pada Ahad, 1 November 2009 di Kantor PCNU Kabupaten Pasuruan. Pengajian yang akan dilaksanakan rutin 2 bulan sekali tersebut, dihadiri oleh pengurus NU di tingkat Cabang dan MWC serta beberapa partisipan.



Ada hal penting begitu masuk Ramadhan. Apa itu? Jam waktu shalat: khususnya maghrib dan Isya’. Di dua waktu itu, warga menunggu waktu berbuka puasa dan saatnya bertarawih setelah shalat Isya’. Taukah Anda, bahwa justru banyak orang salah membaca waktu, yang berakibat fatal pada sah-tidaknya puasa kita. Ini dia, beberapa tips membaca tanda waktu shalat.
Langkah PCNU untuk membina kelompok usaha tani, telah dimulai dengan memberikan modal kerja kepada delapan kelompok tani. Penyerahan modal tersebut, dilaksanakan di sela-sela peluncuran Program Pendampingan Agribisnis yang berlangsung pada 10 Agustus lalu di Kantor PCNU Kabupaten Pasuruan.
Kesulitan modal dan jaminan usaha bagi kelompok tani dan UMKM warga NU, sedikit teratasi dengan ditandatanganinya nota kesepahaman antara Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan. H. Sonhaji
Kota Surabaya, kala itu masih berada dalam wilayah kekuasaan Belanda. Hari menunjukkan tanggal 16 Rajab 1344 H, tepat 86 tahun silam. Puluhan ulama’ kharismatik berkumpul di Kota itu. Mereka bersepakat untuk meneguhkan misi kenabian di Indonesia yang diemban di pundak para ulama. Mereka berkumpul dibawah pimpinan seorang ulama’ besar Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ary, dari Pondok Tebuireng, Jombang. Dan dengan hati ikhlas, didasari kewajiban berda’wah dan menebar persatuan di antara para ulama menghadapi berbagai ancaman agama, mereka mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Oelama (NO).
RADAR BROMO (Selasa, 23 Juni 2009) Rendahnya penghasilan petani di desa-desa, menunjukkan bahwa sektor pertanian belum digarap secara optimal. Faktor utamanya adalah belum siapnya mental dan kapasitas petani NU untuk bersaing dengan arus deras bisnis global yang kini merambah hingga ke pelosok desa. Untuk itu, diperlukan langkah serius untuk mengupayakan kemandirian petani NU di tingkat local dengan melakukan pendampingan produksi, permodalan dan pembentukan pasar. 


