About Us
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan adalah bagian dari jam’iyyah Nahdlatul Ulama, organisasi kemasyarakatan-keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Wilayah kerja kami adalah meliputi 18 wilayah administratif kecamatan di Kabupaten Pasuruan, karena 6 kecamatan lainnya masuk dalam wilayah kerja PCNU Bangil. Kami memiliki cakupan mandat untuk melakukan pembinaan keagamaan dan pemberdayaan sekitar lebih dari 500.000 warga NU yang tersebar dalam 19 Majelis Wakil Cabang dan 303 ranting.
Dengan luasnya cakupan tersebut, maka dalam internal kepengurusan terbagi menjadi Majlis Syuriyah dan Majlis Tanfidziyah serta kelembagaan Mustasyar sebagai penasehat. Mejlis Syriyah terdiri dari Pengurus Harian Syuriyah dan A’wan (Pembantu Syuriyah). Sedangkan Majlis Tanfidziyah terdiri dari kepengurusan Harian Tanfidziyah dan 16 kepengurusan Lembaga/Lajnah sebagai perangkat organisasi yang menangani bidang kerjanya masing-masing. Selain itu, PCNU juga memiliki 9 Badan Otonom sebagai perangkat organisasi yang beranggotakan orang-orang sesuai segmennya.
Kelahiran dan keberadaan Nahdlatul Ulama’ di Pasuruan tidak bisa dilepaskan dari dakwah para penganjur Islam yang dimulai sejak datangnya Islam ke daerah ini seiring dengan dakwah yang dirintis Walisongo di Tanah Jawa. Dakwah para ulama’ saat itu khususnya dalam rangka menyelematkan masyarakat Pasuruan yang masih memiliki tradisi animisme dan dinamisme serta agama penyembah berhala. Selain itu, mereka juga pemimpin perjuangan melawan penjajah di daerahnya masing-masing.
Nama-nama seperti Mbah Arif di Segoropuro (Rejoso), Mbah Semendi (Winongan), Mbah Slagah (Kota) serta para ulama’salafus sholih merupakan pembimbing masyarakat di bidang agama, kehidupan sosial kemasyarakatan dan pemimpin perjuangan di saat bangsa membutuhkannya. Demikian pula peran para ulama’ generasi di bawahnya juga semakin memantapkan masyarakat Pasuruan dalam bertradisi, bersikap dan berpandangan yang mendasarkan segala sesuatunya pada syari’at dan etika agama. Peran para ulama’ tasawuf seperti Waliyullah Kyai Abdul Hamid (Mbah Hamid) serta ribuan habaib dan kyai pesantren yang tersebar di penjuru desa telah mengantarkan Pasuruan ke dalam tradisi masyarakat santri.
Peran organisasi kemasyarakatan keagamaan juga merupakan memberikan kontribusi yang besar bagi kental tradisi beragama di Pasuruan. Para ulama’ daerah ini telah menjadikan Nahdlatul Ulama’ (NU) sebagai media mengumpulkan umat (berjama’ah) sekaligus menggerakkan masyarakat (berjam’iyyah) untuk melaksanakan ibadah dan beramar ma’ruf nahi munkar. NU berkembang menjadi organisasi massa yang mengakar dan sakral seiring dengan tingkat ketaatan masyarakatPasuruan terhadap agama dan kepemimpinan ulama’.
Peran ulama’ Pasuruan dalam mengembangkan NU bahkan dimulai sejak NU didirikan pada tahun 1926 di Surabaya. Adalah Kyai Nawawi (alm), pengasuh pesantren Sidogiri yang tercatat secara resmi sebagai salah satu pendiri jam’iyyah ini bersama puluhan ulama’ dari seluruh nusantara. Dengan demikian kepengurusan cabang NU di Pasuruan diyakini ada sejak tahun itu pula. Bahkan Pasuruan tercatat pernah ditempati sebagai kantor sementara PBNU (terletak di Jl. Diponegoro sekarang) pada saat ketua tanfidziyah PBNU dijabat oleh KH. Muhammad Dahlan (alm) pada tahun 1954-1956.





