Mengenal KH Achmad Djufri Rais Syuriah NU Pasuruan
- account_circle Mokh Fasiol
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar

KH Ahmad Djufri merupakan ulama yang lahir dilahirkan di Kota Pasuruan tahun 1317H/1900M dari pasangan suami istri Syekh Djufri dan Nyai Hj Sulhah. Sejak kecil pendidikannya di awasi langsung oleh kedua orang tuanya.
Pendidikan
Pada masa remaja beliau belajar ilmu agama dari banyak guru dan ulama ternama diantara adalah KH Abdullah bin Yasin Kebonsari, Kiai Toyib Bugul, Kiai Dahlan Sukunsari, Kiai Nawawi Sidogiri, Kiai Khozin Panji Sidoarjo, KH Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang dan lainnya.Ketika beliau mondok di Kiai Khozin Panji Sidoarjo beliau sering diperintahkan untuk menjawab pertanyaan Masa’il yang rumit bahkan beliau di perintahkan membacakan pengajian tafsir jalalalain pada santri santrinya.
Menikah
Pada tahun 1935 M beliau di nikahkan dengan Khodijah putri terakhir KH Aly Murtadlo dan dikarenakan 7 keturunan dan hanya tiga yang meneruskan garis keturunannya.
Pengasuh Pondok Pesantren Besuk Generasi ke IV
Sepeninggal KH.Masyhadi (menantu KH. Subadar), KH. Achmad Djufri menjadi pengasuh pondok pesantren Besuk, Sebelum pindah ke besuk untuk meneruskan sebagai pengasuh Pondok Peasantren Besuk, KH. Achmad Djufri adalah termasuk satu di antara para pejuang kota Pasuruan yang dijadikan target operasi oleh tentara penjajah Belanda, Rumah beliau bahkan dikepung dan dikuasai.
Akhirnya beliau didampingi oleh Kyai Zahid (kakak ipar) hijrah ke pondok Besuk.Konon KH. Achmad Djufri diberangkatkan dengan kendaraan cikar (pedati) yang dipenuhi dengan muatan kayu, Beliau disembunyikan berada dalam tumpukan kayu itu.
Pada tengah perjalanan menuju Besuk, tepatnya di Pleret depan markas belanda, pedati tersebut dikejar dan diserang oleh Belanda Namun KH Ahmad Djufri terus melaju dengan pesatnya menuju besuk, sesampainya di sana ia disambut oleh iparnya Kiai Zahid.
Karena kondisi besuk juga menjadi target operasi daerah Belanda lalu kiai Zahid membawanya ke desa sladi tempat asal pengukir relief besuk tepatnya di rumah Wa Man, seorang lelaki tua yang berjualan es lilin di Pondok Pesantren Besuk tahun 1980 an dan seluruh keluarga besuk di hijarahkan di Desa Sladi.
Perkembangan Pondok Pesantren Besuk
Pasca perang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia KH Ahmad Djufri, Kiai Achmad Zahid (Kakak Ipar) , Kiai Aly Baqir (Keponakan), Kiai Achmad Mutamakkin (keponakan) menata kembali bangunan dan kegiatan belajar mengajar yang sempat terhenti akibat perang. Surau 4×4 peninggalan KH Aly Murtadlo direnovasi menjadi 6×10.Santri santri mulai berdatangan dan kembali belajar mengejar pelajaran yang tertinggal akibat perang.KH Ahmad Djufri dikenal sebagai pejuang yang ulet gigih dan pantang menyerah, waktunya hampir seluruhnya habis untuk santri dan masyarakat bahkan boleh dikatakan sedikit untuk keluarga. Kerja keras itu membuahkan hasil pada tahun 60-80 an di bantu dengan keponakan dan iparnya diantaranya KH Aly Baqir sejak 1947, KH Ahmad Mutamakkin sejak 1947, KH Achmad Tohir sejak 1959, KH Suhaimi Muchsin 1960, KH Chamzah Ahmad 1962, KH Muhammad Subadar 1961, KH Munir Aly 1967-1979 KH Anshor Ghozali 1967.
Nama pondok besuk semakin di kenal luas oleh masyarakat dan jumlah santri makan banyak hingga ratusan, sedangkan pondok putri di bantu dengan nyai Chumaidah, nyai Aisyah, nyai Zainab, Nyai Chalimah dan Nyai A’isyah.
Rotibul Haddad
Ketika kita memasuki area Pondok Besuk, pada setiap waktu isya’ tiba, akan selalu terdengar bacaan Rotib Al-Haddad yang dibaca oleh para santri. Rotib Al-Haddad telah menjadi ciri khas di pondok Besuk dan setia mengiringi malam-malam Besuk selama lebih dari 40 tahun.
KH.Achmad Djufri pengasuh pertama yang mengenalkan bacaan Rotib Al-Haddad pada para santri. Beliau memperoleh ijazah Rotib Al-Haddad dari al-Habib Ja’far bin Syaykhon Assegaf tokoh habaib Pasuruan kelahiran Yaman yang kemudian menetap dan dimakamkan di kota Pasuruan.
Menurut KH M Subadar sebenarnya Rotibul Haddad sudah dibaca oleh KH Aly Murtadlo yang diperoleh dari habib Alwi namun hanya beliau wiridan pribadi .
Mendatangi Majelis Haul Sadah Alawiyyin
Salah satu kesenangan beliau adalah mendatangi majelis haul sadah alawiyyin (keluarga keturunan Rasulullah Saw) bahkan bersama KH Abdul Hamid Kebonsari beliau pelopor masyarakat Pasuruan mendatangi haul Solo Al Habib Aly Husen Al Habsyi.
Rasa cinta membawa kedekatan dengan dzuriah nabi. Sungguh tak berlebihan kiranya jika sebagian Sadah Alawiyyin di Makkah Al-Mukarromah seperti Al-Habib Hasan Fad’ak, Al-Habib Muhammad bin Alawiy Al-Malikiy memberi julukan “Salman ahlul-bait” setiap kali beliau berkunjung.
Beliau disambut dengan ucapan; “marhaban ya Salman ahlul-bait”.Bahkan di sela-sela kepadatan waktunya, setiap hari beliau tidak pernah lepas untuk selalu membaca shalawat dan mengumandangkan sya’ir-sya’ir indah berisikan pujian terhadap Nabi, yang terangkum dalam kitab Burdah karya Imam Al-Busiriy r.a. sehingga Mbah Kyai Imam Sarang Rembang Jateng memberi julukan “Kyai Burdah” ketika berjumpa dengan beliau di tanah suci Mekkah.
Perjuangan di NU Pasuruan
Nama Ahmad Djufri tidak asing bagi masyarakat Pasuruan khususnya karena beliau dikenal dengan ulama yang alim sekaligus cendikiawan yang intelektual di zamannya.
Beliau mendirikan pendidikan dengan sistem klasikal dengan orientasi Diniyah ala Ahlussunah wal jamaah sehingga para murid muridnya bisa memahami apa yang di butuhkan di masyarakat.
Lingkungan KH Ahmad Djufri berhimpitan dengan dunia politik sehingga beliau juga ikut dalam urusan urusan politik, jadi tak heran jika ia di takuti dan di terima oleh beberapa masyarakat yang berbeda latar belakang.
Beliau juga di kenal memiliki hati yang lembut dan sikapnya yang santun dan fleksibel sehingga dapat di terima pernyataan bagi masyarakat umum, ulama, habaib dan pemerintah. Sehingga tidak heran jika banyak politikus yang sering berkunjung ke rumahnya.
KH Ahmad Djufri juga merupakan sosok ulama yang berperan penting dalam berdirinya NU di Kabupaten Pasuruan. Dengan semangat ‘Maslahah Ammah Muqoddamun ala maslahah khossoh’ senantiasa membuat beliau tenggelam dalam memperjuangkan sebagaian besar waktunya untuk NU, beliau juga Menjadi Rois Syuriah NU di Kabupaten Pasuruan.
Umat menangis
Di usia senjanya beliau masih tetap istiqomah mengajar para santri dan da’wah ke pelosok desa. Beliau membagi waktunya sebagian untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT, sebagian lagi untuk berkhidmat kepada Pondok Pesantren, dan sebagian lagi beliau habiskan waktunya untuk melayani umat dan jam’iyah NU.
Aktivitas dakwah dan mengajar terus beliau jalani sampai menjelang akhir hayatnya, Pada hari jum’at malam sabtu 6 Dzulqo’dah 1401 H. atau bertepatan tahun 1981 M. KH.Achmad Djufri berpulang ke rahmatullah.
Beliau dimakamkan di komplek pemakaman masjid jami’ Pasuruan bersanding dengan para ulama dan habaib.Peringatan haul rutin dilaksanakan pada hari ahad minggu pertama bulan Dzulqo’dah.
- Penulis: Mokh Fasiol

Saat ini belum ada komentar