Breaking News
light_mode

Islam “Sawah” Bukan Ahlus Sunnah Wal Jamaah

  • account_circle NU Pasuruan
  • calendar_month Rab, 23 Agu 2017
  • visibility 793
  • comment 6 komentar

Judul Buku : Bekal Pembela Ahlus Sunnah Wal Jamaah Menghadapi Radikalisme Salafi-Wahabi

Penulis : Muhammad Idrus Ramli
Penerbit : Surabaya, Aswaja NU CENTER Jawa Timur
ISBN : 978-602-17206-3-9
Tahun : I, 2013
Tebal : 210 Halaman
Peresensi : Syarif Hidayat Santoso

SERANGAN kembali dilakukan kalangan Islam “Sawah” (Salafi-Wahabi) terhadap Ahlus Sunnah Wal Jamaah melalui buku bantahan terhadap buku karya Muhammad Idrus Ramli berjudul Mazhab Al Asy’ari Benarkah Ahlus Sunnah Wal Jamaah? Meskipun buku karangan tokoh Salafi-Wahabi tersebut jauh dari logika ilmiah dan tak satupun dalil dari Al Quran dan Hadits yang dibantah oleh buku tersebut, namun ustadz Idrus Ramli masih berupaya menjelaskan tentang siapa sebenarnya Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan lawannya dalam ring keberagamaan, Salafi-Wahabi.

Kini, buku yang lebih baik dihadirkan untuk pembaca. Judulnya “Bekal Pembela Aswaja Menghadapi Radikalisme Salafi Wahabi”. Sebuah buku berbobot yang kualitas hujjah ilmiahnya lebih bagus dari buku “Mazhab Asy’ari Benarkah Ahlus Sunnah Wal Jamaah?”.

Sulit sekali membantah kehujjahan buku ini, buku yang ditulis dengan citarasa ilmiah dengan deretan bukti-bukti konkret yang tak terbantahkan. Titik poin yang ditekankan oleh ustadz Idrus Ramli memang betul-betul mengena. Sanggahan difokuskan pada siapa yang dimaksud Ahlus Sunnah Wal Jamaah, kemudian bukti-bukti otentik bahwa Salafi-Wahabi bukanlah penganut Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang mengikuti Rasulullah SAW dan para sahabat.

Ustadz Idrus Ramli secara jitu menunjukkan bahwa kalangan Wahabi bukan saja berbeda akidah dengan mayoritas Ahlus Sunnah Wal Jamaah, melainkan juga telah melakukan kebatilan intelektual dengan beragam cara untuk membenarkan paham Wahabi mereka. Salah satunya dengan melakukan serangan terhadap para ulama hadits. Dedikasi ilmiah ustadz Idrus Ramli tentang hal ini dihadiahkan kepada pembaca dalam halaman 33 sampai 96.

Kebatilan akademis yang sedemikian parah yang dilakukan kalangan Salafi-Wahabi bertolak dari lima hal. Pertama, dengan mendiskreditkan para ulama ahli hadits dengan menyebut mereka sebagai ahli bid’ah. Cara yang pertama ini misalnya dengan menyebut bahwa para ulama ahli hadits hanya sebatas membenarkan sebagian pendapat Imam Al Asy’ari. Bukan penganut mazhab Asy’ari.

Cara kedua yang dilakukan kalangan Salafi adalah pembunuhan karakter kitab-kitab ahli hadits. Pada bagian ini, ustadz Idrus Ramli mengajukan contoh sejumlah kitab ulama ahli hadits yang dimanipulasi kalangan salafi seperti karya Imam Thahawi, Imam Baihaqi, Imam Abu Amr Al Dani Al Andalusi serta Imam Al Lalaka’i. Cara Salafi ini jelas mampu memukau kalangan awam untuk beralih ke akidah tajsim yang mereka propagandakan.

Adapun cara ketiga dan keempat yang dilakukan kalangan Salafi untuk menghantam ulama ahli hadits adalah dengan menyebarkan riwayat-riwayat palsu dan penyebaran kitab-kitab palsu. Ulama-ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang termasyhur sejak Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Hanafi, Imam Ibnu Jarir Al Thabari, Imam Abu Nu’aim, Imam Al Daruqutni, menjadi sarana pemalsuan Salafi-Wahabi. Titik ini betul-betul ditekankan oleh ustadz Idrus Ramli karena begitu bahaya dan daruratnya kondisi pemalsuan terhadap Imam-imam besar Ahlus Sunnah Wal Jamaah tersebut.

Pengungkapan karya-karya palsu tentang ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah oleh ustadz Idrus Ramli merupakan satu informasi penting yang wajib diapresiasi. Pasalnya, realitas di lapangan menunjukkan kalau kalangan Salafi-Wahabi memang bergerak dengan taktik ini. Kalangan Salafi Wahabi sering menisbahkan pendapat mereka terhadap para Imam Ahlus Sunnah Wal Jamaah seakan-akan pendapat mereka bersesuaian dengan para Imam Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan kemudian warga Nahdliyyin dituduh sebagai ahli bid’ah.

Strategi kelima kalangan Salafi Wahabi adalah menolak otoritas hadits dhaif. Sesuatu yang sangat paradoks bukan saja bagi seluruh kaum muslim tapi juga kalangan Salafi-Wahabi sendiri. Sebab, selain melahirkan dilema bagi umat Islam dan kalangan Salafi-Wahabi karena pada dasarnya hadits dhaif dipakai oleh seluruh ulama salaf, kalangan Salafi-Wahabi sendiri terkenal memiliki hobi menukil hadits dhaif dan palsu untuk membenarkan pendapat mereka.

Luar biasanya lagi dari buku ini, ustadz Idrus Ramli mampu membeberkan aib akhlak-akidah kalangan Salafi Wahabi yang berkaitan dengan para sahabat. Para sahabat sebagai manusia dengan kualitas terbaik justru diminorkan oleh kalangan Salafi-Wahabi (hal. 91-114).

Ustadz Idrus dengan piawai menunjukkan bagaimana kalangan Salafi Wahabi meminorkan sahabat-sahabat besar sejak Abdullah bin Umar, Abu Bakar As Shiddiq, Utsman bin Affan, Bilal bin Harits Al Muzani bahkan Ummul Mukminin Aisyah. Tuduhan syirik dan bid’ah dialamatkan kalangan Salafi-Wahabi terhadap sahabat-sahabat besar diatas hanya karena para sahabat tersebut melakukan tabarruk, tawassul dan bid’ah hasanah.

Menariknya lagi buku ini juga menyertakan nubuwwah Rasulullah SAW tentang Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan Salafi Wahabi. Secara singkat, ustadz Idrus Ramli membeberkan fakta bahwa mazhab Asy’ari dan Al Maturidi tercantum secara tesktual dalam Al Quran dan hadits seperti ayat ke 54 surat Al Maidah, hadits tentang penaklukan Kostantinopel serta hadits tentang keutamaan penduduk Yaman. Buku ini juga menyertakan hadits-hadits tentang kaum Salafi Wahabi yang telah dinubuwwahkan tanda-tanda dan kemunculannya oleh Rasulullah SAW.

Akhir kata, buku ini betul-betul mampu menjadi bekal pembela Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang jitu dalam menghadapi Salafi Wahabi. Sebuah buku berbobot yang tak hanya menyajikan pemikiran tapi juga fakta dan argumentasi ilmiah yang dibangun dari para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah sendiri maupun dari ulama Salafi Wahabi. Sebuah buku yang sulit dibantah. (*)

Syarif Hidayat Santoso, kader muda NU Sumenep, alumnus FISIP Universitas Jember.

  • Penulis: NU Pasuruan
Tags

Komentar (6)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Belajar Menjaga Barisan Jamiyyah Terbesar Di Dunia, PCNU Kab. Pasuruan Sowan Mbah Hasyim Asy’ari

    • calendar_month Kam, 5 Mar 2020
    • visibility 938
    • 0Komentar

    Momentum Harlah NU ke-97, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan mengadakan beberapa kegiatan. Salah-satunya kegiatan ziarah muassis NU. Usai dari Sidogiri & Bangkalan, tentu menuju Makam Mbah Hasyim Asy’ari di Jombang. Menurut KH. Abdulloh Nasih Nashor, selaku Bendahara PCNU Kabupaten Pasuruan, berdasarkan hasil survey LSI tahun 2019, warga NU di Indonesia sebanyak 49,5%, yakni […]

  • Mahasiswa ITSNU Pasuruan Dampingi BUMDes Pasinan Olah Daun Kelor Jadi Jamu & Mie

    Mahasiswa ITSNU Pasuruan Dampingi BUMDes Pasinan Olah Daun Kelor Jadi Jamu & Mie

    • calendar_month Sab, 19 Feb 2022
    • visibility 1.383
    • 0Komentar

    Lekok, NU PasuruanMahasiswa Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pasuruan yang tergabung dalam kelompok Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) dampingi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pasinan, Kecamatan Lekok, kembangkan produk usaha. Ketua Kelompok M Faisol menjelaskan, banyaknya daun kelor di desa Pasinan hanya dijual tanpa diolah. Akibatnya, bernilai kurang ekonomis. “Biasanya satu ikat dijual […]

  • LP Ma’arif NU Pasuruan Gelar Olimpiade 2026, Asah Kompetensi Ratusan Pelajar

    LP Ma’arif NU Pasuruan Gelar Olimpiade 2026, Asah Kompetensi Ratusan Pelajar

    • calendar_month Sen, 14 Sep 2026
    • visibility 230
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU Pasuruan  Pengurus Cabang (PC) Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Pasuruan menggelar Olimpiade Ma’arif 2026 di Aula Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan, Ahad (16/9/2026). Ketua PC LP Ma’arif NU Kabupaten Pasuruan Ahmad Farid mengatakan, kegiatan tersebut menjadi wadah bagi para pelajar untuk mengasah sekaligus mengukur kompetensi yang diperoleh selama […]

  • Mengurus Masjid, Pengurus Harus Kaljasadil Wahid, Kalbunyanil Wahid

    • calendar_month Ming, 6 Jan 2019
    • visibility 412
    • 0Komentar

    Ustadz. Mundir Muslih, ketua Lembaga Ta’mir Masjid (LTM) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan, berharap kepada kepengurusan Masjid dalam menjalankan tugasnya untuk memakmurkan Masjid memiliki sifat kaljasadil Wakhid & Kalbunyanil Wahid, sehingga antara satu pengurus dan yang lainnya saling membantu dan menguatkan serta menjaga kekompakan. “Kepengurusan Masjid yakni Nadzir dan Qoyyim/Ta’mir kaljasadil Wahid, Kalbunyanil […]

  • Perdana & Sukses: Roadshow Sambang Masjid LTM PCNU Kabupaten Pasuruan

    • calendar_month Sen, 6 Agu 2018
    • visibility 310
    • 1Komentar

    Roadshow Sambang Masjid (Silaturrohim, Koordinasi, dan Konsolidasi Pengurus Masjid) Pengurus Cabang Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (PC LTM NU) Kabupaten Pasuruan Putaran Pertama, perdana & sukses digelar di Masjid Nurul Islam Desa Capang Kecamatan Purwodadi, Minggu (5/8/2018). Dalam kegiatan tersebut, peserta Sambang Masjid juga dilakukan pendidikan dibidang kemasjidan. “Takmir Masjid mendapatkan tiga pencerahan dari LTM […]

  • Kebutuhan & Realisasi Harapan Rais Syuriyah, NU Pasuruan Bangun Pagar Kantor

    Kebutuhan & Realisasi Harapan Rais Syuriyah, NU Pasuruan Bangun Pagar Kantor

    • calendar_month Kam, 8 Jun 2023
    • visibility 1.254
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU PasuruanPengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan menggelar peletakan batu pertama pagar di kompleks perkantoran PCNU setempat, Jl Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, Rabu (7/06/2023). Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan KH Imron Mutamakkin menyampaikan, rasa syukur atas dimulainya pembangunan pagar di perkantoran PCNU Kabupaten Pasuruan. Hal itu sebagai upaya meningkatkan keamanan sekaligus mewujudkan harapan Almaghfurlah KH […]

expand_less

Eksplorasi konten lain dari PCNU Kab. Pasuruan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca