Breaking News
light_mode

Mati Syahid dan Pikiran Nakal Jaka Tarub

  • account_circle NU Pasuruan
  • calendar_month Jum, 9 Apr 2021
  • visibility 790
  • comment 0 komentar

Beberapa tahun yang lalu. Seorang terorisme, yang mengantar nyawa puluhan orang, dieksekusi oleh petugas. Tak lama kemudian, viral video jenazahnya yang tersenyum. Pembuat video memberikan caption bahwa beliau wafat dengan amat tenang. Bahkan, para netizen tergiring opininya bahwa almarhum merupakan seorang syahid karena wafat di tangan petugas atas hukuman aksi terornya.

Wallahu a’lam, konon Gus Hasyim pun tak berani berspekulasi tentang benar –tidaknya, settingan atau aslinya video tersebut. “Saya tak berani mengatakan apapun tentang kematian seorang muslim. Sebab jika saya suudzan sedangkan beliau benar-benar syahid, maka saya berdosa sebagaimana pembunuh yang membunuh seorang muslim dengan zalim,” ujar Gus Hasyim serius.

Akan tetapi, beberapa tahun kemudian kembali terjadi peristiwa serupa. Beberapa anggota ormas – atas nama- Islam wafat setelah – konon – melawan petugas dalam operasi preventif penggalangan massa untuk “mengawal” seorang tokoh yang hendak diperiksa petugas keamanan. Dan, sekali lagi dunia maya digegerkan oleh foto “jenazah” salah satu martir yang tersenyum damai.

Dunia maya memanas oleh pro-kontra. Para netizen bijak bestari saling bertengkar. Para netizen yang maha benar dan maha pandai juga mendadak menjelma ahli forensik, kriminolog, psikolog kriminal, ahli ilmu deteksi kebohongan, pakar hukum, pembela HAM dan entah apa lagi. Padahal, Wak Takrip pun paham jika rakyat negara Cak Manap belum secanggih itu kualitas sumber daya manusianya. Barangkali, di negara Paman Sam sana orang akan memilih tak ikut campur tentang sesuatu yang bukan bidangnya. Tapi ini negera Cak Manap. Orang bisa kapan dan di mana saja membuka gadget dan berdebat kusir di media sosial.

Selanjutnya, juga beredar video viral tentang pelangi yang menaungi langit saat pemakaman para martir itu. Para netizen kembali mengklaim bahwa mereka benar-benar syahid karena para biadari pun sudi turun ke bumi menyambut arwahnya. Mengapa pelangi dikaitkan dengan turunnya 72 orang bidadari? Wak Takrip menjelaskan memang demikianlah dalam dongeng-dongeng kuno. “Dulu saya juga percaya kalau pelangi adalah selendang para bidadari saat turun ke bumi. Warna-warni pelangi tersebut merupakan selendang para biadari, yang salah satunya disembunyikan oleh Jaka Tarup,” katanya di warung Cak Manap.

Keyakinan ribuan netizen sepertinya mulai goyah dan ikut meyakini jika pelangi di atas langit saat pemakaman para martir adalah selendang 72 bidadari. Meski saat kejadian memang sedang musim hujan dan fenomena pelangi seringkali terjadi, jika narasi-narasi terus didengungkan oleh –bisa jadi—para buzzer, bisa saja meresap ke dalam alam bawah sadar dan diakui menjadi sebuah kebenaran.

“Apa keuntungan para buzzer membangun narasi demikian dengan agenda mereka?” gugat Arif.

“Bisa jadi, agar kita percaya jika seseorang yang wafat akibat membangkang terhadap pemerintah, akan mendapat syahid. Ini berbahaya karena tindakan pembangkangan bisa dianggap sebagai tindakan heroik bahkan suci,” timpal Firman Murtado.

“Waduh, sampai segawat itu, ya?”

Akan tetapi, kecerdasan dan kemuliaan hati para netizen negara Cak Manap yang bersedia meluangkan hampir semua waktunya, memang patut dipuji. Entah siapa, tanpa mengharap imbalan apapun mencoba mengungkap fakta, bahwa foto jenazah tersenyum itu ternyata tidak original. Seseorang yang kemudian dijemput petugas, mengaku memfoto kawannya dengan mata terpejam dan bibir tersenyum, kemudian diunggah ke berbagai media sosial dengan caption: “Subhanallah, wajah syuhada yang wafat ditangan petugas ini tersenyum.”

“Saya memang sedikit ragu jika jenazah pelaku teror bisa tersenyum begitu,” timpal Ustadz Karimun. “Andai pun korban mereka adalah non muslim, saya juga tidak yakin. Allah tak pernah mengizinkan siapa pun untuk membinasakan seseorang, kecuali dengan haq. Membunuh seorang anak manusia, sama dengan membunuh semua manusia di atas bumi. Nabi juga bersabda jika menyakiti non muslim dzimmiy, non muslim yang hidup damai dengan kita, sama dengan menyakiti beliau. Dalam hati kecil saya bertanya-tanya, benarkah pelaku teror yang menyebabkan melayangnya jiwa manusia –meski belum bersyahadat—diizinkan oleh Allah? Apalagi, semua itu dilakukan di sebuah negara yang damai. Tanpa peperangan. Dan korbannya, sebagian besar ‘orang tak berdosa’, bahkan saudara seiman pelaku.”

“Berarti mereka bukan syuhada, ustadz?”

“Saya tak berani mengatakan begitu! Yang harus kita catat sebagai pegangan di kemudian hari, ternyata ada orang nekat yang berani memanipulasi kesyahidan. Ironisnya, kesyahidan itu selalu dikait-kaitkan dengan dengan 72 bidadari. Jika memang tujuan utama kita mengharap sorga adalah kemolekan bidadari, alangkah niafnya umat ini. Jangan-jangan, kita tak jauh beda dengan Mbah Jaka Tarub muda yang saking ndablegnya sampai tega menyembunyikan selendang ‘bidadari’. Ah, kenapa agama kok seakan dijadikan muara dari pikiran erotis semata?”

Penulis: Abdul Rozaq

Editor: Makhfud Syawaludin

  • Penulis: NU Pasuruan

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Habaib dan Cerminan Kemuliaan Akhlak Rasulullah

    Habaib dan Cerminan Kemuliaan Akhlak Rasulullah

    • calendar_month Sel, 1 Des 2020
    • visibility 508
    • 0Komentar

    Dalam sebuah riwayat, diceritakan bahwa ada seorang Raja, yang ketika akan berbelanja untuk kebutuhan dalam 1 bulan, akan dikawal oleh beberapa prajurit khusus yang bertugas untuk membawa barang yang dibeli tersebut, karena jumlah barangnya sangat banyak. Di tengah perjalanan, Raja dan rombongan beristirahat di sebuah tempat. Para prajurit duduk santai di luar sebuah bangunan, sedangkan […]

  • Rakor Bersama, LDNU-RMINU Pasuruan Komitmen Perluas Syiar Islam di Daerah Terpencil

    Rakor Bersama, LDNU-RMINU Pasuruan Komitmen Perluas Syiar Islam di Daerah Terpencil

    • calendar_month Rab, 3 Agu 2022
    • visibility 790
    • 0Komentar

    Pandaan, NU PasuruanPengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren) (RMI) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) bersama, Selasa (02/08/2022). Kegiatan yang bertempat di Waroeng Sumringah, Kompleks Tamandayu, Kecamatan Pandaan itu, bertujuan untuk mempersiapkan Safari Pesantren tahun 1444 Hijriah mendatang. Sekretaris PC LDNU Ahmad Syarofuddin Alkuwaity menyampaikan, membahas upaya mengoptimalkan kegiatan […]

  • Usai Terpilih, M Syukron: Ansor Grati Tunon Siap Semakin Eksis

    Usai Terpilih, M Syukron: Ansor Grati Tunon Siap Semakin Eksis

    • calendar_month Sel, 11 Mei 2021
    • visibility 352
    • 0Komentar

    Ketua Pimpinan Ranting (PR) Terpilih Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kelurahan Grati Tunon masa khidmat 2020-2022 M Syukron, berharap dalam kepengurusan yang akan datang dapat tercipta kerjasama yang semakin baik diantara sesama pengurus, semua anggota dan kader Ansor. “Kedepannya eksistensi gerakan Ansor Kelurahan Grati Tunon harus lebih efektif. Oleh karena itu, bagi semua pengurus yang terpilih […]

  • Konferancab IPNU Tutur ke-VI, M. Khilmi Anjastiar Terpilih Menjadi Ketua

    • calendar_month Sen, 5 Agu 2019
    • visibility 818
    • 0Komentar

    Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Tutur digelar Ahad 04 Agustus 2019, bertempat di Kantor MWC NU Tutur. Kegiatan yang mengangkat tema “Rekonstruksi Peran Pelajar NU Dalam Aktualisasi Nilai-Nilai ASWAJA” ini, merupakan forum musyawarah tertinggi IPNU di tingkat kecamatan. Kegiatan dibuka oleh ketua MWCNU Kecamatan tutur dan di hadiri oleh Camat […]

  • Rukyatul Hilal Penentuan Syawal di Pasuruan Tidak Terlihat

    Rukyatul Hilal Penentuan Syawal di Pasuruan Tidak Terlihat

    • calendar_month Sab, 29 Mar 2025
    • visibility 1.359
    • 0Komentar

    Bangil, NU Pasuruan  Pengurus Cabang PC Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Kabupaten Pasuruan menggelar rukyatul hilal  di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah (Dalwa) Bangil  Gedung Mabna Abuya Hasan Lantai 10, Sabtu (29/03/2025).Dalam pantauan hilal tidak terlihat Sekretaris Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Kabupaten Pasuruan M Rusdi, suasana di lokasi Rukyatul hilal terpantau  berawan dan     […]

  • Ngaji Muharraman KGSKR GUSDURian Pasuruan, Baca Puisi Gus Mus

    • calendar_month Sab, 7 Sep 2019
    • visibility 781
    • 0Komentar

    Kegiatan Ngaji Muharraman yang dilaksanakan oleh Komunitas Gitu Saja Kok Repot (KGSKR) GUSDURian Pasuruan, Jumat (6/9/2019), bertempat di Aula SMAN 1 Bangil, dalam sesi pembacaan puisi, membacakan puisi karya KH. A. Mustofa Bisri, yang berjudul “Selamat Tahun Baru Kawan”. Adapun yang membaca puisi tersebut adalah Dita Febrianti, siswi SMAN 1 Purwosari. Berikut puisi tersebut: Selamat […]

expand_less

Eksplorasi konten lain dari PCNU Kab. Pasuruan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca