Breaking News
light_mode

Sayyidina Umar RA dan Warisan Perdamaian di Jerusalem

  • account_circle NU Pasuruan
  • calendar_month Rab, 3 Mar 2021
  • visibility 965
  • comment 0 komentar

Sebelum kedatangan Khalifah Umar bin Khaṭṭāb ra., Jerusalem adalah tempat dimana syak wasangka adalah kewajaran. Barangkali itu memang nasib Jerusalem, yang pernah diserbu oleh seorang Firaun dari Mesir, ditindas oleh Babilonia, kemudian Roma, dan bahkan di tahun 614 M ditaklukkan oleh pasukan Persia.

Bila dalam perang sebelumnya orang Yahudi yang dihabisi, dalam penyerbuan oleh pasukan Persia kali ini, justru sebaliknya yang terjadi, yakni orang Yahudi Jerusalem yang membantu pasukan Persia untuk membunuh orang-orang Kristen dan menghancurkan Gereja-Gerejanya. Kabar terakhir, dalam kesempatan untuk membalas, orang-orang Kristen yang sedang dilanda kemarahan melempari altar yang terkenal di Jerusalem sebagai batu karang tersebut dengan kotoran hewan. Altar tersebut kini adalah Masjid Qubbat ash-Shakhrah atau Dome of The Rock.

Nuansa kebencian di Jerusalem tersebut pun sirna ketika Khalifah Umar bin Khaṭṭāb ra. berhasil menaklukkannya dengan cara damai pada tahun 637 M. Tak ada pembantaian manusia dan tak ada penghancuran rumah ibadah agama apapun. Yang ada hanyalah seorang Khalifah dari Mekah yang berpakaian lusuh dan memandang dengan takzim pada Jerusalem. Sebuah cara penaklukan wilayah dan penampilan seorang pemimpin yang sangat berbeda dari kebiasaan umumnya.

Setelah dicapai kata damai dalam sebuah perundingan yang dilaksanakan di Bukit Zaitun dengan penguasa Jerusalem saat itu, yakni Patriark Sophronius, Khalifah Umar ra., lantas meminta Sophronius untuk menunjukkan lokasi Haikal Sulaiman, sebutan untuk sebuah tempat dimana Rasulullah dulu di-miʻrāj-kan. Sang Patriark pun bersedia dan memandu Sahabat Umar beserta rombongan 4.000 sahabat yang mengikutinya saat itu.

Namun, Sang Patriaark membawa rombongan orang-orang Muslim tersebut ke Gereja Makam Kristus dan mengabarkan kepada mereka bahwa tempat itulah yang disebut Haikal Sulaiman. Untungnya, Sahabat Umar sebelumnya pernah diberitahu Rasulullah tentang ciri-ciri Haikal Sulaiman tersebut, sehingga ketika melihat-lihat tempat itu Ia pun berkata kepada Sophronius, “Engkau bohong! Sungguh, Rasulullah menyebutkan sifat-sifat masjid Daud tidak seperti bangunan ini.”

Akhirnya, Sahabat Umar bersama para rombongan memutuskan untuk mencarinya lagi dengan terus menerus mengelilingi Jerusalem. Pada suatu tempat, ketika Sahabat Umar secara kebetulan melihat sebuah pintu bangunan tua dan sesak dengan tahi, ia justru berhenti. Ia dan para rombongan pun memutuskan untuk masuk kedalam meskipun harus bersusah payah merangkak. Ketika sudah berada di dalam, mereka dapat berdiri tegak dan mendapati kenyataan yang miris, bahwa tempat suci itu telah menjadi tempat pembuangan sampah dan tahi. Tanpa pikir panjang, Sang Khalifah menyingkirkan kotoran yang telah mengering itu dengan selendangnya dan diikuti oleh para rombongan.

Setelah membersihkan tempat tersebut, Umar meminta pendapat kepada Kaʻab al-Aḥbār, “Menurutmu, di mana kita harus mendirikan sebuah Masjid?” 

Kaʻab memberi saran, “Dirikanlah di belakang (utara) ṣakhrah sehingga bisa menghadap ke dua kiblat sekaligus, yaitu kiblat Musa dan kiblat Muhammad.”

Karena saran tersebut dianggapnya menyerupai ibadah orang-orang Yahudi, Sahabat Umar pun tidak membangun sebuah masjid di belakang ṣakhrah, melainkan membangunnya di depan (selatan) ṣakhrah, sehingga kiblatnya hanya mengarah kepada Kaʻbah. Ia pun membangunnya dengan arsitektur bangunan yang amat bersahaja. Selanjutnya, Sahabat Umar pun menjamin keamanan dan memberikan akses bagi para peziarah, siapa pun dan dari agama apapun, yang hendak pergi ke Tanah Suci tersebut, tak terkecuali orang-orang Yahudi yang bertahun-tahun sebelumnya terusir dari sana.

Sumber bacaan: Mujīr ad-Dīn , al-Uns al–Jalīl, Maktabah Dandis. Oman.vol. 1, h. 255-257.

Penulis: Vaurak Tsabat, Santri Penikmat Kopi di Pondok Besuk, Pasuruan

Editor: Makhfud Syawaludin

  • Penulis: NU Pasuruan

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 3 Nasihat Mbah Moen untuk Warga dan Pengurus Nahdlatul Ulama

    3 Nasihat Mbah Moen untuk Warga dan Pengurus Nahdlatul Ulama

    • calendar_month Ming, 20 Des 2020
    • visibility 1.955
    • 0Komentar

    Melalui searching di google, cukup mudah untuk mencari kata mutiara atau nasihat dari KH Maimoen Zubaer di dunia maya. Hanya saja, belum ada yang menyajikan secara khusus nasihat-nasihat Mbah Moen kaitannya dengan Nahdlatul Ulama. Sehingga dalam tulisan ini, akan menampilkan beberapa pesan Mbah Moen untuk warga dan pengurus Nahdlatul Ulama (NU). Pesan Mbah Moen yang […]

  • Lailatul Ijtima’ MWCNU Rejoso, Gus Ipong: Khidmat NU Itu Seperti Sholat Berjamaah

    Lailatul Ijtima’ MWCNU Rejoso, Gus Ipong: Khidmat NU Itu Seperti Sholat Berjamaah

    • calendar_month Sen, 7 Feb 2022
    • visibility 385
    • 0Komentar

    Rejoso, NU PasuruanMajelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Rejoso melaksanakan kegiatan rutin Lailatul Ijtima’ Malam Ahad Pon di Masjid Nurul Jadid, Dusun Suruh Desa Kedungbako, Sabtu (05/02/2022). Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan KH Imron Mutamakkin menceritakan kembali peristiwa Isra Mi’raj. “Kecepatan Rasulullah dalam peristiwa Isra Mi’raj itu melebohi kecepatan cahaya,” tuturnya dalam […]

  • Dulu Rekanita, Sekarang Istri Tercinta

    Dulu Rekanita, Sekarang Istri Tercinta

    • calendar_month Ming, 4 Apr 2021
    • visibility 1.130
    • 1Komentar
  • KH Miftakhul Akhyar : Pengurus NU Harus Tegak Lurus Dengan PBNU

    KH Miftakhul Akhyar : Pengurus NU Harus Tegak Lurus Dengan PBNU

    • calendar_month Sen, 5 Agu 2024
    • visibility 612
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU Pasuruan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengungkapkan bahwa saat ini, PBNU terus melakukan penataan organisasi mulai dari ranting NU hingga PBNU.  Oleh karena itu, ia mengingatkan kepada pengurus NU di setiap tingkatan untuk tegak lurus mengikuti pola yang sedang dilakukan PBNU berdasarkan hasil-hasil keputusan musyawarah di PBNU. Hal […]

  • GP Ansor NU Kabupaten Pasuruan Lestarikan Tradisi Sowan Kiai Saat Idul Fitri

    • calendar_month Jum, 14 Jun 2019
    • visibility 312
    • 0Komentar

    Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Kabupaten Pasuruan, lestarikan tradisi berkeliling untuk sowan untuk ngalap barakah kepada kiai-kiai sepuh dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan di bulan idul fitri, Jum’at (14/06/2019). Sekitar 8 mobil yang membawa rombongan ansor dan belasan lainnya menaiki motor. “Kita keliling agenda rutin setiap tahun dalam rangka […]

  • Di Lakmud, Kader Muda NU Gondangwetan Dilatih Literasi Dakwah Digital

    Di Lakmud, Kader Muda NU Gondangwetan Dilatih Literasi Dakwah Digital

    • calendar_month Kam, 3 Nov 2022
    • visibility 439
    • 0Komentar

    Gondangwetan, NU Pasuruan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan menggelar Latihan Kader Muda (Lakmud) di Balai Desa Lajuk, Kecamatan Gondangwetan, Jum’at-Ahad (28-30/10/2022) Ketua PAC IPNU Gondangwetan Saiful Akbar mengungkapkan, Lakmud kali ini memiliki tujuan khusus untuk mempersiapkan para kader IPNU-IPPNU dalam berdakwah […]

expand_less

Eksplorasi konten lain dari PCNU Kab. Pasuruan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca