E-Buletin An-Nahdliyah Edisi 8: Air Mata untuk Sang Murobbi dan Jejak Spiritual Satu Abad NU
- account_circle Makhfud Syawaludin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 36
- comment 0 komentar

Pohjentrek, NU Pasuruan
Ada yang berbeda, sekaligus terasa mendalam pada lembaran digital E-Buletin An-Nahdliyah edisi ke-8 yang terbit Januari 2026 ini. PCNU Kabupaten Pasuruan tidak hanya menyuguhkan literasi keislaman rutin, namun juga mempersembahkan sebuah monumen ingatan yang emosional. Edisi ini menjadi saksi duka sekaligus cinta para santri dan umat kepada sosok panutan mereka, Al-Maghfurlah KH. Muzakki Birrul Alim.
Sebagai Rois Syuriah PCNU Kabupaten Pasuruan, sosok Kiai Muzakki digambarkan bukan sekadar pemimpin organisasi, melainkan “Sang Murobbi” yang alim dan istiqamah. Hal ini terekam jelas dalam rubrik utama yang memuat syair menyentuh hati karya Abdillah Chamim, seorang alumni Pesantren Sidogiri.
Dalam tulisan bertajuk “Sanjungan, Duka, dan Doa”, Mukhammad Luthfi melukiskan kepergian Sang Kiai sebagai sebuah keterpisahan jarak yang menyakitkan. “Raganya mungkin berubah sepanjang waktu, akan tetapi jiwanya menetap di dalam hati,” tulisnya dalam terjemahan syair tersebut. Bait-bait ini seolah mewakili jeritan hati ribuan santri yang merasa kehilangan sosok yang selama ini laksana “cahaya dalam kegelapan” dan “air yang memberi manfaat”.
Momentum Sya’ban dan Perbaikan Diri
Selain nuansa tribute yang kental, buletin ini tetap setia pada khittahnya sebagai media pencerahan umat. Memasuki bulan Sya’ban, redaksi menyajikan artikel feature keislaman berjudul “Sya’ban, Bulan Persiapan Diri Menuju Ramadhan” oleh Fajar Sodik.
Pembaca diajak untuk tidak membiarkan Sya’ban berlalu begitu saja. Artikel ini menekankan pentingnya Nisfu Sya’ban sebagai “pemanasan” spiritual sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. “Sungguh beruntung orang yang memperbaiki dirinya sebelum datangnya Ramadhan,” demikian nukilan nasihat ulama yang dikutip dalam rubrik ini.
Senada dengan itu, rubrik Khutbah Jumat juga mengangkat tema “Nisfu Sya’ban, Momentum Perbaikan Diri”. Teks khutbah ini mengingatkan jamaah bahwa malam Nisfu Sya’ban adalah waktu di mana pintu ampunan dibuka seluas-luasnya, kecuali bagi mereka yang menyekutukan Allah dan mereka yang masih memelihara permusuhan.
Menapak Tilas Sejarah, Menyongsong Abad Kedua
Edisi ini juga merekam jejak sejarah penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama. Dalam rubrik NU Trending, diulas kegiatan “Napak Tilas Isyarah Pendirian NU” yang berlangsung pada awal Januari 2026.
Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang menghubungkan dua titik vital sejarah NU: Pondok Pesantren Syaikhona Kholil di Bangkalan dan Tebuireng di Jombang. Prosesi penyerahan tongkat dan tasbih dari KHR Ach Azaim Ibrahimy kepada KH Fahmy Amrullah menjadi simbol estafet perjuangan yang terus berlanjut.
Semangat menjaga warisan ini dipertegas oleh Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan, KH. Imron Mutamakkin. Dalam peringatan Harlah NU ke-103, beliau menekankan bahwa Aswaja adalah pondasi yang membuat NU mampu istiqamah melintasi satu abad zaman. “Dengan pondasi Aswaja yang kuat, NU mampu bertahan hingga satu abad dan siap melangkah menuju abad kedua,” tegasnya.
Secara keseluruhan, E-Buletin An-Nahdliyah Edisi 8 ini hadir sebagai paket lengkap. Ia bukan hanya sekadar bacaan, tetapi juga refleksi. Ia mengajak pembacanya untuk menunduk mendoakan guru yang telah berpulang, sekaligus mendongak menatap masa depan jam’iyah dengan optimisme.
E-Buletin dalam didownload di chrome-extension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://www.nupasuruan.or.id/wp-content/uploads/2026/02/E-Buletin-An-Nahdliyah-Edisi-8.pdf
Edisi sebelumnya dan lain-lain dapat dilihat di https://www.nupasuruan.or.id/perpustakaan-nahdliyin-pasuruan/
M. Fauzan Imron, Pemimpin Redaksi
- Penulis: Makhfud Syawaludin

Saat ini belum ada komentar