Gus Ipong Ajak Masyarakat Jadikan Ramadhan Momentum Perkuat Kepedulian Sosial dan Moralitas
- account_circle Mokh Faisol
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar

Nguling, NU Pasuruan
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan, KH Imron Mutamakkin, mengajak masyarakat menjadikan bulan suci Ramadhan sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian sosial, menjaga moralitas, serta memperkuat tanggung jawab bersama dalam membangun kehidupan yang lebih baik.
Pesan tersebut disampaikannya saat memberikan tausiyah dalam kegiatan Istighosah Jum’at legi rutin PCNU Kabupaten Pasuruan di Masjid Ad Taqwa, Kecamatan Nguling, Jumat (13/2/2025).
Dalam tausiyahnya, ia menekankan bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari wujud syukur kepada Allah SWT. Menurutnya, pemanfaatan sumber daya alam, termasuk penebangan pohon, diperbolehkan selama memberikan manfaat yang lebih besar dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan.
“Menjaga alam merupakan bagian dari rasa syukur kepada Allah SWT,” ujarnya.
Gus Ipong, sapaan akrabnya, juga mengajak seluruh elemen Nahdlatul Ulama, mulai dari pengurus MWC NU, ranting, badan otonom seperti IPNU, Ansor, hingga Muslimat, untuk menghadirkan berbagai kegiatan positif selama Ramadhan agar masyarakat dapat merasakan suasana religius dan penuh kebersamaan.
“Setiap banom dan lembaga NU hendaknya menghadirkan kegiatan positif dan berlomba-lomba menyemarakkan Ramadhan bersama masyarakat,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa bulan suci Ramadhan harus dimanfaatkan sebagai kesempatan memperbanyak amal kebaikan, sehingga umat Islam dapat keluar dari Ramadhan dengan membawa keberkahan dan ampunan Allah SWT.
“Mari memperbanyak kebaikan di bulan Ramadhan agar setelahnya kita memperoleh keberkahan,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga menyoroti sejumlah persoalan sosial yang masih dihadapi Kabupaten Pasuruan, termasuk maraknya peredaran obat terlarang dan berbagai problem sosial lainnya. Menurutnya, sebagai daerah yang dikenal sebagai kota santri, masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk saling mengingatkan dan mencegah kemungkaran.
Ia menambahkan, sikap tegas dalam mencegah kemaksiatan bukanlah bentuk kekerasan, melainkan wujud kepedulian dan kasih sayang. Ia mengibaratkannya seperti tindakan seorang dokter yang harus mengambil langkah tegas demi menyelamatkan pasien agar penyakit tidak semakin meluas.
“Ketika kita mampu mengingatkan tetapi memilih diam, maka kita juga memiliki tanggung jawab di hadapan Allah SWT,” tutupnya.
- Penulis: Mokh Faisol

Saat ini belum ada komentar