Breaking News
light_mode

Sejarah ISHARI : Warisan Seni, Dakwah, dan Perjuangan Ulama Nusantara

  • account_circle Mokh Faisol
  • calendar_month Jum, 16 Jan 2026
  • visibility 2.710
  • comment 0 komentar

Pada awal pendiriannya, Ikatan Seni Hadrah Repbulik Indonesia (ISHARI) bernama Jam’iyyah Hadrah, yaitu sebuah perkumpulan seni rebana yang diiringi bacaan sejarah kelahiran dan perjuangan Nabi Besar Muhammad Saw. Kegiatan ini memadukan syair dari Kitab Maulid Syaroful Anam dan Kitab Diwan Al-Hadroh, disertai gerakan serta bunyian tepuk tangan yang teratur dan indah, sehingga tercipta harmoni antara lantunan shalawat dan tabuhan rebana.

Pada tahun 1918, shalawat hadrah ini dikembangkan kembali oleh KH. Abdurrokhim bin Abdul Hadi di Pasuruan. Dari tangan beliau, lahirlah kelompok-kelompok hadrah yang didirikan oleh para santrinya. Sejak saat itu, shalawatan hadrah ini dikenal luas dengan sebutan Hadrah Durahiman.

Pada masa penjajahan, ketika kebebasan berkumpul masyarakat pribumi diawasi secara ketat oleh pemerintah kolonial, kesenian hadrah memiliki peran strategis. Izin penyelenggaraan kegiatan hadrah dimanfaatkan oleh para ulama sebagai sarana konsolidasi dan musyawarah untuk membahas persoalan-persoalan keumatan. Dengan demikian, hadrah tidak hanya berfungsi sebagai kesenian, tetapi juga sebagai media perjuangan dan dakwah.

Ciri khas Jam’iyyah Hadrah tampak pada suara merdu pembawa syair, sahut-sahutan bacaan shalawat para peserta, serta gerakan-gerakan yang menandakan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. Jam’iyyah ini didirikan oleh KH. Abdurrokhim bin Abdul Hadi sekitar tahun 1918. 

Dalam struktur organisasi ISHARI, terdapat dua majelis utama, yaitu Majelis Hadi dan Majelis Tanfidziyah. Dalam perjalanannya, ISHARI mengalami berbagai cobaan dan dinamika. Bahkan, pada awal perubahan nama dari Jam’iyyah Hadrah menjadi ISHARI, terjadi pergolakan internal yang nyaris menimbulkan perpecahan. Pada rentang tahun 1959–1966, kegiatan ISHARI sempat terpecah menjadi dua.

Perjalanan ISHARI juga tidak terlepas dari dinamika organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Pada Muktamar NU ke-30 tahun 1999 di Lirboyo, ISHARI masuk dalam pembinaan LSBNU. Selanjutnya, pada Muktamar NU ke-31 tahun 2004 di Boyolali, ISHARI dipindahkan menjadi organisasi di bawah binaan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah. 

Pada Muktamar NU ke-32 di Makassar, nama ISHARI sempat tidak tercantum dalam AD/ART NU. Hingga akhirnya, pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, ISHARI secara resmi kembali menjadi Badan Otonom NU.

Seiring perkembangan zaman, Jam’iyyah Hadrah terus berkembang dan keanggotaannya semakin bertambah. Setelah wafatnya KH. Abdurrokhim, kepengasuhan Jam’iyyah ini dilanjutkan oleh putra beliau, KH. Muhammad bin Abdurrokhim. Pada tahun 1956, KH. Muhammad bin Abdurrokhim bersama Rais ‘Aam PBNU KH. Wahab Hasbullah membentuk wadah organisasi dan mendeklarasikan Jam’iyyah Hadrah menjadi ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia).

Huruf “R” (Republik) pada nama ISHARI saat itu bertujuan untuk membentengi organisasi dari pengaruh gerakan komunisme. Namun, pada Munas pertama ISHARI tahun 1995 di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, disepakati penghapusan kata Republik, sehingga nama organisasi menjadi Ikatan Seni Hadrah Indonesia.

Lebih dari sekadar komunitas seni, ISHARI memiliki peran penting dalam sejarah lahirnya Nahdlatul Ulama. Dikisahkan bahwa proses musyawarah pembentukan Komite Hijaz tahun 1926, yang menjadi cikal bakal berdirinya NU, disamarkan melalui kegiatan hadrah. Saat rapat berlangsung di dalam kediaman KH. Abdul Wahab Hasbullah di Surabaya, Jam’iyyah Hadrah melantunkan shalawat di luar ruangan agar pemerintah kolonial Belanda tidak mencurigai adanya pertemuan penting. Hal ini dilakukan karena pada masa itu, kegiatan rapat dan musyawarah masyarakat diawasi ketat oleh pemerintah kolonial.

Pendirian ISHARI 15 Rajab 1378/ 23 Januari 1959 M. Adapun tokoh ulama dari Nahdlatul Ulama (NU) sebagai pemrakarsa berdirinya ISHARI, antara lain:

1. KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Rais Am PBNU)

2. KH. Bisri Syamsuri (Rais PBNU)

3. KH. Idham Khalid (Ketua Tanfidz PBNU)

4. KH. Saifuddin Zuhri

5. KH. Ahmad Syaiku

6. KH. Muhammad (putra KH. Abdurrahim) Pasuruan

Irama bacaan syair dalam lingkungan ISHARI. Hal ini ada tiga jenis, antara lain:

1. Irama Juz, dimana syair mengikuti irama dua kali, dua ketukan tangan dengan tempo agak lambat secara terus menerus sampai tuntas, “tak-dik, tak-tak”. Penamaan “Juz” berati bagian, yang maksudnya bahwa dua kali, dua ketukan ini mempunyai filosofi yang sangat unik. Yakni untuk mengingat dua kalimah syahadat yang mana tidak boleh pisah dari seorang yang beriman.

2. Irama Yahum, dimana syair mengikuti irama tiga kali ketukan tangan dengan tempo lebih cepat dari irama juz sampai tuntas, “tak-dik-tak”. Penyebutan “Yahum” mengandung filosofi yang indah. Ia diambil dari kata “Ya Huwa” yang artinya “Dialah Tuhanku” 

3. Irama Tareem, dimana syair mengikuti irama tiga kali ketukan dengan tempo sangat cepat sampai tuntas, “tak-dik-tak”. Penyebutan “Tareem” diambil dari kata “Tareem” yang merupakan nama kota di Yaman. Irama Tareem ada tiga yaitu; Pertama, Tareem Inat (tak-tak-dik); Kedua, Tareem Rojaz (dik-tak-tak-tak); dan Ketiga,Tareem Biasa (tak-dik-tak) 

Adapun penjelasan filosofi pukulan atau ketukan tersebut, antara lain: 

1. Irama pukulan Juz: berbunyi “tak-dik-tak” selaras dengan notasi Hu-All-lah atau lafadz Mu-Ham-Mad.

2. Irama pukulan Yahum: merupakan simbol “Lailahaillallah” dan “Muhammadur-Rasulullah”. Dalam irama Yahum ada tiga notasi yang dipadukan yaitu: (1) krotokan (wedokan), terdiri lima hentakan “taktaktaktak-dik” yang berarti pengamalan lima rukun Islam; (2) penyela (tengahan), terdiri dari empat hentakan “tak-tak-tak-dik” yang bermakna sumber hukum Islam ada lima yaitu Al-Qur’an, Al-Hadist, Al-Ijma, Al-Qiyas; (3) pengonteng (lanangan), terdiri dari tiga hentakan “tak-dik-tak” yang bermakna pokok ajaran Islam yaitu Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf. 

3. Irama pukulan Tareem: secara umum arti filosofisnya sama dengan Yahum

 Istilah “roddat” berasal dari Bahasa Arab kata kerja roddayaruddu-roddan, yang berarti mengembalikan, membalas, dan menolak). Ada tiga hal yang dilakukan oleh seorang yang sedang roddat, yaitu: 

(1) membalas lantunan shalawat yang dikumandangkan oleh Guru Hadi; 

(2) melakukakan “raqs” (gerakan tarian khusus ISHARI); 

(3) melakukan “tashfiq” (tepuk tangan khusus ISHARI)

4. Melakukan “suluk” dalam istilah ahli tasawwuf, kalau dalam bahasa Jawa “sambat maring Gusti Allah” (mengadu kepada Allah). Adapun maksud dan tujuan raddat dalam ISHARI, antara lain: (1) gerakan dan tarian dalam raddat merupakan tasbih dan zikir kepada Allah; (2) melahirkan rasa senang dan gembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW; (3) pada saat tepuk tangan [tashfiq] dimaksudkan melahirkan rasa suka cita akan kehadiran Nabi Muhammad SAW di muka bumi ini; dan (4) suluk kecil (sambat; Bahasa Jawa) dimaksudkan untuk bermunajat dan mengadu kepada Allah serta memohon syafaat Rasulullah SAW.

Sementara itu, dalam raddat menggunakan gerakan anggota badan dibagi dua macam, yaitu:

(1) raddat badan dengan mengikutsertakan anggukan kepala diserasikan dengan notasi rebana, mengilustrasikan penulisan lafadz “Allah”

( 2) raddat badan dengan tarian tangan, mengilustrasikan penulisan lafadz “Muhammad”.

  • Penulis: Mokh Faisol
Tags

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UAS di Bulan Ramadhan, Mahasiswa STAIS Pasuruan Tetap Semangat

    • calendar_month Rab, 30 Mei 2018
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) Sekolah tinggi Agama Islam Shalahuddin (STAIS) Pasuruan di Bulan Ramadhan, Mahasiswa tetap semangat dan serius dalam mengerjakan soal ujian tersebut. “Puasa tak pernah menghentikan semangat juang dan niat menuntut ilmu. Begitu juga saat menyelesaikan Ujian Akhir Semester ini”, ujar M. Nur Holis selaku Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) usai […]

  • Mahasiswa KKN ITSNU-STAI Salahuddin Pasuruan Bantu Swastamita Pantai Lekok

    Mahasiswa KKN ITSNU-STAI Salahuddin Pasuruan Bantu Swastamita Pantai Lekok

    • calendar_month Sen, 7 Agu 2023
    • visibility 1.073
    • 0Komentar

    Lekok, NU Pasuruan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pasuruan dengan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Salahuddin Pasuruan yang tergabung dalam kelompok 15 terlibat dalam kegiatan Swastamita di Pantai Lekok, Ahad (30/7/2023). Koordinator Pelabuhan Perikanan Lekok, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur Dodit Waluyo menyampaikan, bentuk […]

  • Bahtsul Masail : Hewan Terjangkit PMK, Haram Sebagai Qurban

    Bahtsul Masail : Hewan Terjangkit PMK, Haram Sebagai Qurban

    • calendar_month Sab, 25 Jun 2022
    • visibility 995
    • 0Komentar

    Dikutip dari laman resmi MUI, mui.or.id, Komisi Fatwa MUI menetapkan bahwa hewan yang terkena Foot and Mouth Disease atau Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) gejala klinis kategori berat tidak sah untuk dijadikan hewan kurban. Hal itu disampaikan Ketua MUI Bidang Fatwa, KH Asrorun Niam Sholeh, saat memberikan paparan dalam konferensi pers Fatwa Nomor 32 Tahun […]

  • Kiai, Bu Nyai, Struktur dan Perangkat NU Pasuruan Ikuti Vaksin Booster

    Kiai, Bu Nyai, Struktur dan Perangkat NU Pasuruan Ikuti Vaksin Booster

    • calendar_month Sel, 25 Jan 2022
    • visibility 773
    • 0Komentar

    Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan menggelar Vaksinasi Booster atau Vaksinasi Dosis Ketiga untuk para Kiai dan Ibu Nyai serta jajaran struktur dan perangkat PCNU di Aula KH Ahmad Djufri Graha NU Kabupaten Pasuruan, Kecamatan Pohjentrek, Senin (24/01/2022). Kegiatan yang bekerja sama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) itu juga dalam rangka menyambut Hari Lahir (Harlah) […]

  • Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026: Jadwal, Niat, dan Hadits Lengkap

    Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026: Jadwal, Niat, dan Hadits Lengkap

    • calendar_month Rab, 20 Mei 2026
    • visibility 1.559
    • 0Komentar

    Bagi kaum Muslimin yang tidak menunaikan ibadah haji, puasa Tarwiyah dan Arafah merupakan kesempatan untuk meraih limpahan pahala dan ikut merasakan suasana spiritual para jamaah haji yang sedang menunaikan wukuf di Padang Arafah. Kedua puasa ini menjadi sarana untuk membersihkan hati, memperbanyak istighfar, dan memperkuat ketakwaan kepada Allah. Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang […]

  • Perkuat Keluarga Saat PPKM Mikro, LKKNU Kabupaten Pasuruan Bina Keluarga Ansor

    Perkuat Keluarga Saat PPKM Mikro, LKKNU Kabupaten Pasuruan Bina Keluarga Ansor

    • calendar_month Sab, 6 Mar 2021
    • visibility 608
    • 0Komentar

    Pengurus Cabang Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (PC LKKNU) Kabupaten Pasuruan bersama Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Keluarga Sakinah bertempat di Aula KH. A. Jufri Graha PCNU Kabupaten Pasuruan, Pohjentrek, Jumat, 5 Maret 2021. Kegiatan yang didukung juga oleh Kasibimas Kemenag Kabupaten Pasuruan tersebut, sebanyak 40 Keluarga dengan menerapkan […]

expand_less

Eksplorasi konten lain dari PCNU Kab. Pasuruan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca