Breaking News
light_mode

Sejarah ISHARI : Warisan Seni, Dakwah, dan Perjuangan Ulama Nusantara

  • account_circle Mokh Faisol
  • calendar_month Jum, 16 Jan 2026
  • visibility 1.821
  • comment 0 komentar

Pada awal pendiriannya, Ikatan Seni Hadrah Repbulik Indonesia (ISHARI) bernama Jam’iyyah Hadrah, yaitu sebuah perkumpulan seni rebana yang diiringi bacaan sejarah kelahiran dan perjuangan Nabi Besar Muhammad Saw. Kegiatan ini memadukan syair dari Kitab Maulid Syaroful Anam dan Kitab Diwan Al-Hadroh, disertai gerakan serta bunyian tepuk tangan yang teratur dan indah, sehingga tercipta harmoni antara lantunan shalawat dan tabuhan rebana.

Pada tahun 1918, shalawat hadrah ini dikembangkan kembali oleh KH. Abdurrokhim bin Abdul Hadi di Pasuruan. Dari tangan beliau, lahirlah kelompok-kelompok hadrah yang didirikan oleh para santrinya. Sejak saat itu, shalawatan hadrah ini dikenal luas dengan sebutan Hadrah Durahiman.

Pada masa penjajahan, ketika kebebasan berkumpul masyarakat pribumi diawasi secara ketat oleh pemerintah kolonial, kesenian hadrah memiliki peran strategis. Izin penyelenggaraan kegiatan hadrah dimanfaatkan oleh para ulama sebagai sarana konsolidasi dan musyawarah untuk membahas persoalan-persoalan keumatan. Dengan demikian, hadrah tidak hanya berfungsi sebagai kesenian, tetapi juga sebagai media perjuangan dan dakwah.

Ciri khas Jam’iyyah Hadrah tampak pada suara merdu pembawa syair, sahut-sahutan bacaan shalawat para peserta, serta gerakan-gerakan yang menandakan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. Jam’iyyah ini didirikan oleh KH. Abdurrokhim bin Abdul Hadi sekitar tahun 1918. 

Dalam struktur organisasi ISHARI, terdapat dua majelis utama, yaitu Majelis Hadi dan Majelis Tanfidziyah. Dalam perjalanannya, ISHARI mengalami berbagai cobaan dan dinamika. Bahkan, pada awal perubahan nama dari Jam’iyyah Hadrah menjadi ISHARI, terjadi pergolakan internal yang nyaris menimbulkan perpecahan. Pada rentang tahun 1959–1966, kegiatan ISHARI sempat terpecah menjadi dua.

Perjalanan ISHARI juga tidak terlepas dari dinamika organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Pada Muktamar NU ke-30 tahun 1999 di Lirboyo, ISHARI masuk dalam pembinaan LSBNU. Selanjutnya, pada Muktamar NU ke-31 tahun 2004 di Boyolali, ISHARI dipindahkan menjadi organisasi di bawah binaan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah. 

Pada Muktamar NU ke-32 di Makassar, nama ISHARI sempat tidak tercantum dalam AD/ART NU. Hingga akhirnya, pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, ISHARI secara resmi kembali menjadi Badan Otonom NU.

Seiring perkembangan zaman, Jam’iyyah Hadrah terus berkembang dan keanggotaannya semakin bertambah. Setelah wafatnya KH. Abdurrokhim, kepengasuhan Jam’iyyah ini dilanjutkan oleh putra beliau, KH. Muhammad bin Abdurrokhim. Pada tahun 1956, KH. Muhammad bin Abdurrokhim bersama Rais ‘Aam PBNU KH. Wahab Hasbullah membentuk wadah organisasi dan mendeklarasikan Jam’iyyah Hadrah menjadi ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia).

Huruf “R” (Republik) pada nama ISHARI saat itu bertujuan untuk membentengi organisasi dari pengaruh gerakan komunisme. Namun, pada Munas pertama ISHARI tahun 1995 di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, disepakati penghapusan kata Republik, sehingga nama organisasi menjadi Ikatan Seni Hadrah Indonesia.

Lebih dari sekadar komunitas seni, ISHARI memiliki peran penting dalam sejarah lahirnya Nahdlatul Ulama. Dikisahkan bahwa proses musyawarah pembentukan Komite Hijaz tahun 1926, yang menjadi cikal bakal berdirinya NU, disamarkan melalui kegiatan hadrah. Saat rapat berlangsung di dalam kediaman KH. Abdul Wahab Hasbullah di Surabaya, Jam’iyyah Hadrah melantunkan shalawat di luar ruangan agar pemerintah kolonial Belanda tidak mencurigai adanya pertemuan penting. Hal ini dilakukan karena pada masa itu, kegiatan rapat dan musyawarah masyarakat diawasi ketat oleh pemerintah kolonial.

Pendirian ISHARI 15 Rajab 1378/ 23 Januari 1959 M. Adapun tokoh ulama dari Nahdlatul Ulama (NU) sebagai pemrakarsa berdirinya ISHARI, antara lain:

1. KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Rais Am PBNU)

2. KH. Bisri Syamsuri (Rais PBNU)

3. KH. Idham Khalid (Ketua Tanfidz PBNU)

4. KH. Saifuddin Zuhri

5. KH. Ahmad Syaiku

6. KH. Muhammad (putra KH. Abdurrahim) Pasuruan

Irama bacaan syair dalam lingkungan ISHARI. Hal ini ada tiga jenis, antara lain:

1. Irama Juz, dimana syair mengikuti irama dua kali, dua ketukan tangan dengan tempo agak lambat secara terus menerus sampai tuntas, “tak-dik, tak-tak”. Penamaan “Juz” berati bagian, yang maksudnya bahwa dua kali, dua ketukan ini mempunyai filosofi yang sangat unik. Yakni untuk mengingat dua kalimah syahadat yang mana tidak boleh pisah dari seorang yang beriman.

2. Irama Yahum, dimana syair mengikuti irama tiga kali ketukan tangan dengan tempo lebih cepat dari irama juz sampai tuntas, “tak-dik-tak”. Penyebutan “Yahum” mengandung filosofi yang indah. Ia diambil dari kata “Ya Huwa” yang artinya “Dialah Tuhanku” 

3. Irama Tareem, dimana syair mengikuti irama tiga kali ketukan dengan tempo sangat cepat sampai tuntas, “tak-dik-tak”. Penyebutan “Tareem” diambil dari kata “Tareem” yang merupakan nama kota di Yaman. Irama Tareem ada tiga yaitu; Pertama, Tareem Inat (tak-tak-dik); Kedua, Tareem Rojaz (dik-tak-tak-tak); dan Ketiga,Tareem Biasa (tak-dik-tak) 

Adapun penjelasan filosofi pukulan atau ketukan tersebut, antara lain: 

1. Irama pukulan Juz: berbunyi “tak-dik-tak” selaras dengan notasi Hu-All-lah atau lafadz Mu-Ham-Mad.

2. Irama pukulan Yahum: merupakan simbol “Lailahaillallah” dan “Muhammadur-Rasulullah”. Dalam irama Yahum ada tiga notasi yang dipadukan yaitu: (1) krotokan (wedokan), terdiri lima hentakan “taktaktaktak-dik” yang berarti pengamalan lima rukun Islam; (2) penyela (tengahan), terdiri dari empat hentakan “tak-tak-tak-dik” yang bermakna sumber hukum Islam ada lima yaitu Al-Qur’an, Al-Hadist, Al-Ijma, Al-Qiyas; (3) pengonteng (lanangan), terdiri dari tiga hentakan “tak-dik-tak” yang bermakna pokok ajaran Islam yaitu Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf. 

3. Irama pukulan Tareem: secara umum arti filosofisnya sama dengan Yahum

 Istilah “roddat” berasal dari Bahasa Arab kata kerja roddayaruddu-roddan, yang berarti mengembalikan, membalas, dan menolak). Ada tiga hal yang dilakukan oleh seorang yang sedang roddat, yaitu: 

(1) membalas lantunan shalawat yang dikumandangkan oleh Guru Hadi; 

(2) melakukakan “raqs” (gerakan tarian khusus ISHARI); 

(3) melakukan “tashfiq” (tepuk tangan khusus ISHARI)

4. Melakukan “suluk” dalam istilah ahli tasawwuf, kalau dalam bahasa Jawa “sambat maring Gusti Allah” (mengadu kepada Allah). Adapun maksud dan tujuan raddat dalam ISHARI, antara lain: (1) gerakan dan tarian dalam raddat merupakan tasbih dan zikir kepada Allah; (2) melahirkan rasa senang dan gembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW; (3) pada saat tepuk tangan [tashfiq] dimaksudkan melahirkan rasa suka cita akan kehadiran Nabi Muhammad SAW di muka bumi ini; dan (4) suluk kecil (sambat; Bahasa Jawa) dimaksudkan untuk bermunajat dan mengadu kepada Allah serta memohon syafaat Rasulullah SAW.

Sementara itu, dalam raddat menggunakan gerakan anggota badan dibagi dua macam, yaitu:

(1) raddat badan dengan mengikutsertakan anggukan kepala diserasikan dengan notasi rebana, mengilustrasikan penulisan lafadz “Allah”

( 2) raddat badan dengan tarian tangan, mengilustrasikan penulisan lafadz “Muhammad”.

  • Penulis: Mokh Faisol
Tags

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Anda Sarjana? Ayo Gabung ISNU Pasuruan

    Anda Sarjana? Ayo Gabung ISNU Pasuruan

    • calendar_month Rab, 24 Agu 2022
    • visibility 546
    • 0Komentar

    Gondangwetan, NU PasuruanGerak cepat, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pasuruan membuka rekrutmen untuk kepengurusan mendatang, periode 2022-2026. Berkas pengajuan pengurus dapat dikirim paling lambat tanggal 31 Agustus 2022 dan cukup melalui WhatApp. Ketua Terpilih PC ISNU Kabupaten Pasuruan, Ahmad Adip Muhdi menjelaskan, terkait syarat menjadi pengurus harus membuat surat pernyataan bersedia […]

  • Perkuat Pengelolaan Masjid, LTM NU Pasuruan Rutin Gelar Sambang Masjid

    • calendar_month Ming, 23 Sep 2018
    • visibility 691
    • 2Komentar

    Berlanjut, Roadshow Sambang Masjid (Silaturrohim, Koordinasi, dan Konsolidasi Pengurus Masjid) Pengurus Cabang Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (PC LTM NU) Kabupaten Pasuruan sukses digelar di Masjid Baitul Muttaqin Desa Areng-Areng Sambisirah Kecamatan Woborejo, Ahad (23/9/2018). Dalam kegiatan tersebut, Mundir Muslih menekankan tiga hal utama dalam mewujudkan pengelolaan Manajemen Masjid yang Baik. “Adanya legalitas tanah masjid […]

  • Ibu-Ibu Suka Ceting Mesra, Game Cegah Stunting Mahasiswa KKN ITSNU-STAI Salahuddin Pasuruan

    Ibu-Ibu Suka Ceting Mesra, Game Cegah Stunting Mahasiswa KKN ITSNU-STAI Salahuddin Pasuruan

    • calendar_month Sel, 8 Agu 2023
    • visibility 337
    • 0Komentar

    Kejayan, NU Pasuruan Dua puluh lima (25) ibu dan dua (dua) ibu hamil di Dusun Gogoran, Desa Sladi, Kecamatan Keyajan, Kabupaten Pasuruan, merasa antusias dan menyukai Program Cegah Stunting Melalui Edukasi Ular Tangga (Ceting Mesra), Jumat (4/8/2023). Ceting Mesra merupakan inovasi Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pasuruan […]

  • Harlah NU Ke-97 PCNU Kab. Pasuruan, Ada Gerak Jalan Tempoe Doloe Khusus Perempuan

    • calendar_month Ming, 8 Mar 2020
    • visibility 744
    • 0Komentar

    Peringatan Harlah NU Ke-97 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan, salah satu rangkaian kegiatannya adalah Gerak Jalan Tempoe Doloe (Ahad, 8 Maret 2020) dan yang menjadi penanggungjawab kegiatan adalah PC MUSLIMAT NU. Salah-satu rangkaian kegiatan lainnya bisa dilihat di https://www.nupasuruan.or.id/2020/03/05/rangkaian-acara-harlah-nu-ke-97-pcnu-kabupaten-pasuruan/. Menurut Hj. Aida Fitria, M.Pd.I., Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Pasuruan, peserta mengenakan busana […]

  • Menuju Revolusi Industri 4.0, ITSNU PASURUAN Kembangkan Pembelajaran Online Bekerjasama dengan UT Jakarta

    • calendar_month Jum, 19 Okt 2018
    • visibility 349
    • 0Komentar

    Dalam rangka menjawab tantangan era revolusi industri 4.0, perguruan tinggi di Indonesia termasuk ITSNU – STAI Salahuddin Pasuruan, dituntut kesanggupannya untuk melakukan upaya transformasi digital. Segala aspek kehidupan kampus harus berubah dengan menerapkan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi (TIK), baik penerapan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) berbasis daring ataupun ‘blended learning’ hingga transformasi proses administrasi atau […]

  • SIAP: PC LFNU Kabupaten Pasuruan Gelar Rukyah Tentukan 1 Syawal 1439 H

    • calendar_month Rab, 13 Jun 2018
    • visibility 326
    • 0Komentar

    Foto: Tim Rukyah PC LFNU Kabupaten Pasuruan dalam penentuan Awal Ramadhan 1439 H (15 Mei 2018) Pengurus Cabang Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (PC LFNU) Kabupaten Pasuruan siap melaksanakan Rukyah untuk menetukan 1 Syawal 1439 H di Lapan Watukosek pada hari Kamis, 14 Juni 2018.

expand_less

Eksplorasi konten lain dari PCNU Kab. Pasuruan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca