Breaking News
light_mode

Cabang Pasuruan: Generasi Awal Kepengurusan NU di Daerah

  • account_circle Ayung Notonegoro
  • calendar_month Sel, 23 Sep 2025
  • visibility 905
  • comment 0 komentar

Mungkin tak banyak yang tahu, jika awal mula berdirinya Nahdlatul Ulama, tak serta merta langsung mendirikan kepengurusan Cabang di berbagai daerah. Meski pada proses pendiriannya dihadiri oleh segenap ulama dari Jawa-Madura, akan tetapi butuh waktu dua tahun bagi Hadratusysyekh KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar NU, untuk merestui berdirinya Cabang NU di berbagai daerah.

Sebagaimana dikabarkan dalam Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) – media resmi pertama yang diterbitkan oleh Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO/ PBNU) – kepengurusan NU di tingkat cabang baru diinisiasi pada 14 Dzulhijah 1346 H atau sekitar sekitar 4 Mei 1928 oleh Hadratusyekh KH. Hasyim Asy’ari di Jombang (SNO, Nomor 9, Tahun I, Ramadan 1346 H). Dalam artikel tersebut tertulis demikian:


Ing sak lebete sasi Dzulqaidah hadihis sanah, panjenenganipun Kiai Hasyim Tebuireng sanget hanggenipun haringka daya kados pundi wagedipun jam’iyah Nahdlatul Ulama hanggadai cabang nang pundi-pundi panggenan.


[Di dalam bulan Dzulqaidah tahun ini, Kiai Hasyim Tebuireng mengupayakan segala tenaga agar bagaimana jam’iyah Nahdlatul Ulama memiliki cabang di berbagai tempat].


Dari titah Kiai Hasyim Asy’ari tersebut, kemudian berdiri sejumlah Cabang NU generasi awal. Yakni, kepengurusan NU di daerah yang berdiri sebelum Muktamar III NU di Surabaya (8-10 September 1928). Dari data yang bisa ditelusuri, setidaknya hanya ada delapan Cabang NU saja yang diinisiasi di masa awal tersebut.


Selain Jombang pada 14 Dzulhijah 1346/ 4 Mei 1928, juga ada Surabaya (10 Muharram 1347/ 28 Juli 1928). Kemudian, disusul oleh turba dari KH. Abdul Wahab Chasbullah beserta jajaran PBNU lainnya ke Jawa Tengah. Di sini ada tiga Cabang NU yang berdiri. Yakni, Semarang (8 Rabiul Awal 1347/24 Agustus 1928), Pekalongan (9 Rabiul Awal 1347/ 25 Agustus 1928) dan Kudus (10 Rabiul Awal 1347/ 26 Agustus 1928).


Selang beberapa hari seusai di Jawa Tengah, rombongan PBNU kembali mendirikan cabang di Gresik (15 Rabiul Awal 1347/ 31 Agustus 1928) dan di Kediri (27 Rabiul Awal 1347/ 12 September 1928). Di masa-masa itu, juga dilaporkan jika sejumlah kiai di Pasuruan berkumpul untuk turut mendirikan Cabang NU pada 2 Rabiul Tsani 1347/ 12 September 1928.


Dalam pemberitaan di SNO, No. 1 Tahun II, Muharram 1347 H, tertulis kabar pendek – dengan bahasa Jawa dan aksara Pegon – demikian:


Jam’iyah Nahdlatul Ulama Pasuruan


Hing nalikane malam Selasa, 2 Rabiul Tsani 1347 sampun dipun wontenaken musyawarah hing dalemipun Kiai Mas Musthofa Kebonagung. Musyawarah hamutus netepi pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Pasuruan kados ing ngandap punika:


KH. Chuzaimi, Tambakan (Rais)
Kiai Abdurrahman, Legi (Wakil Rais)
Kiai Zainal Abidin, Gerogolan (Katib)
Kiai Mas Musthofa, Kebonagung (Mustasyar)


Insyaallah sanes dinten bade dipun wewontenaken majelis musyawarah kang kaping kalih, bade netepaken A’wan-ipun, saha bagian (lajnah Tanfidziyah).


Berita pendirian NU Cabang Pasuruan ini, memiliki keistimewaan tersendiri jika dibandingkan dengan tujuh Cabang NU yang telah berdiri sebelumnya. Jika di Jombang hingga di Kediri, musyawarah pembentukan Cabang NU langsung diinisiasi dan dihadiri oleh pengurus teras HBNO. Berbeda dengan di Pasuruan – jika mengacu ke data yang ada – justru diinisiasi secara mandiri oleh para tokoh setempat. Tanpa kehadiran personalia HBNO.


Inisiatif mandiri dari ulama-ulama Pasuruan dalam mendirikan Cabang NU di masa awal, ini menarik untuk dikaji lebih jauh. Belum ada data yang menjelaskan secara spesifik alasan sebenarnya. Namun, jika merujuk pada data-data historis tentang Pasuruan, setidaknya ada sejumlah asumsi yang bisa dikemukakan.


Sebagaimana diketahui, Pasuruan merupakan kawasan di Jawa bagian timur yang memiliki kultur keislaman lebih dahulu jika dibandingkan dengan daerah lainnya. Seperti kawasan Panarukan (Situbondo), Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi. Hal ini dikarenakan daerah Pasuruan terlebih dahulu dikuasai oleh Kerajaan Mataram Islam, tatkala daerah timurnya masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Blambangan yang Hindu. Hal ini mengakibatkan banyaknya pesantren-pesantren yang berakar kuat. Seperti Pesantren Sidogiri yang ditengarai berdiri sejak 1712, Pesantren Canga’an yang juga di sebut berdiri sejak abad 18, yang kemudian melahirkan pesantren-pesantren baru di abad 19 dan awal abad 20.


Kondisi sosio-kultural yang demikian, melahirkan umat Islam yang berpendidikan. Sehingga lebih mudah mengikuti derap zaman. Seperti halnya saat memasuki paruh pertama abad 20 yang memunculkan gairah pergerakan, sejumlah umat Islam di Pasuruan juga tak mau ketinggalan. Berbagai organisasi keislaman pun muncul.


Sependek penelusuran penulis, pada dekade 20-an, tercatat telah berdiri Sarekat Islam Pasuruan. Juga terdapat Sub-Commite Chilafat Pasuruan. Kedua organisasi ini tercatat hadir dalam Kongres Al-Islam Hindia di Surabaya pada 27 Desember 1924 (Bendera Islam, 1 Januari 1924). Pada Kongres Al-Islam Hindia di Surabaya pada 26 Agustus 1925, SI Pasuruan juga dikabarkan turut hadir pula (Bendera Islam, 28 Desember 1925).


Selain itu, juga ada Jam’iyatul Khoir yang diinisiasi oleh KH. Yasin bin Rois, pemuka Pesantren Salafiyah, Pasuruan. Perkumpulan ini, tak hanya melakukan dakwah keislaman, namun juga lebih progresif dengan mendirikan madrasah yang diberi nama Sunniyah (SNO, No. 4 Th. I). Pendirian madrasah ini, tak sekadar sebuah proses dakwah. Namun, sebagai penanda kemajuan zaman di kala saat itu, pendidikan keislaman masih amat terbatas dan dekaden. Jika kita menyimak sejarah pertumbuhan NU, lebih dahulu diawali dengan gerakan Nahdlatul Wathon dan Tasywirul Afkar yang berbasis pada pengembangan madrasah.


Latar yang demikian tersebut, menjadikan Pasuruan sebagai daerah yang memungkinkan untuk merespon dengan cepat terhadap keberadaan Nahdlatul Ulama. Hal ini, misalnya, dengan keterlibatan KH. Mas Nawawi Noerhasan dari Pesantren Sidogiri. Tokoh ini, turut terlibat dalam pendirian Nahdlatul Ulama. Bahkan, dalam catatan KH. Abdul Halim Leuwmunding disebut sebagai Mustasyar HBNO generasi awal (Choriul Anam, 1985: 70). Beliau juga tercatat hadir dalam Muktamar ke-II NU di Surabaya (11-13 September 1927) bersama dengan KH. Abdullah bin Yasin (Kepala Madrasah Sunniyah, Pasuruan) bersama dengan dua ulama lainnya yang tidak tercatat namanyar (SNO, No. 4 Th. I, Hal. 73).


Yang tak kalah menariknya dari keberadaan Cabang NU Pasuruan, selain diinisiasi secara mandiri, adalah kehadirannya di Muktamar III NU di Surabaya (8-10 September 1928) secara kelembagaan. Dalam SNO, No. 3 Tahun II, disebutkan jika pemuka ulama Pasuruan yang hadir di muktamar tersebut adalah KH. Abdurrahman (Legi). Kemudian diikuti oleh sejumlah lembaga, termasuk Cabang NU yang berdiri.


Semanten ugi rawuhipun para kiai-kiai wonten ingkang atas namine perkempalan-perkempalan kadus perkempalan Jam’iyatul Mudzakirin Jember, utawi Riyadlatu-t-Thalabah Jombang, saha Cabang Nahdlatul Ulama Semarang, Kudus, Pekalongan, Gresik, Kediri. Cabang Nahdlatul Wathon Malang. Cabang Nahdlatul Ulama Pasuruan. Nahdlatul Wathon Sidoarjo, Nashihin Surabaya, Syubbanul Wathon Surabaya……….


Dari data ini, diketahui jika pada Muktamar III tersebut hanya ada enam cabang NU yang hadir secara kelembagaan. Cabang Jombang dan Surabaya yang telah berdiri sedari awal, tak hadir secara kelembagaaan. Meski sejumlah personalianya turut hadir dalam muktamar tersebut, tapi mereka mengatasnamakan pengurus dari institusi lain. Seperti halnya Riyadlatut Thalabah di Jombang atau Syubbanul Wathon di Surabaya.


Dari sederet fakta di atas, NU Pasuruan memiliki pondasional yang kuat atas keterikatannya dengan Nahdlatul Ulama. Aktif lebih awal dan juga terus menorehkan kiprah yang luar biasa sepanjang perjalananya yang telah menapaki seratus tahun versi hijriyah ini. Meskipun, juga tak sedikit polemik-polemik yang dipantik dari Pasuruan.

Penulis: Ayung Notonegoro

  • Penulis: Ayung Notonegoro

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Produktif di Tengah Pandemi, IPNU-IPPNU Kraton Sukses Bentuk Ranting Baru

    Produktif di Tengah Pandemi, IPNU-IPPNU Kraton Sukses Bentuk Ranting Baru

    • calendar_month Sel, 22 Des 2020
    • visibility 606
    • 0Komentar

    Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC IPNU-IPPNU) Kecamatan Kraton berhasil menginisiasi terbentuknya ranting di Desa Bendungan Kecamatan Kraton untuk kali pertama. Peresmian ranting baru tersebut ditandai dengan pelantikan 22 pengurus IPNU serta 16 pengurus IPPNU masa bakti 2020-2022 oleh Pengurus Cabang yang bertempat di Mushollah Darus Suadah […]

  • Meningkat dan Terbanyak, Riset Dosen ITSNU Pasuruan Lolos Pendanaan Kemendikbudristek

    Meningkat dan Terbanyak, Riset Dosen ITSNU Pasuruan Lolos Pendanaan Kemendikbudristek

    • calendar_month Ming, 16 Jul 2023
    • visibility 462
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU Pasuruan Lima Dosen di Fakultas Teknik (FT) Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pasuruan lolos Penerimaan Proposal Penelitian Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2023. “Alhamdulillah. Tahun ini yang lolos berjumlah lima proposal. Meningkat dari tahun lalu yang lolos hanya dua,” imbuhny Dekan FT ITSNU Pasuruan Fahimatul Ulya kepada NU […]

  • Himbau Sholat Idul Fitri Pakai Masker Sekaligus Bagi Takjil Terakhir

    Himbau Sholat Idul Fitri Pakai Masker Sekaligus Bagi Takjil Terakhir

    • calendar_month Rab, 12 Mei 2021
    • visibility 257
    • 0Komentar

    Rejoso, NU PasuruanJajaran Badan Otonom (Banom) Pengurus Ranting (PR) Nahdlatul Ulama (NU) bersama Pemerintah Desa Sambirejo mengingatkan warga agar disiplin protokol kesehatan dalam pelaksanaan Sholat Idul Fitri besok pagi dan tidak mudik. Kepala Desa Sambirejo Daifah, menyampaikan terima kasih kepada Ansor dan IPNU IPPNU atas kerja bersamanya untuk mengingatkan warga agar disiplin protokol kesehatan dalam […]

  • Di PKD ke-XX, PMII Ngalah Berkomitmen Cetak Kader Loyalis Kemanusiaan

    Di PKD ke-XX, PMII Ngalah Berkomitmen Cetak Kader Loyalis Kemanusiaan

    • calendar_month Sel, 5 Jul 2022
    • visibility 710
    • 0Komentar

    Pandaan, NU Pasuruan Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ngalah Universitas Yudharta Pasuruan (UYP) menggelar Pelatihan Kader Dasar (PKD) ke-XX di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Dusun Kemlandingan, Desa Wedoro, Kecamatan Pandaan, Kamis-Ahad (30/06-03/07/2022). Ketua Pelaksana Rere Ryan Tonio menyampaikan, harapan mengusung tema pelatihan “Orang Alim adalah Orang Yang Mengamalkan Ilmunya”. “Melahirkan kader yang […]

  • Meneguhkan Sanad Perjuangan, PCNU Kab. Pasuruan Ziarah Makam Kiai Nawawi Sidogiri

    • calendar_month Kam, 5 Mar 2020
    • visibility 583
    • 0Komentar

    Momentum Harlah NU ke-97, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan menyelenggarakan beberapa kegiatan. Salah-satunya adalah kegiatan Ziarah Muassis NU. Rute pertama, ziarah ke makam Kiai Nawawi Sidogiri. Menurut KH. Imron Mutamakkin, selaku Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pasuruan, kita harus terus meneruskan pesan Kiai Nawawi Sidogiri ketika Beliau bersedia menjadi pengurus NU saat diminta oleh […]

  • Sukses, 3500 Siswa TK/RA Binaan Muslimat NU Pasuruan Ikuti Parade Manasik Haji

    • calendar_month Sel, 11 Sep 2018
    • visibility 571
    • 0Komentar

    Ikatan Guru RA/TK Muslimat NU (IGRAMNU/IGTKMNU) Kecamatan Tutur, Purwodadi, Purwosari dan Sukorejo, berikan pembelajaran Rukun Islam yang Kelima kepada peserta didik melalui Parade Manasik Haji kelas kanak-kanak, Senin (10/9) di Kebon Raya Purwodadi. Kegiatan yang diikuti oleh 3500 siswa-siswi dari 90 TK/RA binaan Muslimat NU ini, dibuka langsung oleh ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU kabupaten […]

expand_less

Eksplorasi konten lain dari PCNU Kab. Pasuruan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca