Di Hadapan Maba UNU Pasuruan, Ning Sheila Minta Fokus Kuliah & Persiapkan Diri Menikah
- account_circle Makhfud Syawaludin
- calendar_month 54 menit yang lalu
- visibility 16
- comment 0 komentar

Pohjentrek, NU Pasuruan
Ning Sheila Hasina Zamzami mengajak mahasiswa baru (Maba) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan untuk memanfaatkan masa kuliah sebagai ruang belajar sekaligus mempersiapkan kematangan diri sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Pesan tersebut disampaikan Ning Sheila dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Talk Show Fikih Relasi Gen Z opada sesi penutupan Masa Orientasi dan Ta’aruf (Maorinta), Rabu malam (16/09/2026). Giat ini berkolaborasi dengan Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdatul Ulama (LDNU) Kabupaten Pasuruan.
Menurutnya, masa mahasiswa merupakan fase penting untuk membangun pengetahuan, pengalaman, dan kematangan pribadi. Karena itu, mahasiswa tidak perlu tergesa-gesa memikirkan pernikahan tanpa terlebih dahulu membekali diri dengan ilmu dan kesiapan yang memadai.
“Teman-teman masuk di usia belajar, fokus belajar, sebelum nanti masuk di usia pernikahan. Pernikahan itu butuh ilmu dan kematangan. Perlu mempersiapkan diri untuk memasuki masa pernikahan,” kata Alumni Pesantren Mubtadi’at Lirboyo Kediri itu.
Ning Sheila menjelaskan bahwa mempersiapkan diri menuju pernikahan tidak berhenti pada persoalan mencari pasangan. Lebih dari itu, seseorang perlu terlebih dahulu membangun kualitas dirinya agar mampu menjalani kehidupan rumah tangga dengan kematangan.
Menurutnya, proses memperbaiki diri selama masa belajar merupakan bagian dari persiapan tersebut. Mahasiswa dapat menggunakan fase ini untuk memperkuat ilmu, membangun karakter, serta belajar memahami dan mengelola relasi dengan orang lain.
“Perbaiki diri maka Allah akan memperbaiki jodoh kalian,” pungkas Alumni Pondok Pesantren Al-Ishom Jepara tersebut.
Cinta Membawa Kebaikan, Nafsu Sebaliknya
Dalam talk show tersebut, Ning Sheila juga mengajak mahasiswa memahami perbedaan antara cinta (mahabbah) dan nafsu. Menurutnya, cinta yang benar tidak seharusnya menjadi alasan seseorang melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai agama.
“Cinta tidak membuat seseorang berbuat dosa. Kalau berbuat dosa, itu namanya nafsu,” tegas influencer muda yang dikenal fasih di konten fikih perempuan kekinian itu.
Ia menjelaskan bahwa cinta memiliki pengaruh kuat terhadap tindakan seseorang. Apa yang dicintai akan cenderung mendapatkan perhatian, didekati, dan diikuti. Karena itu, mahasiswa perlu berhati-hati dalam menentukan apa yang mereka cintai, termasuk melalui apa yang dikonsumsi di media sosial.
“Cinta itu akan menentukan tindakan seseorang. Ketika kita mencintai seseorang, kita akan menjadi hambanya,” ungkap Pengasuh Ponpes Baytil Quran Lirboyo Kediri itu.
Menurut Ning Sheila, perkembangan media sosial membuat seseorang semakin mudah berinteraksi dengan berbagai macam konten. Intensitas melihat dan mengonsumsi konten tertentu, apabila tidak disertai kemampuan menyaring, dapat memengaruhi cara pandang dan sikap seseorang.
“Cinta itu muncul karena sering kita lihat dan sering mengkonsumsi kontennya. Kemudian akan menirunya. Atau minimal akan mengiyakan dan mengatakan tidak berdasar opini yang dibangun,” jelasnya.
Karena itu, ia mengingatkan mahasiswa agar memiliki kontrol terhadap apa yang mereka lihat dan konsumsi setiap hari. Menurutnya, persoalan bermedia sosial tidak hanya berkaitan dengan durasi penggunaan, tetapi juga dengan bagaimana seseorang mengelola hati dan menentukan hal-hal yang dekat dengan dirinya.
“Menjadi bahaya, kalau kita tidak bisa mengontrol apa saja yang sering kita lihat,” imbuh putri dari Pengasuh Pondok Pesantren Al Baqarah, KH. Hasan Syukri Zamzami Lirboyo dan Nyai Hj. Hannah Zamzami tersebut.
Ia pun mengajak Gen Z untuk memastikan bahwa hal-hal yang dicintai dan sering hadir dalam kehidupan mereka merupakan sesuatu yang membawa kebaikan. Dengan demikian, kedekatan dengan sesuatu yang baik diharapkan turut membentuk perilaku yang baik.
“Kita bermedsos, harus mengkondisikan perasaan kita itu seperti apa. Kalau kita mencintai sesuatu, pastikan itu hal baik. Sehingga ketika kita sering melihatnya, menjadi ikut baik,” tutur Khafidzah di usia 13 tahun tersebut.
Mahabbah Menjadi Bekal dalam Belajar
Ning Sheila selanjutnya mengaitkan cinta dengan proses belajar mahasiswa. Menurutnya, seseorang akan lebih mudah menjalani suatu aktivitas apabila telah memiliki kecintaan terhadap hal yang dikerjakannya.
Dalam konteks mahasiswa, kecintaan terhadap ilmu dan proses belajar dapat menjadi bekal agar aktivitas akademik tidak hanya dijalani sebagai kewajiban, tetapi juga dengan kesadaran dan kerelaan.
“Bekal melakukan sesuatu adalah mahabbah. Kalau kamu cinta, maka akan kamu lalui dengan suka rela,” ujar perempuan kelahiran 30 Januari 1997 tersebut.
Namun, ia menyadari bahwa tidak semua hal yang dipelajari seseorang langsung disukai. Karena itu, mahasiswa perlu belajar mengondisikan hati agar tetap terbuka terhadap ilmu yang sedang dipelajari.
“Belajar mengkondisikan hati saat kita mempelajari sesuatu yang belum kita cintai,” pesan istri dari Cak Mad alias Gus Ahmad Kafabihi Mahrus itu.
Pesan tersebut menjadi bagian dari bekal bagi mahasiswa baru dalam memasuki kehidupan perkuliahan. Selain membangun kemampuan akademik, mereka juga diajak untuk belajar mengelola hati, memilih lingkungan, menyaring konsumsi media sosial, serta memahami relasi secara lebih dewasa.
Penulis: Makhfud Syawaludin
- Penulis: Makhfud Syawaludin

Saat ini belum ada komentar