PP Darumafatihil Ulum Berduka, Kiai Nur Ismail Djasim yang Istiqamah Membina Warga dan Santri, Wafat
- account_circle Makhfud Syawaludin
- calendar_month 37 menit yang lalu
- visibility 38
- comment 0 komentar

Gondangwetan, NU Pasuruan
Kabar duka datang dari keluarga besar Pondok Pesantren (PP) Darumafatihil Ulum Podokaton (DMU), Kabupaten Pasuruan, Rabu (16/9/2026). Salah satu pengasuh pesantren, Kiai Nur Ismail Djasim telah wafat.
Kepergian Almaghfurlah meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, para santri, alumni, dan masyarakat yang selama ini mengenal sosoknya.
Salah seorang alumni, Ustadz Samsul Arifin, mengenang Almaghfurlah sebagai sosok yang istiqamah dalam mengabdikan diri pada kegiatan keagamaan. Di tengah masyarakat, Almaghfurlah dikenal tekun menghidupkan amaliyah shalawat dan khotmil Quran.
“Amaliyah yang paling beliau tekuni ialah shalawat dan khotmil Quran. Beliau mengabdikan diri untuk kegiatan tersebut. Itu yang saya lihat di masyarakat,” ujarnya kepada NU Pasuruan, Rabu (16/09/2026).
Sementara di lingkungan pesantren, Almaghfurlah dikenal istiqamah mengontrol berbagai kegiatan santri. Ia juga meluangkan waktu untuk menyimak santri yang sedang menghafalkan kitab Sullam Taufiq.
Wakil Sekretaris Aswaja NU Center Kabupaten Pasuruan itu menambahkan, salah satu pesan Almaghfurlah yang paling membekas disampaikan saat sambutan pada kegiatan haul yang digelar beberapa waktu lalu. Ia berpesan agar umat Islam tidak meninggalkan shalat dan mengaji serta tidak mudah mengikuti berbagai hal yang sedang viral.
“Jangan tinggalkan shalat dan mengaji. Jangan mengikuti hal yang viral di masa kini. Tidak semua yang viral itu baik,” tuturnya mengingat kembali pesan Almaghfurlah.
Bagi Samsul, pesan tersebut menggambarkan perhatian Almaghfurlah terhadap kehidupan keagamaan generasi muda di tengah perkembangan zaman.
Ia juga mengenang Almaghfurlah sebagai sosok yang sabar dalam mendidik santri. Menurutnya, Almaghfurlah tidak pernah membentak santri, termasuk ketika mendapati mereka melakukan kesalahan.
“Beliau sangat sabar. Sekalipun tidak pernah membentak santri, beliau selalu hormat kepada tamu yang datang,” ungkapnya.
Jika menemukan santri yang melakukan kesalahan, lanjut Samsul, Almaghfurlah memilih memberikan nasihat dengan bahasa yang lembut. Bahkan, teguran tidak selalu disampaikan secara langsung kepada santri yang bersangkutan agar tidak membuatnya merasa malu.
“Kalau ada santri yang salah, beliau memberitahu dengan lembut. Bahkan tidak secara langsung menyalahkan santri, tetapi memberi tahu dengan bahasa yang umum sehingga santri yang salah tidak malu,” kenangnya.
Sosok Almaghfurlah juga dikenang masyarakat sebagai seorang pendakwah yang tegas ketika menyampaikan persoalan-persoalan keagamaan. Dalam ceramahnya, ia tidak segan mengingatkan masyarakat mengenai berbagai perilaku yang dinilai bertentangan dengan ajaran Islam, seperti membuka aurat dan meninggalkan shalat.
“Meski tegas dalam menyampaikan pesan keagamaan di tengah masyarakat, keteladanan Almaghfurlah dalam mendidik santri justru tampak melalui kelembutan, kesabaran, dan penghormatan kepada orang lain,” tutup santri DMU dari tahun 2006-2015 tersebut.
Diketahui, jenazah Mustasyar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gondangwetan dijadwalkan dimakamkan pada pukul 11.00 waktu istiwa di pemakaman keluarga Pondok Pesantren Darumafatihil Ulum Podokaton, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan.
Penulis: Makhfud Syawaludin
- Penulis: Makhfud Syawaludin

Saat ini belum ada komentar