KH Imron Mutamakkin Ingatkan Warga NU Jangan Mudah Diadu
- account_circle Mokh Faisol
- calendar_month 30 menit yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar

Purwodadi, NU Pasuruan
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan KH Imron Mutamakkin mengingatkan warga NU agar tidak mudah terprovokasi oleh isu yang dapat memecah belah persatuan, termasuk isu yang mempertentangkan antarkelompok dan tokoh agama.
Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri istighosah Jumat Legi yang digelar PCNU Kabupaten Pasuruan di Masjid Nurul Islam Capang, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jumat (11/9/2026).
Ia mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir masyarakat kerap dihadapkan pada berbagai isu yang berpotensi mengadu kelompok satu dengan lainnya. Karena itu, warga NU diminta tetap menjaga hubungan baik dan tidak mudah memberikan penilaian secara generalisasi.
“Kalau salah satu Gus NU melakukan sesuatu, kemudian NU dianggap rusak semua, kan tidak. Begitu juga kalau salah satu Gus melakukan sesuatu, kemudian seluruh keturunannya dianggap rusak, kan tidak,” ujarnya.
Menurut Gus Ipong sapaan akrabnya mengatakan persoalan yang dilakukan seseorang merupakan tanggung jawab personal dan tidak semestinya dibebankan kepada kelompok atau komunitas secara keseluruhan.
” Para pengurus NU harus3 lebih bijak dalam menyikapi perkembangan media sosial,” tambahnya.
Menurutnya, popularitas seorang tokoh di media sosial tidak seharusnya menjadi satu-satunya pertimbangan ketika mengundang penceramah.“Kalau mengundang orang jangan hanya melihat viralnya saja. Dampaknya juga harus dilihat seluruhnya,” tegasnya.Dirinya menekankan, pengajian seharusnya menjadi ruang untuk memberikan pemahaman keagamaan dan membentuk masyarakat agar menjadi lebih baik. Bukan sekadar menghadirkan hiburan atau membuat masyarakat tertawa.
“Perlunya kita mengadakan pengajian itu untuk menerangkan hukum-hukum Allah dan menjadikan orang lebih baik,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, pengasuh Pondok pesantren besuk tersebut juga mengingatkan pentingnya menempatkan budaya dan kesenian secara proporsional dalam kehidupan masyarakat.Menurutnya, budaya dan kesenian dapat dikembangkan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.
“Kalau tidak bertentangan dengan syariat, tidak apa-apa. Tetapi kalau bertentangan dengan syariat, tidak bisa,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa NU memiliki tanggung jawab untuk mendampingi masyarakat agar tidak hanya memperoleh kemaslahatan kehidupan dunia, tetapi juga keselamatan di akhirat.Karena itu, setiap program dan gerakan NU harus tetap diarahkan pada visi dan misi organisasi, yakni menyebarluaskan syariat Islam berdasarkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
“Kalau syariat menjadi masalah, seharusnya pengurus yang pertama bereaksi,” tuturnya.
Namun demikian, ia mengingatkan agar tujuan yang baik tetap ditempuh melalui cara-cara yang baik. Jangan sampai upaya memperjuangkan kebaikan justru dilakukan dengan tindakan yang tidak baik.
“Kalau kita ingin menargetkan sesuatu yang baik, maka digunakan dengan cara-cara yang baik,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dirinya mendorong MWCNU agar semakin aktif mengembangkan dakwah di wilayah masing-masing.Menurutnya, MWCNU memiliki peran penting dalam mengoordinasikan potensi tokoh agama, kader, dan lulusan pesantren yang berada di lingkungan setempat.
“Tidak usah terlalu banyak (mendatangkan dari luar), kita manfaatkan orang-orang di sekitar. Untuk pengajian-pengajian rutin yang ada di ranting, mari kita manfaatkan potensi yang ada di sini,” pungkasnya.
- Penulis: Mokh Faisol

Saat ini belum ada komentar