Breaking News
light_mode

Ramadlan, Iklan Sirup dan Kapitalisasi Agama

  • account_circle NU Pasuruan
  • calendar_month Jum, 23 Apr 2021
  • visibility 426
  • comment 0 komentar

Hampir bisa dipastikan. Jika iklan sirup sudah berkali-kali ditayangkan di televisi, itu berarti Ramadlan sebentar lagi menjelang. Jika televisi mulai berlomba-lomba menayangkan program pengajian dan produk apapun dihubung-hubungkan dengan ibadah, fix Ramadlan telah menjelang.

Menjalankan ibadah Ramadhan di negeri ini, bisa jadi godaannya lebih gawat daripada di negara minoritas Muslim, sekali pun. Mengapa? Karena konseptor iklan di negeri ini terlalu kreatif. Orang Islam akan tersugesti untuk berpesta ketika Ramadlan.

Mengamati dunia periklanan di berbagai media massa, ada kesan jika kaum Muslimin di negeri ini begitu konsumtif dan Ramadlan berlaku hanya sebagai pengubah jadwal konsumsi. Termasuk ketika iklan makanan dan minum itu agak memaksa, rasanya masih bisa diterima nalar.

Berbeda jika produk semacam oli mesin, shampo, pembersih lantai, paket data internet apalagi obat kuat dihubung-hubungkan dengan ibadah Ramadlan. Selain kurang kreatif bisa juga memberi kesan kurang elegan. Ada sedikit kesan mengolok-ngolok karena para pengiklan itu merangsang diadakannya pesta, justru saat kaum Muslimin sedang berpuasa.

Pembaca pun, semestinya tersenyum geli jika produsen permen karet menawarkan produknya sebagai menu berbuka puasa. Bukankah begitu?

Namun, dalam paham kapitalisme memang tidak dikenal rumus etika apalagi nalar kepantasan. Apa saja boleh diiklankan. Dijual dan keuntungan sebagai tujuan utama. Lebih mulia dari apapun. Kaum kapitalis juga terindikasi memiliki selera humor yang kaku karena mengiklankan pasta gigi, obat kumur, suplemen makanan, obat lambung bahkan kwaci saja harus dihubung-hubungkan dengan ibadah.

Kita telah menyepakati toleransi dan kerukunan beragama. Bahkan akhir-akhir ini, setelah usaha disintegrasi bangsa digencarkan oleh berbagai pihak, kita kian yakin jika menghormati prosesi ibadah umat lain tak bisa ditawar lagi.

Dan, kapitalisasi agama selama Ramadlan oleh berbagai produsen di berbagai media massa, alangkah baiknya jika dihentikan. Semua harusnya orang tahu. Selama Ramadlan umat Islam dididik untuk mengendalikan nafsu konsumtif seefektif mungkin. Dan gempuran iklan yang memanfaatkan ritual suatu agama, bagaimana pun akan mengendap di alam pikiran bawah sadar.

Kapitalisasi juga sering berlaku dalam dunia “dakwah” sejak entah beberapa puluh tahun lalu. Terutama oleh pemilik stasiun televisi sebagai media massa paling akrab dengan konsumen iklan di negeri ini. Berbagai program berbau dakwah dikemas sedemikian rupa dengan menghadirkan nara sumber yang juga berpaham kapitalisme.

Sehingga, materi dakwah yang seharusnya dijadikan rujukan oleh orang awam, hanya disampaikan oleh pembicara yang tidak begitu ahli di bidangnya. Ibukota pun, dengan senang hati mensuplai ulama-ulama hasil framing sebagaimana preman tobat, muallaf, selebriti banting setir bahkan komedian sepi job.

Ini seharusnya disikapi oleh lembaga berwenang seperti Komisi Penyiaran Indonesia. Tentu dengan melibatkan ormas keagamaan moderat. Mengapa? Karena mayoritas penduduk negeri ini Muslim dan merekalah konsumen terbesar siaran televisi beserta iklannya. Menampilkan para dai yang ketenarannya belum sebanding dengan kualitas keilmuannya, bisa menimbulkan dampak sangat serius bagi kaum Muslimin.

Ide sertifikasi ulama yang beberapa waktu lalu pernah didengungkan pemerintah, sepertinya memang urgen. Yakni menangkal radikalisme yang disusupkan dalam agenda dakwah. Selanjutnya sebagai jaminan bagi orang Islam agar mempelajari Islam dari sumber yang kompeten dan layak dijadikan rujukan.

Dalam pengamatan penulis, meski era internet hampir menggusur tuntas peran televisi, radio serta koran, di kalangan akar rumput televisi masih cukup digemari. Televisi masih memegang peran penting dalam menyampaikan informasi, termasuk program dakwah di bulan Ramadhan seperti sekarang.

Jika para pemilik stasiun televisi hanya mengedepankan rating tanpa memperhatikan kualitas nara sumber program dakwah atau semacamnya, kaum Muslimin bisa mengkritisi bahkan menggugat mereka karena mengabaikan hak pemirsa untuk mendapatkan tayangan bermutu.

Selain kedua hal di atas, hampir semua produsen menawarkan produknya seakan dalam rangka menunjang terlaksananya ibadah Ramadhan dengan lancar. Sayangnya, produk-produk yang tak ada keterkaitan secara langsung dengan ibadah Ramadhan pun, ikut-ikutan mencomot “berkah” bulan suci umat Muslim ini. Misalnya saja apa yang dilakukan oleh penyedia paket data jaringan internet. Secara nalar, program menggratiskan kuota internet di malam hari tak ada kaitannya secara langsung dalam meningkatkan kualitas ibadah kaum Muslimin.

Bahkan sebaliknya, bisa menghamburkan waktu yang semestinya digunakan untuk meningkatkan ibadah seperti tadarrus, tarawih serta qiyamul lail. Demikian pula misalnya dengan iklan pembersih lantai yang diklaim dapat menambah kekhusyukan shalat karena sujud akan terasa nyaman oleh wangi lantai. Ini kurang logis karena hampir semua tempat ibadah telah menggunakan sejadah.

Apakah memproduksi iklan dengan tema serta tujuan seperti di atas melanggar hukum? Tentu saja tidak karena produk hukum kita belum disusun secara detail dan seserius itu. Namun jika dirunut secara adil, hal itu mengandung pesan tersembunyi sebagai berikut:

Pertama. Kaum Muslimin sebagai mayoritas terkesan menjadi objek eksploitasi para kapitalis, bahkan saat mereka melaksanakan ibadah.

Kedua. Secara tidak langsung, entah sengaja atau tidak, kaum kapitalis “mengolok-olok” ritual Ramadlan. Mengapa bisa? Karena Ramadlan yang merupakan bulan paling sakral dalam mengolah kualitas hidup kaum Muslimin. Berhasil “direcoki” dengan iming-iming konsumerisme tanpa ambang batas. Kita tahu, Ramadlan bisa dikatakan semacam hari raya Nyepi bagi umat Hindu. Alangkan intoleransinya jika kaum kapitalis tetap saja “menggoda” kaum Muslimin dalam kekhusyukan ibadah tahunan ini.

Ketiga. Jika kapitalisme memang benar-benar “tak ada urusan” dengan ritual keagamaan suatu umat beragama, mengapa di bulan Ramadlan mereka mengkapitalisasi segala hal atas nama ibadah? Itu jelas hanya hanya untuk keuntungan belaka. Semoga analisa tulisan ini salah dan tak berdasar.

Penulis: Abdur RozaqAlumni PMII, Pemilik IBRA FATIH 18 Channel

Editor: Makhfud Syawaludin

  • Penulis: NU Pasuruan

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Optimalisasi Media Pesantren, IKMAL Putri Al-Yasini Gelar ToT Jurnalistik

    Optimalisasi Media Pesantren, IKMAL Putri Al-Yasini Gelar ToT Jurnalistik

    • calendar_month Sab, 2 Mar 2024
    • visibility 475
    • 0Komentar

    Wonorejo, NU Pasuruan Ikatan Kader Mahasiswa Al-Yasini (IKMAL) Putri menggelar Training of Trainer (ToT) Jurnalistik di Gedung Majelis Ta’lim Lantai 2, Kompleks Pondok Pesantren Terpadu Alyasini (PPTA), Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, Jumat (01/03/2024). Ketua IKMAL Putri Nur Chofifah menyampaikan, tujuan ToT untuk menggugah semangat anggota dan pengurus dalam menulis serta optimalisasi media pesantren. Kegiatan itu […]

  • Perkuat Syiar & Dakwah Islam di Medsos, IPNU-IPPNU ITSNU-STAIS Pasuruan Gelar Workshop Desain

    Perkuat Syiar & Dakwah Islam di Medsos, IPNU-IPPNU ITSNU-STAIS Pasuruan Gelar Workshop Desain

    • calendar_month Sen, 28 Des 2020
    • visibility 549
    • 0Komentar

    Saat ini, media sosial sudah menjadi garda terdepan sebagai sarana syiar dan dakwah Islam. Sayangnya, konten yang terkait dengan syiar dan dakwah Islam di media sosial, masih didominasi oleh kelompok intoleran bahkan radikal ekstrimis. Menyadari itu dan dalam rangka membentuk kader-kader yang melek teknologi, Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan […]

  • Semarakkan Program Selama Ramadhan, NU Pasuruan Briefing Menulis Berita

    Semarakkan Program Selama Ramadhan, NU Pasuruan Briefing Menulis Berita

    • calendar_month Sab, 1 Mar 2025
    • visibility 524
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU Pasuruan Kelompok Kerja (Pokja) Ramadhan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan menggelar Briefing Menulis Berita Ramadhan 1446 H di Ruang Rapat Lantai 2 Graha NU Pasuruan, Desa Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, Jumat (28/02/2025). Ketua Pokja Ramadhan Gus H Abdul Ghofur berharap, semua kegiatan yang dilakukan oleh pengurus NU, Badan Otonom (Banom), dan lembaga […]

  • Kiai Muzakki Tidak Pernah Absen Mengajar di Pondok Pesantren Sidogiri Selama 40 Tahun

    Kiai Muzakki Tidak Pernah Absen Mengajar di Pondok Pesantren Sidogiri Selama 40 Tahun

    • calendar_month Sel, 24 Okt 2023
    • visibility 526
    • 0Komentar

    Gondangwetan, NU Pasuruan Rois Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan KH Muzakki Birul Alim merupakan sosok ulama yang tidak pernah absen mengajar di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Hal itu diungkapkan oleh KH Mujib Imron pada saat memberikan tausiyah dihadapkan para jamaah yang melayat di Pondok Pesantren Hidayatullah, Desa Tampung, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, […]

  • Puncak Satu Abad NU Pasuruan, KH Imron Mutamakkin Ajak Warga NU Jaga Kekompakan dan Warisan Perjuangan

    Puncak Satu Abad NU Pasuruan, KH Imron Mutamakkin Ajak Warga NU Jaga Kekompakan dan Warisan Perjuangan

    • calendar_month Sen, 3 Nov 2025
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU Pasuruan Puncak peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) Pasuruan berlangsung khidmat di area Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan, Kamis (30/10/2025). Kegiatan ini digelar oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan bersama Majelis Syubanul Muslimin, dan dihadiri ribuan warga nahdliyin dari berbagai wilayah. Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan, KH Imron Mutamakkin, dalam sambutannya menegaskan […]

  • Di MaPABa, PMII Jaka Tingkir Perkuat Potensi & Posisi Agent of Change Mahasiswa

    Di MaPABa, PMII Jaka Tingkir Perkuat Potensi & Posisi Agent of Change Mahasiswa

    • calendar_month Sen, 7 Nov 2022
    • visibility 341
    • 0Komentar

    Purwodadi, NU PasuruanPengurus Rayon (PR) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jaka Tingkir, Universitas Yudharta Pasuruan, menggelar Masa Penerimaan Anggota Baru (MaPABa), Jumat-Ahad (4-6/11/2022). Kegiatan dipusatkan di Kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Purwodadi, Jalan Bumi Lapangan Idah, Dusun Sembung Kidul, Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Ketua PR PMII Jaka Tingkir, Kiky Sakhi Amalia […]

expand_less

Eksplorasi konten lain dari PCNU Kab. Pasuruan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca