Breaking News
light_mode

Ramadlan, Iklan Sirup dan Kapitalisasi Agama

  • account_circle NU Pasuruan
  • calendar_month Jum, 23 Apr 2021
  • visibility 557
  • comment 0 komentar

Hampir bisa dipastikan. Jika iklan sirup sudah berkali-kali ditayangkan di televisi, itu berarti Ramadlan sebentar lagi menjelang. Jika televisi mulai berlomba-lomba menayangkan program pengajian dan produk apapun dihubung-hubungkan dengan ibadah, fix Ramadlan telah menjelang.

Menjalankan ibadah Ramadhan di negeri ini, bisa jadi godaannya lebih gawat daripada di negara minoritas Muslim, sekali pun. Mengapa? Karena konseptor iklan di negeri ini terlalu kreatif. Orang Islam akan tersugesti untuk berpesta ketika Ramadlan.

Mengamati dunia periklanan di berbagai media massa, ada kesan jika kaum Muslimin di negeri ini begitu konsumtif dan Ramadlan berlaku hanya sebagai pengubah jadwal konsumsi. Termasuk ketika iklan makanan dan minum itu agak memaksa, rasanya masih bisa diterima nalar.

Berbeda jika produk semacam oli mesin, shampo, pembersih lantai, paket data internet apalagi obat kuat dihubung-hubungkan dengan ibadah Ramadlan. Selain kurang kreatif bisa juga memberi kesan kurang elegan. Ada sedikit kesan mengolok-ngolok karena para pengiklan itu merangsang diadakannya pesta, justru saat kaum Muslimin sedang berpuasa.

Pembaca pun, semestinya tersenyum geli jika produsen permen karet menawarkan produknya sebagai menu berbuka puasa. Bukankah begitu?

Namun, dalam paham kapitalisme memang tidak dikenal rumus etika apalagi nalar kepantasan. Apa saja boleh diiklankan. Dijual dan keuntungan sebagai tujuan utama. Lebih mulia dari apapun. Kaum kapitalis juga terindikasi memiliki selera humor yang kaku karena mengiklankan pasta gigi, obat kumur, suplemen makanan, obat lambung bahkan kwaci saja harus dihubung-hubungkan dengan ibadah.

Kita telah menyepakati toleransi dan kerukunan beragama. Bahkan akhir-akhir ini, setelah usaha disintegrasi bangsa digencarkan oleh berbagai pihak, kita kian yakin jika menghormati prosesi ibadah umat lain tak bisa ditawar lagi.

Dan, kapitalisasi agama selama Ramadlan oleh berbagai produsen di berbagai media massa, alangkah baiknya jika dihentikan. Semua harusnya orang tahu. Selama Ramadlan umat Islam dididik untuk mengendalikan nafsu konsumtif seefektif mungkin. Dan gempuran iklan yang memanfaatkan ritual suatu agama, bagaimana pun akan mengendap di alam pikiran bawah sadar.

Kapitalisasi juga sering berlaku dalam dunia “dakwah” sejak entah beberapa puluh tahun lalu. Terutama oleh pemilik stasiun televisi sebagai media massa paling akrab dengan konsumen iklan di negeri ini. Berbagai program berbau dakwah dikemas sedemikian rupa dengan menghadirkan nara sumber yang juga berpaham kapitalisme.

Sehingga, materi dakwah yang seharusnya dijadikan rujukan oleh orang awam, hanya disampaikan oleh pembicara yang tidak begitu ahli di bidangnya. Ibukota pun, dengan senang hati mensuplai ulama-ulama hasil framing sebagaimana preman tobat, muallaf, selebriti banting setir bahkan komedian sepi job.

Ini seharusnya disikapi oleh lembaga berwenang seperti Komisi Penyiaran Indonesia. Tentu dengan melibatkan ormas keagamaan moderat. Mengapa? Karena mayoritas penduduk negeri ini Muslim dan merekalah konsumen terbesar siaran televisi beserta iklannya. Menampilkan para dai yang ketenarannya belum sebanding dengan kualitas keilmuannya, bisa menimbulkan dampak sangat serius bagi kaum Muslimin.

Ide sertifikasi ulama yang beberapa waktu lalu pernah didengungkan pemerintah, sepertinya memang urgen. Yakni menangkal radikalisme yang disusupkan dalam agenda dakwah. Selanjutnya sebagai jaminan bagi orang Islam agar mempelajari Islam dari sumber yang kompeten dan layak dijadikan rujukan.

Dalam pengamatan penulis, meski era internet hampir menggusur tuntas peran televisi, radio serta koran, di kalangan akar rumput televisi masih cukup digemari. Televisi masih memegang peran penting dalam menyampaikan informasi, termasuk program dakwah di bulan Ramadhan seperti sekarang.

Jika para pemilik stasiun televisi hanya mengedepankan rating tanpa memperhatikan kualitas nara sumber program dakwah atau semacamnya, kaum Muslimin bisa mengkritisi bahkan menggugat mereka karena mengabaikan hak pemirsa untuk mendapatkan tayangan bermutu.

Selain kedua hal di atas, hampir semua produsen menawarkan produknya seakan dalam rangka menunjang terlaksananya ibadah Ramadhan dengan lancar. Sayangnya, produk-produk yang tak ada keterkaitan secara langsung dengan ibadah Ramadhan pun, ikut-ikutan mencomot “berkah” bulan suci umat Muslim ini. Misalnya saja apa yang dilakukan oleh penyedia paket data jaringan internet. Secara nalar, program menggratiskan kuota internet di malam hari tak ada kaitannya secara langsung dalam meningkatkan kualitas ibadah kaum Muslimin.

Bahkan sebaliknya, bisa menghamburkan waktu yang semestinya digunakan untuk meningkatkan ibadah seperti tadarrus, tarawih serta qiyamul lail. Demikian pula misalnya dengan iklan pembersih lantai yang diklaim dapat menambah kekhusyukan shalat karena sujud akan terasa nyaman oleh wangi lantai. Ini kurang logis karena hampir semua tempat ibadah telah menggunakan sejadah.

Apakah memproduksi iklan dengan tema serta tujuan seperti di atas melanggar hukum? Tentu saja tidak karena produk hukum kita belum disusun secara detail dan seserius itu. Namun jika dirunut secara adil, hal itu mengandung pesan tersembunyi sebagai berikut:

Pertama. Kaum Muslimin sebagai mayoritas terkesan menjadi objek eksploitasi para kapitalis, bahkan saat mereka melaksanakan ibadah.

Kedua. Secara tidak langsung, entah sengaja atau tidak, kaum kapitalis “mengolok-olok” ritual Ramadlan. Mengapa bisa? Karena Ramadlan yang merupakan bulan paling sakral dalam mengolah kualitas hidup kaum Muslimin. Berhasil “direcoki” dengan iming-iming konsumerisme tanpa ambang batas. Kita tahu, Ramadlan bisa dikatakan semacam hari raya Nyepi bagi umat Hindu. Alangkan intoleransinya jika kaum kapitalis tetap saja “menggoda” kaum Muslimin dalam kekhusyukan ibadah tahunan ini.

Ketiga. Jika kapitalisme memang benar-benar “tak ada urusan” dengan ritual keagamaan suatu umat beragama, mengapa di bulan Ramadlan mereka mengkapitalisasi segala hal atas nama ibadah? Itu jelas hanya hanya untuk keuntungan belaka. Semoga analisa tulisan ini salah dan tak berdasar.

Penulis: Abdur Rozaq, Alumni PMII, Pemilik IBRA FATIH 18 Channel

Editor: Makhfud Syawaludin

  • Penulis: NU Pasuruan

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peduli Kekeringan, PCNU Kab. Pasuruan Bantu Air Bersih ke Desa

    • calendar_month Sen, 28 Okt 2019
    • visibility 328
    • 0Komentar

    Kabupaten Pasuruan sedang mengalami musim kemarau panjang. Tahun ini cukup parah, sehingga mengakibatkan beberapa wilayah di kabupaten pasuruan mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Diantaranya wilayah kecamatan Lumbang, Pasrepan, lekok dan Kejayan. Atas dasar persaudaraan dan rasa tanggung jawab moral kepada sesama umat, pada hari Ahad, 27 Oktober 2019, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten […]

  • Silaturahmi Alim Ulama, PCNU Kabupaten Pasuruan Siap Sukseskan Tiga Agenda Unggulan

    • calendar_month Ming, 10 Jun 2018
    • visibility 576
    • 0Komentar

    Melalui Kegiatan Silaturahmi Alim Ulama, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan memohon doa restu dan bantuan kerjasama semua pengurus NU, agar komitmen PCNU dalam mensukseskan tiga agenda unggulan terdekatnya bisa berjalan dengan lancar.

  • Niat Puasa Ramadhan: Wajib Setiap Malam atau Cukup Sekali?

    Niat Puasa Ramadhan: Wajib Setiap Malam atau Cukup Sekali?

    • calendar_month Kam, 19 Feb 2026
    • visibility 499
    • 0Komentar

    Niat merupakan salah satu rukun yang wajib dilakukan setiap Muslim yang hendak berpuasa. Dalam puasa wajib seperti puasa Ramadhan, qada, dan nazar, seseorang harus berniat di malam hari sebelum terbit fajar.Berbeda halnya puasa sunnah, yang lebih longgar, seseorang boleh baru berniat di siang harinya. Ulama mazhab empat sepakat bahwa puasa Ramadhan wajib dimulai dengan niat. […]

  • Bikin Logo, Cara Mahasiswa ITSNU Pasuruan Kenalkan Tape Khas Desa Kenduruan

    Bikin Logo, Cara Mahasiswa ITSNU Pasuruan Kenalkan Tape Khas Desa Kenduruan

    • calendar_month Sen, 28 Feb 2022
    • visibility 747
    • 0Komentar

    Sukorejo, NU PasuruanMahasiswa Institut teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pasuruan yang tergabung dalam kelompok Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) membantu warga dalam membranding produk Tape Khas Desa Kenduruan, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan. Koordinator Kegiatan Lailatul maulidiyah menjelaskan, mayoritas masyarakat adalah pembuat tape. Sehingga Desa Kenduruan disebut Kampung Tape. Hanya saja, belum ada logo produk […]

  • Himbau Sholat Idul Fitri Pakai Masker Sekaligus Bagi Takjil Terakhir

    Himbau Sholat Idul Fitri Pakai Masker Sekaligus Bagi Takjil Terakhir

    • calendar_month Rab, 12 Mei 2021
    • visibility 288
    • 0Komentar

    Rejoso, NU PasuruanJajaran Badan Otonom (Banom) Pengurus Ranting (PR) Nahdlatul Ulama (NU) bersama Pemerintah Desa Sambirejo mengingatkan warga agar disiplin protokol kesehatan dalam pelaksanaan Sholat Idul Fitri besok pagi dan tidak mudik. Kepala Desa Sambirejo Daifah, menyampaikan terima kasih kepada Ansor dan IPNU IPPNU atas kerja bersamanya untuk mengingatkan warga agar disiplin protokol kesehatan dalam […]

  • Visitasi ITSNU Jadi UNU, Ketua PCNU Pasuruan Ungkap Landasan Berdirinya Kampus

    Visitasi ITSNU Jadi UNU, Ketua PCNU Pasuruan Ungkap Landasan Berdirinya Kampus

    • calendar_month Rab, 19 Jul 2023
    • visibility 838
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU Pasuruan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan KH Imron Mutamakkin mengungkapkan, landasan PCNU mendirikan Perguruan Tinggi (PT). Tak lain upaya menjalan perintah para muasis Jam’iyah NU setempat. Hal itu ditegaskan dalam Visitasi usul Perubahan Institut Teknologi Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pasuruan menjadi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan di Ruang Rapat Gedung […]

expand_less

Eksplorasi konten lain dari PCNU Kab. Pasuruan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca