Breaking News
light_mode

Ramadlan, Iklan Sirup dan Kapitalisasi Agama

  • account_circle NU Pasuruan
  • calendar_month Jum, 23 Apr 2021
  • visibility 531
  • comment 0 komentar

Hampir bisa dipastikan. Jika iklan sirup sudah berkali-kali ditayangkan di televisi, itu berarti Ramadlan sebentar lagi menjelang. Jika televisi mulai berlomba-lomba menayangkan program pengajian dan produk apapun dihubung-hubungkan dengan ibadah, fix Ramadlan telah menjelang.

Menjalankan ibadah Ramadhan di negeri ini, bisa jadi godaannya lebih gawat daripada di negara minoritas Muslim, sekali pun. Mengapa? Karena konseptor iklan di negeri ini terlalu kreatif. Orang Islam akan tersugesti untuk berpesta ketika Ramadlan.

Mengamati dunia periklanan di berbagai media massa, ada kesan jika kaum Muslimin di negeri ini begitu konsumtif dan Ramadlan berlaku hanya sebagai pengubah jadwal konsumsi. Termasuk ketika iklan makanan dan minum itu agak memaksa, rasanya masih bisa diterima nalar.

Berbeda jika produk semacam oli mesin, shampo, pembersih lantai, paket data internet apalagi obat kuat dihubung-hubungkan dengan ibadah Ramadlan. Selain kurang kreatif bisa juga memberi kesan kurang elegan. Ada sedikit kesan mengolok-ngolok karena para pengiklan itu merangsang diadakannya pesta, justru saat kaum Muslimin sedang berpuasa.

Pembaca pun, semestinya tersenyum geli jika produsen permen karet menawarkan produknya sebagai menu berbuka puasa. Bukankah begitu?

Namun, dalam paham kapitalisme memang tidak dikenal rumus etika apalagi nalar kepantasan. Apa saja boleh diiklankan. Dijual dan keuntungan sebagai tujuan utama. Lebih mulia dari apapun. Kaum kapitalis juga terindikasi memiliki selera humor yang kaku karena mengiklankan pasta gigi, obat kumur, suplemen makanan, obat lambung bahkan kwaci saja harus dihubung-hubungkan dengan ibadah.

Kita telah menyepakati toleransi dan kerukunan beragama. Bahkan akhir-akhir ini, setelah usaha disintegrasi bangsa digencarkan oleh berbagai pihak, kita kian yakin jika menghormati prosesi ibadah umat lain tak bisa ditawar lagi.

Dan, kapitalisasi agama selama Ramadlan oleh berbagai produsen di berbagai media massa, alangkah baiknya jika dihentikan. Semua harusnya orang tahu. Selama Ramadlan umat Islam dididik untuk mengendalikan nafsu konsumtif seefektif mungkin. Dan gempuran iklan yang memanfaatkan ritual suatu agama, bagaimana pun akan mengendap di alam pikiran bawah sadar.

Kapitalisasi juga sering berlaku dalam dunia “dakwah” sejak entah beberapa puluh tahun lalu. Terutama oleh pemilik stasiun televisi sebagai media massa paling akrab dengan konsumen iklan di negeri ini. Berbagai program berbau dakwah dikemas sedemikian rupa dengan menghadirkan nara sumber yang juga berpaham kapitalisme.

Sehingga, materi dakwah yang seharusnya dijadikan rujukan oleh orang awam, hanya disampaikan oleh pembicara yang tidak begitu ahli di bidangnya. Ibukota pun, dengan senang hati mensuplai ulama-ulama hasil framing sebagaimana preman tobat, muallaf, selebriti banting setir bahkan komedian sepi job.

Ini seharusnya disikapi oleh lembaga berwenang seperti Komisi Penyiaran Indonesia. Tentu dengan melibatkan ormas keagamaan moderat. Mengapa? Karena mayoritas penduduk negeri ini Muslim dan merekalah konsumen terbesar siaran televisi beserta iklannya. Menampilkan para dai yang ketenarannya belum sebanding dengan kualitas keilmuannya, bisa menimbulkan dampak sangat serius bagi kaum Muslimin.

Ide sertifikasi ulama yang beberapa waktu lalu pernah didengungkan pemerintah, sepertinya memang urgen. Yakni menangkal radikalisme yang disusupkan dalam agenda dakwah. Selanjutnya sebagai jaminan bagi orang Islam agar mempelajari Islam dari sumber yang kompeten dan layak dijadikan rujukan.

Dalam pengamatan penulis, meski era internet hampir menggusur tuntas peran televisi, radio serta koran, di kalangan akar rumput televisi masih cukup digemari. Televisi masih memegang peran penting dalam menyampaikan informasi, termasuk program dakwah di bulan Ramadhan seperti sekarang.

Jika para pemilik stasiun televisi hanya mengedepankan rating tanpa memperhatikan kualitas nara sumber program dakwah atau semacamnya, kaum Muslimin bisa mengkritisi bahkan menggugat mereka karena mengabaikan hak pemirsa untuk mendapatkan tayangan bermutu.

Selain kedua hal di atas, hampir semua produsen menawarkan produknya seakan dalam rangka menunjang terlaksananya ibadah Ramadhan dengan lancar. Sayangnya, produk-produk yang tak ada keterkaitan secara langsung dengan ibadah Ramadhan pun, ikut-ikutan mencomot “berkah” bulan suci umat Muslim ini. Misalnya saja apa yang dilakukan oleh penyedia paket data jaringan internet. Secara nalar, program menggratiskan kuota internet di malam hari tak ada kaitannya secara langsung dalam meningkatkan kualitas ibadah kaum Muslimin.

Bahkan sebaliknya, bisa menghamburkan waktu yang semestinya digunakan untuk meningkatkan ibadah seperti tadarrus, tarawih serta qiyamul lail. Demikian pula misalnya dengan iklan pembersih lantai yang diklaim dapat menambah kekhusyukan shalat karena sujud akan terasa nyaman oleh wangi lantai. Ini kurang logis karena hampir semua tempat ibadah telah menggunakan sejadah.

Apakah memproduksi iklan dengan tema serta tujuan seperti di atas melanggar hukum? Tentu saja tidak karena produk hukum kita belum disusun secara detail dan seserius itu. Namun jika dirunut secara adil, hal itu mengandung pesan tersembunyi sebagai berikut:

Pertama. Kaum Muslimin sebagai mayoritas terkesan menjadi objek eksploitasi para kapitalis, bahkan saat mereka melaksanakan ibadah.

Kedua. Secara tidak langsung, entah sengaja atau tidak, kaum kapitalis “mengolok-olok” ritual Ramadlan. Mengapa bisa? Karena Ramadlan yang merupakan bulan paling sakral dalam mengolah kualitas hidup kaum Muslimin. Berhasil “direcoki” dengan iming-iming konsumerisme tanpa ambang batas. Kita tahu, Ramadlan bisa dikatakan semacam hari raya Nyepi bagi umat Hindu. Alangkan intoleransinya jika kaum kapitalis tetap saja “menggoda” kaum Muslimin dalam kekhusyukan ibadah tahunan ini.

Ketiga. Jika kapitalisme memang benar-benar “tak ada urusan” dengan ritual keagamaan suatu umat beragama, mengapa di bulan Ramadlan mereka mengkapitalisasi segala hal atas nama ibadah? Itu jelas hanya hanya untuk keuntungan belaka. Semoga analisa tulisan ini salah dan tak berdasar.

Penulis: Abdur Rozaq, Alumni PMII, Pemilik IBRA FATIH 18 Channel

Editor: Makhfud Syawaludin

  • Penulis: NU Pasuruan

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Terpilih Secara Aklamasi, Ini Visi Misi Saiful Akbar Sebagai Ketua PC IPNU Pasuruan

    Terpilih Secara Aklamasi, Ini Visi Misi Saiful Akbar Sebagai Ketua PC IPNU Pasuruan

    • calendar_month Jum, 25 Okt 2024
    • visibility 1.518
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU Pasuruan Saiful Akbar terpilih sebagai Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Pasuruan masa khidmat 2024-2026. ia terpilih secara aklamasi pada saat Konferensi Cabang (Konfercab) ke XX di Aula KH Ahmad Djufri, PCNU Kabupaten Pasuruan (23-24/10/2024). Alumni Institut Teknologi Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pasuruan tersebut memiliki visi mendigdayakan IPNU Kabupaten […]

  • Cara Mahasiswa UNU STAI Salahuddin Pasuruan Cipta Suasana Belajar Menyenangkan

    Cara Mahasiswa UNU STAI Salahuddin Pasuruan Cipta Suasana Belajar Menyenangkan

    • calendar_month Kam, 14 Sep 2023
    • visibility 621
    • 0Komentar

    Lekok, NU Pasuruan Kuliah Kerja Nyata Kolaboratif (KKN-K) Institut Teknologi Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Salahuddin Pasuruan Kelompok 8 mengelar pendampingan belajar di Desa Tambak, Kecamatan, Lekok Kabupaten Pasuruan, Selasa (25/7/2023). Nur Linda Toyyibah Koordinator Progam KKN-K mengatakan, tujuan dari kegiatan ini adalah kurangnya fasilitas pembelajaran sehingga, meyebabkan kurangnya minat terhadap […]

  • Sore Ini, LFNU Pasuruan Lakukan Rukyatul Hilal Awal Syawal di Pondok Dalwa dan Bayt Al Hikmah

    Sore Ini, LFNU Pasuruan Lakukan Rukyatul Hilal Awal Syawal di Pondok Dalwa dan Bayt Al Hikmah

    • calendar_month Sel, 9 Apr 2024
    • visibility 1.047
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU Pasuruan Lokasi Rukyatul Hilal di Kabupaten Pasuruan untuk penentuan Awal Bulan Syawal 1445 H/2024 M akan digelar di dua tempat pertama Pondok Pesantren Dalwa, Bangil Pasuruan kedua Pondok Pesantren Bayt Al-Hikmah Kota Pasuruan, Selasa (9/04/2024). Sekertaris Pengurus Cabang (PC) Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Kabupaten Pasuruan Ustad M Rusdi mengatakan bahwasanya penentuan bulan […]

  • Mahasiswa ITSNU Pasuruan Bantu Penanganan Banjir Selama Seminggu, Dari Terpeleset Hingga Dijodohkan

    Mahasiswa ITSNU Pasuruan Bantu Penanganan Banjir Selama Seminggu, Dari Terpeleset Hingga Dijodohkan

    • calendar_month Jum, 25 Feb 2022
    • visibility 295
    • 0Komentar

    Rejoso, NU PasuruanMahasiswa Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pasuruan Mukhammad Fery Ardiansyah menceritakan, pengalamannya saat melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) di Desa Jarangan, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. “Seminggu lebih di lokasi KKN hanya membantu penanganan banjir. Luar biasa,” imbuhnya kepada NU Pasuruan, Kamis (24/02/2022). Ia lalu menjelaskan, bahwa teman-teman kelompoknya terbagi menjadi […]

  • NU Pasuruan Gelar Refleksi Hari Santri, Kenang Perjuangan Ulama dan Pejuang Hizbullah

    NU Pasuruan Gelar Refleksi Hari Santri, Kenang Perjuangan Ulama dan Pejuang Hizbullah

    • calendar_month Jum, 24 Okt 2025
    • visibility 412
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU Pasuruan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan menggelar Refleksi Hari Santri Nasional 2025 di Pendopo Nyawiji Ngesti Wenganing Gusti, Kabupaten Pasuruan, Kamis (23/10/2025). Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan, Gus Abdullah Nasih Nashor, dalam sambutannya menjelaskan bahwa penetapan Hari Santri oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2015 merupakan bentuk […]

  • Peduli Kesehatan, Rijalul Ansor Pasuruan Gelar Sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan

    • calendar_month Sel, 7 Agu 2018
    • visibility 320
    • 0Komentar

    Pengurus Rijalul Ansor Kabupaten Pasuruan, gelar Sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan dalam rangkaian kegiatan Rutin Hotmil Qur’an bertempat di Kantor Koperasi Sahabat Maslahat Kejayan, Senin (6/8/2018) Menurut Muhamad Farid Sauqi, Rijalul Ansor tidak hanya menjadi tempat kader untuk melestarikan dan mengaplikasikan ajaran Ahlussunnah An-Nahdliyah, seperti Hotmil Qur’an, Sholawatan dan Istighosah. Dalam kegiatan kali ini diadakan pula sosialisasi […]

expand_less

Eksplorasi konten lain dari PCNU Kab. Pasuruan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca