Breaking News
light_mode

KH Wahid Hasyim, Potret Santri Milenial

  • account_circle NU Pasuruan
  • calendar_month Sel, 8 Des 2020
  • visibility 364
  • comment 0 komentar

Era milenial ditandai dengan pola perilaku dan pola pikir yang berbeda seiring dengan perkembangan teknologi dan arus informasi yang pesat. Bahkan dalam dunia industri, karya dan produk berupaya disesuaikan dengan karakter generasi milenial yang salah satunya menyukai sesuatu yang serba cepat dan instan. Meski demikian, generasi milenial juga memiliki sifat kritis terhadap fenomena dan perubahan sosial dan bisa melakukan sendiri secara sekaligus sejumlah pekerjaan atau multitasking.

Budaya milenial tidak hanya merambah generasi dan komunitas tertentu saja, tetapi juga merambah santri sebagai elemen dan komunitas penting bangsa ini. Bahkan, santri telah sejak lama terbiasa dengan pola pemikiran dan kehidupan mandiri. Meskipun hidup mondok di pesantren, kehidupan santri tidak tercerabut dengan akar sosial masyarakatnya. Hal inilah yang membuat lembaga pesantren dibutuhkan perannya oleh masyarakat, termasuk ketika bangsa Indonesia jatuh-bangun berupaya melepaskan diri dari kolonialisme Belanda dan Jepang.

Karakter santri yang inklusif atau terbuka juga relatif mampu beradaptasi terhadap setiap perubahan zaman. Terbukti saat ini ketika santri tidak hanya mumpuni dalam bidang-bidang ilmu agama, tetapi juga menggeluti bisnis, mengembangkan industri pertanian, desain grafis, editing video, pembuatan jaringan online atau websitae, aplikasi android, startup, dan pengembangan media. Kritis terhadap perubahan sosial dan multitasking merupakan karakter penting dalam kehidupan para santri.

Santri yang sangat menonjol di era pergerakan nasional ialah KH Abdul Wahid Hasyim (1914-1953). Putra KH Hasyim Asy’ari ini tidak hanya memiliki jiwa organisatoris tinggi, tetapi mampu menangkap dan menyikapi perubahan zaman untuk memperkuat diplomasi dengan pihak penjajah. Dia juga ikut andil dalam merumuskan dasar negara Pancasila. Ia merupakan prototipe produk pesantren yang melampaui zamannya, pemikirannya cemerlang, mempunyai jiwa pemimpin, termasuk ketika harus bersilang pendapat dengan ayahnya sendiri dalam menyikapi perlawanan kultural terhadap penjajah.

Sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah, KH Hasyim Asy’ari dahulu pernah mengeluarkan fatwa haram untuk memakai semua identitas penjajah, termasuk pakaian. Jadi konteksnya melakukan perlawanan kultural terhadap penjajah. Fatwa ini diambil Kiai Hasyim Asy’ari agar spirit perlawanan terhadap penjajah tumbuh di dada bangsa Indonesia, terutama para santri. Hal ini cukup efektif karena Belanda maupun Jepang dibuat kocar-kacir sehingga gerak-gerik kalangan pesantren disoroti betul oleh penjajah.

Pakaian yang dilarang oleh KH Hasyim Asy’ari untuk melakukan perlawanan kultural di antaranya celana, jas, dasi. Selain itu, KH Hasyim Asy’ari juga melarang pesantren untuk mempelajari ilmu-ilmu umum, tak terkecuali bahasa Inggris dan Belanda. Perlu dipertegas di sini bahwa konteksnya melakukan perlawanan kultural. Sehingga penting mendudukkan konteks saat itu ketika masyarakat melihat perkembangan zaman modern dan era milenial saat ini.

Tetapi, melihat perubahan sosial-masyarakat dan kondisi saat itu, KH Wahid Hasyim ingin mereformasi langkah yang sudah dibuat oleh ayahnya. Karena bangsa Indonesia tidak mungkin memahami gerakan-gerakan penjajah jika tidak mengerti bahasa mereka. Sehingga bahasa penjajah juga menurut Kiai Wahid Hasyim perlu dipelajari. Begitu juga dengan pakaian sebagai sebuah identitas. Untuk keperluan diplomasi, pakaian seperti celana dan jas penting dikenakan agar penjajah lebih bersikap terbuka karena secara kultural identitasnya dipakai.

Tidak ingin terlalu memperdebatkan pendapat anaknya, KH Hasyim Asy’ari justru merasa senang Kiai Wahid Hasyim memiliki progresivitas pemikiran sendiri. Karena langkah tersebut tidak hanya berhenti pada gagasan, tetapi juga dilaksanakan secara nyata, bahkan ketika Kiai Wahid berupaya melakukan diplomasi dengan Jepang untuk membebaskan Kiai Hasyim dari penjara.

Perjuangan melawan pendudukan Jepang bagi santri dan ulama pesantren tidak kalah sulit. Apalagi ketika salah satu guru para ulama di Jawa, KH Hasyim Asy’ari ditangkap Jepang karena tuduhan mengada-ada. Kontak fisik dan senjata kerap terjadi, diplomasi dan perundingan terus dilakukan, sembari melakukan riyadhoh-rohani untuk meminta kekuatan, perlindungan, pertolongan Yang Maha Kuasa.

Dari jalan cukup panjang dalam melakukan perlawanan terhadap penjajahan Jepang, KH Wahid Hasyim dalam banyak kesempatan seringkali menjelaskan isi ramalan Ronggowarsito tentang Joyoboyo, bahwa Jepang hanya seumur jagung dalam menduduki Indonesia. (KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren, 2001).

Kepercayaan tersebut ditegaskan oleh Kiai Wahid Hasyim harus menjadi dorongan untuk berjuang. Ayah Gus Dur tersebut mengatakan, “Namun, diinsyafkan kepada masyarakat bahwa perjuangan hendaklah jangan disandarkan pada ramalan-ramalan. Perjuangan itu harus disandarkan kepada penyusunan kekuatan lahir dan batin, pengorganisasian, dan tawakkal kepada Allah SWT.” Ini menunjukkan sikap kritis Kiai Wahid Hasyim pada zamannya.

Dalam upaya menggerakkan masyarakat melakukan perlawanan itu, Kiai Wahid Hasyim kerap mengunjungi daerah-daerah. Di Jakarta Kiai Wahid bekerja sama dengan tokoh-tokoh nasional dan kalangan pemuda. Di daerah-daerah, beliau mempunyai anak buah dari kalangan supir truk, bengkel mobil, kondektur kereta api, dan pedagang keliling untuk melakukan tugas-tugas penghubung. Selain itu, hubungan, jaringan, dan koneksi dengan dunia pesantren tambah diperkuat. Konsolidasi tak biasa dari ‘Pasukan Rakyat Jelata’.

Suatu hari, seorang Pemuda Ansor Jakarta bernama Fatoni memberitahukan kepada KH Saifuddin Zuhri bahwa seorang petani bernama Husin minta berjumpa dengan KH Wahid Hasyim. Akhirnya kedua orang ini bertemu dan cukup lama mengadakan pembicaraan. Setelah petani itu pergi, Kiai Wahid memberitahukan kepada Kiai Saifuddin Zuhri bahwa petani tersebut tak lain adalah Tan Malaka, orang terkemuka dalam memimpin gerakan di bawah tanah melawan Jepang, guru Adam Malik dan Chaerul Saleh. (KH Saifuddin Zuhri, 2001: 274)

“Ente jangan lupa, Nabi kita Muhammad SAW pernah mengatakan, Al-Harbu Khid’ah, bahwa peperangan selamanya penuh dengan tipu muslihat.” Pernyataan tersebut dikatakan oleh KH Abdul Wahid Hasyim ketika membincang strategi perjuangan menghadapi penjajah Nippon atau Jepang dengan Konsul Nahdlatul Ulama wilayah Kedu, KH Saifuddin Zuhri pada tahun 1943.

Alakullihal, era milenial saat ini tidak bisa dihindari masyarakat. Namun kearifan para ulama sekaligus ajaran-ajarannya tidak boleh dilepaskan untuk memperkuat fondasi pemikiran dan akhlak sehingga generasi milenial tidak tergelincir oleh derasnya arus informasi. Karakter milenial yang multitasking dan kritis terhadap perubahan sosial perlu dipertahankan tapi juga tidak boleh kritis buta, yakni tanpa dasar dan tanpa kroscek mendalam sehingga yang muncul destruksi akal sehat dan kebencian.

Sumber: nu.or.id

  • Penulis: NU Pasuruan

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hari Santri, Aswaja NU Center Gelar Seminar dan Bedah Buku

    Hari Santri, Aswaja NU Center Gelar Seminar dan Bedah Buku

    • calendar_month Sen, 23 Okt 2023
    • visibility 449
    • 0Komentar

    Phojentrek, NU Pasuruan Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional HSN 2023, Pimpinan Cabang PC Aswaja NU Center (Asnuter) Kabupaten Pasuruan mengelar seminar Aswaja dan bedah buku benteng Aswaja di Aula KH Ahmad Djufri Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan, Kamis (19/10/2023). Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan KH Imron Mutamakkin mengatakan, tujuan didirikannya NU adalah mensyiarkan […]

  • Dorong Guru Inovatif Mengajar Aswaja, Ma’arif NU Pasuruan Gelar Workshop Reaktualisasi Kurikulum

    Dorong Guru Inovatif Mengajar Aswaja, Ma’arif NU Pasuruan Gelar Workshop Reaktualisasi Kurikulum

    • calendar_month Jum, 14 Jul 2023
    • visibility 376
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU Pasuruan Pengurus Cabang (PC) Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul ULama (LP Maarif NU) Kabupaten Pasuruan mendorong guru di sekolah dan madrasah yang dinaunginya untuk mampu melakukan inovasi pembelajaran Aswaja. Hal itu dilaksanakan di kegiatan Workshop Reaktualisasi Kurikulum Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di Aula KH Ahmad Djufri, Graha NU Kabupaten Pasuruan, Jalan Raya Warungdowo, Kecamatan […]

  • Sinergi dalam Publikasi Ilmiah ISNU Pasuruan  Tekan MoU Dengan LP Ma’arif NU Kabupaten Malang

    Sinergi dalam Publikasi Ilmiah ISNU Pasuruan Tekan MoU Dengan LP Ma’arif NU Kabupaten Malang

    • calendar_month Jum, 24 Mei 2024
    • visibility 360
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU Pasuruan Pengurus Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pasuruan menggelar Memorandum of Understanding (MoU) dengan Lembaga Pendidikan LP Ma’arif NU Kabupaten Malang dalam hal riset dan publikasi ilmiah di kantor LP Ma’arif setempat, Kamis (24/05/2024).Dalam acara tersebut ISNU Kabupaten Pasuruan ingin bersinergi dalam hal penulisan ilmiah dan riset dalam mewujudkan salah […]

  • NU Peduli  dan LAZISNU Pasuruan Gelar Pengobatan Gratis di Kecamatan Kraton

    NU Peduli  dan LAZISNU Pasuruan Gelar Pengobatan Gratis di Kecamatan Kraton

    • calendar_month Sel, 5 Nov 2024
    • visibility 374
    • 0Komentar

    Kraton, NU Pasuruan NU Peduli Kabupaten Pasuruan dan Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten menggelar bakti sosial  pengobatan gratis di Desa Kalirejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan Gus M Nawawi mengatakan, kegiatan NU Peduli akan rutin digelar setiap bulan bergilir setiap MWCNU naungan PCNU Kabupaten  Pasuruan sebagai […]

  • KH. M. Sholeh Bahruddin: NU Tidak Punya Sejarah Benturan dengan Pemerintah

    • calendar_month Ming, 3 Feb 2019
    • visibility 455
    • 0Komentar

    KH. M. Sholeh Bahruddin, pengasuh Pondok Pesantren Ngalah Purwosari Pasuruan Jawa Timur, menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) tidak punya sejarah berbenturan dengan Pemerintah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). “NU tidak pernah benturan dengan pemerintah NKRI, mulai berdiri sampai sakniki (sekarang). Siapapun presidennya,” jelasnya saat memberikan Mauidhotul Hasanah dalam acara rutin minggu pagi Manaqib dan Dzikrul […]

  • Peduli Pendidikan Santri Dhuafa Berprestasi, Lazisnu Kab. Pasuruan Punya Beasiswa Sabila

    Peduli Pendidikan Santri Dhuafa Berprestasi, Lazisnu Kab. Pasuruan Punya Beasiswa Sabila

    • calendar_month Rab, 16 Des 2020
    • visibility 256
    • 0Komentar

    Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kabupaten Pasuruan memiliki Program Khusus kaitannya dengan Pendidikan. Yakni, Program Beasiswa Sabila (Santri Binaan Lazisnu). Program NU peduli pendidikan tersebut masih diprioritaskan bagi para santri dhuafa yang berprestasi dan sedang menempuh pendidikan di lembaga pendidikan dalam Pondok Pesantren. Selain itu, Beasiswa Sabila ini merupakan bagian dari sinergitas […]

expand_less

Eksplorasi konten lain dari PCNU Kab. Pasuruan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca