Breaking News
light_mode

KH Wahid Hasyim, Potret Santri Milenial

  • account_circle NU Pasuruan
  • calendar_month Sel, 8 Des 2020
  • visibility 494
  • comment 0 komentar

Era milenial ditandai dengan pola perilaku dan pola pikir yang berbeda seiring dengan perkembangan teknologi dan arus informasi yang pesat. Bahkan dalam dunia industri, karya dan produk berupaya disesuaikan dengan karakter generasi milenial yang salah satunya menyukai sesuatu yang serba cepat dan instan. Meski demikian, generasi milenial juga memiliki sifat kritis terhadap fenomena dan perubahan sosial dan bisa melakukan sendiri secara sekaligus sejumlah pekerjaan atau multitasking.

Budaya milenial tidak hanya merambah generasi dan komunitas tertentu saja, tetapi juga merambah santri sebagai elemen dan komunitas penting bangsa ini. Bahkan, santri telah sejak lama terbiasa dengan pola pemikiran dan kehidupan mandiri. Meskipun hidup mondok di pesantren, kehidupan santri tidak tercerabut dengan akar sosial masyarakatnya. Hal inilah yang membuat lembaga pesantren dibutuhkan perannya oleh masyarakat, termasuk ketika bangsa Indonesia jatuh-bangun berupaya melepaskan diri dari kolonialisme Belanda dan Jepang.

Karakter santri yang inklusif atau terbuka juga relatif mampu beradaptasi terhadap setiap perubahan zaman. Terbukti saat ini ketika santri tidak hanya mumpuni dalam bidang-bidang ilmu agama, tetapi juga menggeluti bisnis, mengembangkan industri pertanian, desain grafis, editing video, pembuatan jaringan online atau websitae, aplikasi android, startup, dan pengembangan media. Kritis terhadap perubahan sosial dan multitasking merupakan karakter penting dalam kehidupan para santri.

Santri yang sangat menonjol di era pergerakan nasional ialah KH Abdul Wahid Hasyim (1914-1953). Putra KH Hasyim Asy’ari ini tidak hanya memiliki jiwa organisatoris tinggi, tetapi mampu menangkap dan menyikapi perubahan zaman untuk memperkuat diplomasi dengan pihak penjajah. Dia juga ikut andil dalam merumuskan dasar negara Pancasila. Ia merupakan prototipe produk pesantren yang melampaui zamannya, pemikirannya cemerlang, mempunyai jiwa pemimpin, termasuk ketika harus bersilang pendapat dengan ayahnya sendiri dalam menyikapi perlawanan kultural terhadap penjajah.

Sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah, KH Hasyim Asy’ari dahulu pernah mengeluarkan fatwa haram untuk memakai semua identitas penjajah, termasuk pakaian. Jadi konteksnya melakukan perlawanan kultural terhadap penjajah. Fatwa ini diambil Kiai Hasyim Asy’ari agar spirit perlawanan terhadap penjajah tumbuh di dada bangsa Indonesia, terutama para santri. Hal ini cukup efektif karena Belanda maupun Jepang dibuat kocar-kacir sehingga gerak-gerik kalangan pesantren disoroti betul oleh penjajah.

Pakaian yang dilarang oleh KH Hasyim Asy’ari untuk melakukan perlawanan kultural di antaranya celana, jas, dasi. Selain itu, KH Hasyim Asy’ari juga melarang pesantren untuk mempelajari ilmu-ilmu umum, tak terkecuali bahasa Inggris dan Belanda. Perlu dipertegas di sini bahwa konteksnya melakukan perlawanan kultural. Sehingga penting mendudukkan konteks saat itu ketika masyarakat melihat perkembangan zaman modern dan era milenial saat ini.

Tetapi, melihat perubahan sosial-masyarakat dan kondisi saat itu, KH Wahid Hasyim ingin mereformasi langkah yang sudah dibuat oleh ayahnya. Karena bangsa Indonesia tidak mungkin memahami gerakan-gerakan penjajah jika tidak mengerti bahasa mereka. Sehingga bahasa penjajah juga menurut Kiai Wahid Hasyim perlu dipelajari. Begitu juga dengan pakaian sebagai sebuah identitas. Untuk keperluan diplomasi, pakaian seperti celana dan jas penting dikenakan agar penjajah lebih bersikap terbuka karena secara kultural identitasnya dipakai.

Tidak ingin terlalu memperdebatkan pendapat anaknya, KH Hasyim Asy’ari justru merasa senang Kiai Wahid Hasyim memiliki progresivitas pemikiran sendiri. Karena langkah tersebut tidak hanya berhenti pada gagasan, tetapi juga dilaksanakan secara nyata, bahkan ketika Kiai Wahid berupaya melakukan diplomasi dengan Jepang untuk membebaskan Kiai Hasyim dari penjara.

Perjuangan melawan pendudukan Jepang bagi santri dan ulama pesantren tidak kalah sulit. Apalagi ketika salah satu guru para ulama di Jawa, KH Hasyim Asy’ari ditangkap Jepang karena tuduhan mengada-ada. Kontak fisik dan senjata kerap terjadi, diplomasi dan perundingan terus dilakukan, sembari melakukan riyadhoh-rohani untuk meminta kekuatan, perlindungan, pertolongan Yang Maha Kuasa.

Dari jalan cukup panjang dalam melakukan perlawanan terhadap penjajahan Jepang, KH Wahid Hasyim dalam banyak kesempatan seringkali menjelaskan isi ramalan Ronggowarsito tentang Joyoboyo, bahwa Jepang hanya seumur jagung dalam menduduki Indonesia. (KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren, 2001).

Kepercayaan tersebut ditegaskan oleh Kiai Wahid Hasyim harus menjadi dorongan untuk berjuang. Ayah Gus Dur tersebut mengatakan, “Namun, diinsyafkan kepada masyarakat bahwa perjuangan hendaklah jangan disandarkan pada ramalan-ramalan. Perjuangan itu harus disandarkan kepada penyusunan kekuatan lahir dan batin, pengorganisasian, dan tawakkal kepada Allah SWT.” Ini menunjukkan sikap kritis Kiai Wahid Hasyim pada zamannya.

Dalam upaya menggerakkan masyarakat melakukan perlawanan itu, Kiai Wahid Hasyim kerap mengunjungi daerah-daerah. Di Jakarta Kiai Wahid bekerja sama dengan tokoh-tokoh nasional dan kalangan pemuda. Di daerah-daerah, beliau mempunyai anak buah dari kalangan supir truk, bengkel mobil, kondektur kereta api, dan pedagang keliling untuk melakukan tugas-tugas penghubung. Selain itu, hubungan, jaringan, dan koneksi dengan dunia pesantren tambah diperkuat. Konsolidasi tak biasa dari ‘Pasukan Rakyat Jelata’.

Suatu hari, seorang Pemuda Ansor Jakarta bernama Fatoni memberitahukan kepada KH Saifuddin Zuhri bahwa seorang petani bernama Husin minta berjumpa dengan KH Wahid Hasyim. Akhirnya kedua orang ini bertemu dan cukup lama mengadakan pembicaraan. Setelah petani itu pergi, Kiai Wahid memberitahukan kepada Kiai Saifuddin Zuhri bahwa petani tersebut tak lain adalah Tan Malaka, orang terkemuka dalam memimpin gerakan di bawah tanah melawan Jepang, guru Adam Malik dan Chaerul Saleh. (KH Saifuddin Zuhri, 2001: 274)

“Ente jangan lupa, Nabi kita Muhammad SAW pernah mengatakan, Al-Harbu Khid’ah, bahwa peperangan selamanya penuh dengan tipu muslihat.” Pernyataan tersebut dikatakan oleh KH Abdul Wahid Hasyim ketika membincang strategi perjuangan menghadapi penjajah Nippon atau Jepang dengan Konsul Nahdlatul Ulama wilayah Kedu, KH Saifuddin Zuhri pada tahun 1943.

Alakullihal, era milenial saat ini tidak bisa dihindari masyarakat. Namun kearifan para ulama sekaligus ajaran-ajarannya tidak boleh dilepaskan untuk memperkuat fondasi pemikiran dan akhlak sehingga generasi milenial tidak tergelincir oleh derasnya arus informasi. Karakter milenial yang multitasking dan kritis terhadap perubahan sosial perlu dipertahankan tapi juga tidak boleh kritis buta, yakni tanpa dasar dan tanpa kroscek mendalam sehingga yang muncul destruksi akal sehat dan kebencian.

Sumber: nu.or.id

  • Penulis: NU Pasuruan

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Optimalisasi Zakat, NU Pasuruan dan Bangil Jalin MoU dengan Baznas

    Optimalisasi Zakat, NU Pasuruan dan Bangil Jalin MoU dengan Baznas

    • calendar_month Kam, 2 Feb 2023
    • visibility 1.100
    • 0Komentar

    Purworejo, NU PasuruanPengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan dan PCNU Bangil melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Pasuruan di Gedung Seba Guna Pemerintah Kabupaten Pasuruan, Jl. Hayam Wuruk Pasuruan, Kota Pasuruan, Sabtu (28/01/2023). Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan KH Imron Mutamakkin mengatakan, MoU ini merupakan ikhtiar bersama untuk maksimalkan […]

  • Haul Ke-2 KH Abdullah Muhsin, Jamaah Diajak Meneladani Keistiqamahan

    Haul Ke-2 KH Abdullah Muhsin, Jamaah Diajak Meneladani Keistiqamahan

    • calendar_month Rab, 22 Jul 2026
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Gondangwetan, NU Pasuruan Pondok Pesantren Al Hasyimi menggelar Haul ke-2 Almaghfurlah KH Abdullah Muhsin di halaman pondok pesantren, Selasa (21/7/2026). Ratusan jamaah, para ulama, masyayikh, santri, serta masyarakat menghadiri kegiatan tersebut untuk mendoakan almarhum sekaligus mengenang keteladanan beliau semasa hidup. Almaghfurlah KH Abdullah Muhsin merupakan Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pasuruan masa khidmat 2021–2026. Semasa […]

  • LPBINU Pasuruan Mendampingi Penyusunan SOP Bencana di Rumah Sakit

    LPBINU Pasuruan Mendampingi Penyusunan SOP Bencana di Rumah Sakit

    • calendar_month Rab, 25 Jan 2023
    • visibility 360
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU PasuruanPengurus Cabang (PC) Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Kabupaten Pasuruan mendorong dan mendampingi peningkatan kapasitas dan implementasi Hospital Disaster Plan di Rumah Sakit (RS) setempat. Kegiatan itu bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan. Rabu kemarin (11/1/2023), kegiatan dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara, Kecamatan Gempol. “Dimulai […]

  • Hukum Iuran Desa Untuk Agustusan : Berikut Penjelasan LBMNU Pasuruan

    Hukum Iuran Desa Untuk Agustusan : Berikut Penjelasan LBMNU Pasuruan

    • calendar_month Jum, 8 Agu 2025
    • visibility 2.106
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU Pasuruan Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke 80, masyarakat di salah satu desa kembali dihadapkan pada kewajiban membayar iuran sebesar Rp100.000 per kepala keluarga.Iuran tersebut dicicil selama lima bulan dan diperuntukkan bagi seluruh rangkaian kegiatan Agustusan di desa. Adapun susunan kegiatan diantaranya pertama khataman Al-Qur’an di balai desa, kedua jalan […]

  • Gelar PKD, Ikhtiar PMII Al-Yasini Cetak Kader Teladan & Pejuang

    Gelar PKD, Ikhtiar PMII Al-Yasini Cetak Kader Teladan & Pejuang

    • calendar_month Rab, 9 Mar 2022
    • visibility 442
    • 0Komentar

    Wonorejo, NU PasuruanPengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Al-Yasini menggelar Pelatihan Kader Dasar (PKD) di Gedung Serbaguna Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Yasini (STAIA), Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, Senin-Kamis (28/02-03/03/2022). Majelis Keluarga Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini (PPTA) KH Nur Solikin menegaskan, menjadi kader PMII harus menjadi teladan bagi mahasiswa, santri dan pemuda. “Menjadi […]

  • Di Rakercab Maarif, ISNU Pasuruan Bedah dan Bagikan 100 Buku Ajaran Aswaja

    Di Rakercab Maarif, ISNU Pasuruan Bedah dan Bagikan 100 Buku Ajaran Aswaja

    • calendar_month Sen, 3 Jul 2023
    • visibility 375
    • 0Komentar

    Tutur, NU PasuruanPimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pasuruan menggelar Launching dan Bedah Buku Ajaran Aswaja di Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (LP Maarif NU) setempat. Kegiatan dipusatkan di Padepokan Jamaah Kebun Krecek, Desa Kayukebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (1/7/2023). 100 buku dibagi secara gratis untuk peserta […]

expand_less

Eksplorasi konten lain dari PCNU Kab. Pasuruan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca