KH Imron Mutamakkin: Bahtsul Masail Merupakan Ciri Khas NU yang Harus Dipertahankan
- account_circle NU Pasuruan
- calendar_month 18 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar

Kejayaan, NU Pasuruan
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan KH Imron Mutamakkin menegaskan bahwa Bahtsul Masail merupakan salah satu ciri khas Nahdlatul Ulama (NU) yang harus terus dipertahankan dan dikembangkan.
Hal tersebut disampaikan KH Imron Mutamakkin saat menghadiri kegiatan Bahtsul Masail di Masjid Sentono, Kecamatan Kejayaan, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, Bahtsul Masail menjadi bagian penting dalam tradisi keilmuan NU. Karena itu, hampir setiap kegiatan besar NU, mulai dari Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) hingga Muktamar NU, selalu terdapat komisi Bahtsul Masail.
âAcara NU bukan hanya pidato, tetapi juga membahas tentang hukum,â tegasnya.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), memang dapat membantu seseorang menemukan dan mengumpulkan informasi. Namun, AI tidak dapat menggantikan proses keilmuan dalam Bahtsul Masail.
âUntuk sekadar menjawab, AI juga bisa. Tetapi, apakah itu benar, itu yang harus dipertanggungjawabkan. Yang menjadi permasalahan utama, kalau peserta Bahtsul Masail semuanya mengandalkan AI, ini justru tambah bahaya,â ujarnya.
Menurut Gus Ipong, sapaan akrab KH Imron Mutamakkin, dalam Bahtsul Masail para peserta tidak cukup hanya mengandalkan informasi yang tersedia, tetapi membutuhkan **malakah fiqhiyah**, yakni kemampuan dan kecakapan dalam memahami serta menganalisis persoalan fikih.
âDi Bahtsul Masail kita mengandalkan malakah fiqhiyah. Sedangkan AI hanya mengumpulkan informasi berdasarkan panduan yang kita instruksikan kepada AI,â jelasnya.
Lebih lanjut, Gus Ipong menceritakan salah satu sejarah masuknya KH Muhammad Subadar dalam NU. Menurutnya, salah satu hal yang menarik KH Muhammad Subadar untuk bergabung dengan NU adalah tradisi NU dalam membahas persoalan hukum melalui Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU).
âKH Muhammad Subadar masuk NU karena di dalam NU membahas hukum, di antaranya melalui LBMNU,â ungkapnya.
Ia kemudian menceritakan ketika KH Muhammad Subadar pernah diminta menjadi peserta dalam pembahasan persoalan hukum mengenai bunga bank. Dalam pembahasan tersebut, hasilnya berstatus **mauquf**, yakni pembahasan belum menghasilkan keputusan hukum yang final.
Bagi Gus Ipong, tradisi tersebut menunjukkan bahwa Bahtsul Masail membutuhkan orang-orang yang memiliki kompetensi keilmuan fikih.
Karena itu, ia mendorong adanya kaderisasi di lingkungan LBMNU melalui program khusus seperti Madrasah Bahtsul Masail, terutama bagi jajaran Syuriyah.
âHarus ada kaderisasi di LBMNU, namanya bisa Madrasah Bahtsul Masail, khususnya untuk Syuriyah. Sebab, di jajaran Syuriyah harus diisi orang-orang yang kompeten dalam hal hukum,â katanya.
Ia berharap ke depan dapat disiapkan metode pembelajaran Bahtsul Masail yang secara khusus diperuntukkan bagi jajaran Syuriyah.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipong juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah hadir memenuhi undangan Bahtsul Masail.
Menurutnya, kehadiran peserta tetap memiliki arti penting meskipun tidak semuanya menyampaikan pendapat dalam forum.
âKehadiran panjenengan semua sudah kami apresiasi. Tidak harus ikut bicara,â tuturnya.
Ia mengingatkan peserta agar tidak asal menyampaikan pendapat dalam forum Bahtsul Masail. Sebab, pendapat yang tidak didasarkan pada landasan keilmuan justru dapat menambah persoalan.
âKalau peserta Bahtsul Masail asal bicara, nanti akan menambah masalah,â tegasnya.
Gus Ipong menambahkan, para ulama tidak menciptakan hukum baru dalam forum Bahtsul Masail. Tugas mereka adalah menggali dan menemukan hukum dari persoalan yang berkembang di masyarakat berdasarkan sumber dan metode keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
âSemua hukum itu sudah ada. Tugas kita hanya menggali. Namanya menggali, kadang ketemu, kadang tidak. Kita tidak membuat hukum, tetapi menemukan hukum,â pungkasnya.
- Penulis: NU Pasuruan

Saat ini belum ada komentar