Gus Islah Bahrowi Kupas Ancaman Terorisme Internasional di Universitas Yudharta
- account_circle Rahmawati Nurusifah
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar

Purwosari, NU Pasuruan
Ratusan pelajar, mahasiswa, dan perwakilan organisasi menghadiri seminar bertajuk Wawasan Terorisme Internasional. Kegiatan ini merupakan bagian dari program SADAR (Sinau Damai & Anti-Radikalisme), yang digelar di Aula Pancasila Universitas Yudharta Pasuruan Senin (13/4/2026).
Gus Islah Bahrowi selaku narasumber mengatakan keterkaitan antara ideologi dan kepentingan politik dalam fenomena terorisme.
“Orang tertarik kepada terorisme bukan karena kemiskinan, bukan karena kaya juga, tapi karena lebih kepada ideologi sebenarnya,” ujarnya.
Menurutnya ideologi ini tercipta karena tujuan politik. Apakah ada orang bodoh yang bergabung ke terorisme? Banyak. Tapi apakah sudah ada orang pintar yang bergabung ke terorisme? Jauh lebih banyak.
“Catatannya ideologi ini tercipta karena tujuan politik,” terangnya.
Peserta seminar berasal dari berbagai kalangan, khususnya pelajar tingkat SLTA dan mahasiswa, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan.
Sejumlah sekolah menengah atas dan kejuruan di wilayah Pasuruan turut mengirimkan delegasinya. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri perwakilan lintas agama, di antaranya dari GKJW Tejowangi dan GKJW Pandaan, yang menambah nuansa inklusif dalam forum diskusi.
Salah satu peserta, Selinda, mengaku mendapatkan wawasan baru dari materi yang disampaikan narasumber.
“Gus Islah bener-bener kasih wawasan politik dan terorisme yang belum banyak orang tahu. Cocok banget seminar ini buat anak SLTA, biar SADAR (Sinau Damai & Anti-Radikalisme) sesuai temanya, hehehe,” ujarnya.
Seminar ini diinisiasi oleh Universitas Yudharta Pasuruan sebagai upaya edukasi untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap bahaya radikalisme dan terorisme. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu memahami isu secara lebih kritis serta menumbuhkan semangat perdamaian di lingkungan masing-masing.
- Penulis: Rahmawati Nurusifah
- Editor: Mokh Faisol

Saat ini belum ada komentar