Jelang Muktamar Ke-35 PCNU se-Pasuruan Raya Rumuskan Gagasan Transformasi Gerakan NU Menuju Abad Kedua
- account_circle Mokh Faisol
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar

Pohjentrek, NU Pasuruan
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Pasuruan Raya menggelar Diskusi Transformasi Gerakan Keagamaan dan Kemasyarakatan NU Abad Kedua di Gedung ITC Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan, Jumat-Sabtu (31/7–1/8/2026).
Forum ini menjadi ruang konsolidasi gagasan menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama sekaligus merumuskan arah gerakan NU pada abad kedua.
Mustasyar PCNU Kabupaten Pasuruan, Buya Muzammil Syafi’i, menegaskan hasil diskusi tidak boleh berhenti sebagai dokumen internal semata, melainkan harus menjadi bagian dari khazanah pemikiran Nahdlatul Ulama secara nasional.
” Saya yakin forum seperti ini diselenggarakan oleh banyak PCNU di Indonesia. Semua itu akan memperkaya khazanah keilmuan sekaligus menjadi bekal membangun NU yang lebih baik pada masa mendatang,” ujarnya.
Ia berharap rumusan yang dihasilkan dari forum tersebut benar-benar menjadi rekomendasi terbaik bagi pengembangan organisasi dan kemaslahatan umat.
“Hasilnya nanti akan kita bawa bersama sama untuk muktamar NU nantinya,” terangnya.
Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan KH Imron Mutamakkin menyampaikan bahwa setiap menjelang Muktamar NU, PCNU Kabupaten Pasuruan selalu berupaya membawa gagasan yang lahir dari kebutuhan nyata di tingkat cabang.
“Selama ini pembahasan menjelang muktamar sering kali hanya dilakukan secara internal tanpa menghasilkan kesepahaman yang kuat,” jelasnya.
Karena itu, melalui forum lintas PCNU se-Pasuruan Raya ini diharapkan lahir pandangan bersama yang dapat menjadi usulan bagi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
“Kita ingin berangkat ke muktamar tidak dalam keadaan kosong. Apa yang menjadi persoalan dan kebutuhan di tingkat PCNU harus menjadi bagian dari program besar PBNU,” tuturnya.
Gus Ipong sapaan akrabnya menilai keberhasilan NU memasuki abad kedua tidak cukup hanya berbangga atas capaian pada abad pertama. Nilai-nilai yang diwariskan para pendiri NU, seperti ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah.
“Kini, tantangannya adalah bagaimana nilai tersebut diterjemahkan menjadi gerakan yang lebih konkret,” pungkasnya.
Para ulama-ulama kita juga mewarisikan prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah telah memberi warna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Maka dari itu gagasan yang dibawa benar-benar lahir dari pengalaman dan kebutuhan di lapangan,” tuturnya
Ia mengingatkan bahwa cita-cita NU menjadi pemimpin peradaban dunia harus diimbangi dengan penguatan di sektor internal, terutama pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
“Jangan sampai kita berbicara terlalu jauh tentang peradaban dunia, tetapi justru tertinggal di rumah kita sendiri,” katanya.
Pendidikan harus kuat, ekonomi warga harus berkembang, demikian pula perhatian terhadap persoalan lingkungan dan bidang-bidang strategis lainnya.
Karena itu, diskusi tersebut disebut sebagai awal dari rangkaian pertemuan lanjutan yang akan terus dilakukan untuk menghimpun aspirasi dari berbagai daerah.
“Nanti Hasilnya diharapkan menjadi rekomendasi bersama, termasuk mewakili pandangan warga NU Jawa Timur dalam forum yang lebih luas.
Pada kesempatan itu, dirinya menyinggung perkembangan UNU Pasuruan sebagai salah satu ikhtiar NU meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
” Pasuruan yang selama ini dikenal sebagai daerah pesantren kini juga harus mampu berkembang menjadi pusat pendidikan tinggi yang melahirkan kekuatan baru di bidang ilmu pengetahuan dan ekonomi,” tutupnya.
- Penulis: Mokh Faisol

Saat ini belum ada komentar