Breaking News
light_mode

Habaib dan Cerminan Kemuliaan Akhlak Rasulullah

  • account_circle NU Pasuruan
  • calendar_month Sel, 1 Des 2020
  • visibility 532
  • comment 0 komentar

Dalam sebuah riwayat, diceritakan bahwa ada seorang Raja, yang ketika akan berbelanja untuk kebutuhan dalam 1 bulan, akan dikawal oleh beberapa prajurit khusus yang bertugas untuk membawa barang yang dibeli tersebut, karena jumlah barangnya sangat banyak.

Di tengah perjalanan, Raja dan rombongan beristirahat di sebuah tempat. Para prajurit duduk santai di luar sebuah bangunan, sedangkan sang Raja beristirahat di dalam ruangan. Ketika memasuki ruangan, sang Raja terkaget, menyaksikan seseorang yang sedang beribadah (Baca: Sholat) dengan khusyuk, tidak terganggu sama sekali dengan kedatangannya berserta rombongan. Lalu, tidur lah sang Raja.

Bahkan ketika bangun, sang Raja tetap mendapati seseorang tadi dalam keadaan beribadah. Berangkatlah sang Raja dan aksi memborong barang pun dimulai. Ketika nota pembelian telah disodorkan, dengan sombongnya, sang Raja berkata “Cuma segini harganya?” Sembari tertawa kecil seraya mengipas-ngipaskan nota tersebut. Tiba-tiba, wajah sombong sang Raja berubah menjadi kaget dan bingung, karena uang dirham yang telah disiapkan raip entah kemana.

Terjadi lah saling menuduh. Beruntungnya, salah satu penasihatnya mengingatkan sang Raja tentang lokasi dimana Ia beristirahat sebelum tiba di pasar. Sang Raja pun, berkeyakinan, uang dirhamnya tertinggal disana.

Sesampainya di lokasi, Raja hanya menemukan seseorang yang sedang beribadah tadi, masih tetap beribadah. Sehingga, tuduhan mengerucut kepada seseorang tersebut. Awalnya, Raja dan para prajurit menunggu seseorang tersebut selesai melakukan ibadah. Karena tak kunjung selesai, habislah kesabaran sang Raja.

“Hai pencuri…!” teriak sang Raja.

“Pura-pura ibadah, padahal pencuri, kembalikan uang kami,” hardik sang Raja.

Karena seseorang tersebut tetap khusyuk beribadah, para prajurit pun saling bergantian meneriakinya, “Hai maling yang sedang sholat.”

Hingga akhirnya, seseorang tersebut selesai beribadah dan berkata “Ada yang bisa hamba bantu wahai saudara-saudaraku?” ujarnya dengan lembut. Namun, Raja menjawabnya dengan kasar dan berteriak bahwa “Kau pencuri, yang mengambil uangku, uangku tertinggal disini tadi.”

Dengan tetap tenang, seseorang tersebut bertanya. “Berapa banyak uang saudara yang tertinggal disini?”

“Banyak…! Kau tidak akan mampu untuk menghitungnya. Jangan banyak bicara, segera kembalikan sekarung uang dirhamku,” jawab sang Raja dengan congkak.  

“Sebentar, akan aku ambilkan uangnya di rumah. Mari, ikut ke rumah kami, sekalian cicipi hidangan kami, karena tuan-tuan adalah tamu kami,” ujar seseorang tersebut sekaligus mengajak sang Raja dan rombongan ke rumahnya.

Dengan semakin marah Raja menjawab “Dasar pencuri. Kalau ketahuan, berlagak baik, jika tidak ketahuan, sudah pasti kau habiskan uangku,” ujar sang Raja sembari dengan terpaksa mengikuti seseorang tersebut ke rumahnya.

Setelah sang Raja dan rombongan puas mencicipi hidangannya, seseorang tersebut pun keluar dari kamarnya dengan membawa sekarung uang dirham. Dengan kasar, sang Raja pun mengambil karung tersebut tanpa mengatakan apapun seraya beranjak kembali pergi ke Pasar.

Dengan gembira, rombongan pulang dengan membawa barang belanjaan. Sesampainya di gerbang Kerajaan, sang Raja kaget karena telah ditunggu oleh salah satu Putrinya, yang membawa karung, sebagaimana karung dirham miliknya.

Belum sempat bertanya, putri sang Raja bertanya kepadanya, “Wahai ayahku, engkau belanja pakai uang siapa? Uang ayah tertinggal dirumah.”

Bagai disambar petir di siang bolong, Raja beserta prajurit tercengang, hingga berjatuhan barang bawaannya. Tiba-tiba, sang raja yang sedang menangis haru dan malu, memacu kudanya dengan membawa kantong dirham dari putrinya tersebut. Begitu pun dengan para prajurit, yang juga sedang menangis, pun dengan cepat mengikuti sang Raja.

Hati sang Raja dan prajurit yang sedang bergejolak kencang, bagaimana pun tetap tidak percaya, bahwa Ia telah telah menuduh, menghina orang yang begitu baik. Bahkan, setelah dilecehkan, seseorang tersebut tetap bersedia menjamunya dan memberikan uang dirham begitu banyak tanpa berpikir panjang, bahkan dengan tersenyum.

Meskipun begitu ingin mengetahui sosok seseorang yang luar biasa itu, sang Raja dan rombongan tidak berani menemuinya langsung. Akhirnya, Ia bertanya kepada warga sekitar mengenai kepribadian seseorang tersebut. Ternyata, seseorang tersebut bernama Ali Zainal Abidin, putra Sayyidina Husain, cucu dari seorang Nabi bernama Muhammad. Sang Raja teringat, pernah mendengar bahwa kabarnya ada manusia yang memiliki akhlak yang mulia, yang beragama Islam.

 “Ahklak cicitnya saja begitu mulianya, apalagi akhlak Nabi yang bernama Muhammad tersebut,” ujar dalam hati sang Raja sembari membenarkan kabar yang pernah didengarnya tentang manusia yang memiliki akhlak yang sangat mulia.

Hanya bisa terdiam, ketika Ali Zainal Abidin, menghampiri sang Raja dan bertanya kepadanya “Kenapa wajahmu bersedih wahai saudaraku? Apakah uangmu tadi kurang sehingga engkau kembali lagi kesini. Kurang berapa lagi? Biar aku ambilkan!”

Sembari memeluk Ali, sang Raja menangis dan meminta maaf atas perbuatannya dan berkata “Begitu mulianya akhlakmu, wahai keturunan Muhammad, aku tidak bisa membayangkan betapa mulianya akhlak kakekmu.”

“Demi Allah dan Muhammad, sebagai utusan Allah, pada hari ini, kami akan  memeluk Islam, bersama prajurit dan rakyatku,” sumpah sang Raja di depan Ali Zainal Abidin.

Sumber: Adaptasi dari ceramah Habib Umar bin Hafidz Tarim ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo, sekitar tahun 2012.

Penulis: Moh. Rofii, Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Editor: Makhfud Syawaludin

  • Penulis: NU Pasuruan

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU Pasuruan Gelar Khotmil Qur’an, Teguhkan Peran Al-Qur’an dalam Kehidupan

    PCNU Pasuruan Gelar Khotmil Qur’an, Teguhkan Peran Al-Qur’an dalam Kehidupan

    • calendar_month Sel, 17 Mar 2026
    • visibility 445
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU Pasuruan  Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PCNU Kabupaten Pasuruan menggelar Khotmil Qur’an menggelar Khotmil Qur’an di Aula KH Ahmad Djufri PCNU Kabupaten Pasuruan, Selasa (17/04/2026). Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan, KH Imron Mutamakkin, mqenegaskan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam menjalani kehidupan. “Dengan diadakannya khotmil Qur’an mudah mudahan bisa menjadi pedoman kita bersama sama […]

  • Kader IPNU Gempol Raih Juara Cloud Computing 2021

    Kader IPNU Gempol Raih Juara Cloud Computing 2021

    • calendar_month Jum, 2 Apr 2021
    • visibility 1.192
    • 0Komentar

    Gempol, NU Kabupaten PasuruanAfrizal Alif Maulana, kader Ikatan Pelajar Putra (IPNU) Kecamatan Gempol, berhasil meraih juara ke-2 dalam Cloud Computing 2021. “Awalnya saya tidak yakin bisa mengikuti lomba tersebut hingga sampai di titik ini. Akan tetapi, kepercayaan yang diberikan dari pihak sekokah. Dukungan penuh dari keluarga. Teman-teman di IPNU IPPNU Kepulungan. Akhirnya, dimudahkan dan dilancarkan,” […]

  • Belajar Menjaga Barisan Jamiyyah Terbesar Di Dunia, PCNU Kab. Pasuruan Sowan Mbah Hasyim Asy’ari

    • calendar_month Kam, 5 Mar 2020
    • visibility 933
    • 0Komentar

    Momentum Harlah NU ke-97, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan mengadakan beberapa kegiatan. Salah-satunya kegiatan ziarah muassis NU. Usai dari Sidogiri & Bangkalan, tentu menuju Makam Mbah Hasyim Asy’ari di Jombang. Menurut KH. Abdulloh Nasih Nashor, selaku Bendahara PCNU Kabupaten Pasuruan, berdasarkan hasil survey LSI tahun 2019, warga NU di Indonesia sebanyak 49,5%, yakni […]

  • Gus Shon: Almaghfurlah KH Ad Rahman Syakur Teladan Disiplin Waktu

    Gus Shon: Almaghfurlah KH Ad Rahman Syakur Teladan Disiplin Waktu

    • calendar_month Sel, 5 Des 2023
    • visibility 1.450
    • 0Komentar

    Kraton, NU Pasuruan Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan KH Shonhaji Abdus Shomad menyebutkan, KH Ad Rahman Syakur menjadi suri teladan dalam perilaku disiplin waktu. “Dalam segi kedisplinan KH Ad Rahman Syakur selalu datang lebih awal satu-dua jam di setiap rapat harian NU,” ujarnya di Peringantan Haul ke-4 KH Ad Rahman Syakur […]

  • KH Imron Mutamakkin : Narkoba Dapat Merusak Moral Anak Muda

    KH Imron Mutamakkin : Narkoba Dapat Merusak Moral Anak Muda

    • calendar_month Ming, 3 Des 2023
    • visibility 1.297
    • 0Komentar

    Grati, NU Pasuruan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan KH Imron Mutamkkin mengatakan bahwasanya dampak pengunaan narkoba dapat merusak moral anak anak muda. Hal itu diungkapkan pada saat acara istighosah kubro di Balai Desa Kedawung Kulon Jum’at (1/11/2023). “Tantangan kita saat ini adalah mengawasi pergaulan anak anak kita agar tidak terjerumus penyalahgunaan obat […]

  • Menuju Pondok Pesantren Sehat, LKNU Pasuruan Gelar Bimtek Santri Husada

    Menuju Pondok Pesantren Sehat, LKNU Pasuruan Gelar Bimtek Santri Husada

    • calendar_month Rab, 30 Okt 2024
    • visibility 1.335
    • 0Komentar

    Pohjentrek, NU Pasuruan Pengurus Cabang (PC) Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kabuapten Pasuruan menggelar Bimbingan Teknik (Bimtek) santri husada di aula LP Ma’arif NU Kabupaten Pasuruan, Selasa (29/10/2024). Ketua PC LKNU Kabupaten Pasuruan Dwijo Widodo mengatakan, tujuan dari kegiatan santri husada adalah membentuk upaya kesehatan sumber daya masyarakat pesantren dengan prinsip untuk pesantren dan warga […]

expand_less

Eksplorasi konten lain dari PCNU Kab. Pasuruan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca