Breaking News
light_mode

Sejarah ISHARI : Warisan Seni, Dakwah, dan Perjuangan Ulama Nusantara

  • account_circle Mokh Faisol
  • calendar_month Jum, 16 Jan 2026
  • visibility 329
  • comment 0 komentar

Pada awal pendiriannya, Ikatan Seni Hadrah Repbulik Indonesia (ISHARI) bernama Jam’iyyah Hadrah, yaitu sebuah perkumpulan seni rebana yang diiringi bacaan sejarah kelahiran dan perjuangan Nabi Besar Muhammad Saw. Kegiatan ini memadukan syair dari Kitab Maulid Syaroful Anam dan Kitab Diwan Al-Hadroh, disertai gerakan serta bunyian tepuk tangan yang teratur dan indah, sehingga tercipta harmoni antara lantunan shalawat dan tabuhan rebana.

Pada tahun 1918, shalawat hadrah ini dikembangkan kembali oleh KH. Abdurrokhim bin Abdul Hadi di Pasuruan. Dari tangan beliau, lahirlah kelompok-kelompok hadrah yang didirikan oleh para santrinya. Sejak saat itu, shalawatan hadrah ini dikenal luas dengan sebutan Hadrah Durahiman.

Pada masa penjajahan, ketika kebebasan berkumpul masyarakat pribumi diawasi secara ketat oleh pemerintah kolonial, kesenian hadrah memiliki peran strategis. Izin penyelenggaraan kegiatan hadrah dimanfaatkan oleh para ulama sebagai sarana konsolidasi dan musyawarah untuk membahas persoalan-persoalan keumatan. Dengan demikian, hadrah tidak hanya berfungsi sebagai kesenian, tetapi juga sebagai media perjuangan dan dakwah.

Ciri khas Jam’iyyah Hadrah tampak pada suara merdu pembawa syair, sahut-sahutan bacaan shalawat para peserta, serta gerakan-gerakan yang menandakan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. Jam’iyyah ini didirikan oleh KH. Abdurrokhim bin Abdul Hadi sekitar tahun 1918. 

Dalam struktur organisasi ISHARI, terdapat dua majelis utama, yaitu Majelis Hadi dan Majelis Tanfidziyah. Dalam perjalanannya, ISHARI mengalami berbagai cobaan dan dinamika. Bahkan, pada awal perubahan nama dari Jam’iyyah Hadrah menjadi ISHARI, terjadi pergolakan internal yang nyaris menimbulkan perpecahan. Pada rentang tahun 1959–1966, kegiatan ISHARI sempat terpecah menjadi dua.

Perjalanan ISHARI juga tidak terlepas dari dinamika organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Pada Muktamar NU ke-30 tahun 1999 di Lirboyo, ISHARI masuk dalam pembinaan LSBNU. Selanjutnya, pada Muktamar NU ke-31 tahun 2004 di Boyolali, ISHARI dipindahkan menjadi organisasi di bawah binaan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah. 

Pada Muktamar NU ke-32 di Makassar, nama ISHARI sempat tidak tercantum dalam AD/ART NU. Hingga akhirnya, pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, ISHARI secara resmi kembali menjadi Badan Otonom NU.

Seiring perkembangan zaman, Jam’iyyah Hadrah terus berkembang dan keanggotaannya semakin bertambah. Setelah wafatnya KH. Abdurrokhim, kepengasuhan Jam’iyyah ini dilanjutkan oleh putra beliau, KH. Muhammad bin Abdurrokhim. Pada tahun 1956, KH. Muhammad bin Abdurrokhim bersama Rais ‘Aam PBNU KH. Wahab Hasbullah membentuk wadah organisasi dan mendeklarasikan Jam’iyyah Hadrah menjadi ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia).

Huruf “R” (Republik) pada nama ISHARI saat itu bertujuan untuk membentengi organisasi dari pengaruh gerakan komunisme. Namun, pada Munas pertama ISHARI tahun 1995 di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, disepakati penghapusan kata Republik, sehingga nama organisasi menjadi Ikatan Seni Hadrah Indonesia.

Lebih dari sekadar komunitas seni, ISHARI memiliki peran penting dalam sejarah lahirnya Nahdlatul Ulama. Dikisahkan bahwa proses musyawarah pembentukan Komite Hijaz tahun 1926, yang menjadi cikal bakal berdirinya NU, disamarkan melalui kegiatan hadrah. Saat rapat berlangsung di dalam kediaman KH. Abdul Wahab Hasbullah di Surabaya, Jam’iyyah Hadrah melantunkan shalawat di luar ruangan agar pemerintah kolonial Belanda tidak mencurigai adanya pertemuan penting. Hal ini dilakukan karena pada masa itu, kegiatan rapat dan musyawarah masyarakat diawasi ketat oleh pemerintah kolonial.

Pendirian ISHARI 15 Rajab 1378/ 23 Januari 1959 M. Adapun tokoh ulama dari Nahdlatul Ulama (NU) sebagai pemrakarsa berdirinya ISHARI, antara lain:

1. KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Rais Am PBNU)

2. KH. Bisri Syamsuri (Rais PBNU)

3. KH. Idham Khalid (Ketua Tanfidz PBNU)

4. KH. Saifuddin Zuhri

5. KH. Ahmad Syaiku

6. KH. Muhammad (putra KH. Abdurrahim) Pasuruan

Irama bacaan syair dalam lingkungan ISHARI. Hal ini ada tiga jenis, antara lain:

1. Irama Juz, dimana syair mengikuti irama dua kali, dua ketukan tangan dengan tempo agak lambat secara terus menerus sampai tuntas, “tak-dik, tak-tak”. Penamaan “Juz” berati bagian, yang maksudnya bahwa dua kali, dua ketukan ini mempunyai filosofi yang sangat unik. Yakni untuk mengingat dua kalimah syahadat yang mana tidak boleh pisah dari seorang yang beriman.

2. Irama Yahum, dimana syair mengikuti irama tiga kali ketukan tangan dengan tempo lebih cepat dari irama juz sampai tuntas, “tak-dik-tak”. Penyebutan “Yahum” mengandung filosofi yang indah. Ia diambil dari kata “Ya Huwa” yang artinya “Dialah Tuhanku” 

3. Irama Tareem, dimana syair mengikuti irama tiga kali ketukan dengan tempo sangat cepat sampai tuntas, “tak-dik-tak”. Penyebutan “Tareem” diambil dari kata “Tareem” yang merupakan nama kota di Yaman. Irama Tareem ada tiga yaitu; Pertama, Tareem Inat (tak-tak-dik); Kedua, Tareem Rojaz (dik-tak-tak-tak); dan Ketiga,Tareem Biasa (tak-dik-tak) 

Adapun penjelasan filosofi pukulan atau ketukan tersebut, antara lain: 

1. Irama pukulan Juz: berbunyi “tak-dik-tak” selaras dengan notasi Hu-All-lah atau lafadz Mu-Ham-Mad.

2. Irama pukulan Yahum: merupakan simbol “Lailahaillallah” dan “Muhammadur-Rasulullah”. Dalam irama Yahum ada tiga notasi yang dipadukan yaitu: (1) krotokan (wedokan), terdiri lima hentakan “taktaktaktak-dik” yang berarti pengamalan lima rukun Islam; (2) penyela (tengahan), terdiri dari empat hentakan “tak-tak-tak-dik” yang bermakna sumber hukum Islam ada lima yaitu Al-Qur’an, Al-Hadist, Al-Ijma, Al-Qiyas; (3) pengonteng (lanangan), terdiri dari tiga hentakan “tak-dik-tak” yang bermakna pokok ajaran Islam yaitu Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf. 

3. Irama pukulan Tareem: secara umum arti filosofisnya sama dengan Yahum

 Istilah “roddat” berasal dari Bahasa Arab kata kerja roddayaruddu-roddan, yang berarti mengembalikan, membalas, dan menolak). Ada tiga hal yang dilakukan oleh seorang yang sedang roddat, yaitu: 

(1) membalas lantunan shalawat yang dikumandangkan oleh Guru Hadi; 

(2) melakukakan “raqs” (gerakan tarian khusus ISHARI); 

(3) melakukan “tashfiq” (tepuk tangan khusus ISHARI)

4. Melakukan “suluk” dalam istilah ahli tasawwuf, kalau dalam bahasa Jawa “sambat maring Gusti Allah” (mengadu kepada Allah). Adapun maksud dan tujuan raddat dalam ISHARI, antara lain: (1) gerakan dan tarian dalam raddat merupakan tasbih dan zikir kepada Allah; (2) melahirkan rasa senang dan gembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW; (3) pada saat tepuk tangan [tashfiq] dimaksudkan melahirkan rasa suka cita akan kehadiran Nabi Muhammad SAW di muka bumi ini; dan (4) suluk kecil (sambat; Bahasa Jawa) dimaksudkan untuk bermunajat dan mengadu kepada Allah serta memohon syafaat Rasulullah SAW.

Sementara itu, dalam raddat menggunakan gerakan anggota badan dibagi dua macam, yaitu:

(1) raddat badan dengan mengikutsertakan anggukan kepala diserasikan dengan notasi rebana, mengilustrasikan penulisan lafadz “Allah”

( 2) raddat badan dengan tarian tangan, mengilustrasikan penulisan lafadz “Muhammad”.

  • Penulis: Mokh Faisol
Tags

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU Kab. Pasuruan Akan Salurkan Bantuan Tahap Pertama Korban Banjir Kota Batu

    Hari ini, PCNU Kab. Pasuruan Akan Salurkan Bantuan Tahap Pertama Korban Banjir Kota Batu

    • calendar_month Sab, 6 Nov 2021
    • visibility 220
    • 0Komentar

    Pasuruan, NUPasuruanPengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten gerak cepat melakukan koordinasi untuk membantu para korban banjir bandang yang terjadi di Kota Batu pada kamis sore (04/11). Koordinasi yang dilakukan melalui group WhatApps Tim NU Peduli itu, sedang mempersiapkan berbagai alat yang sedang dibutuhkan di lokasi bencana. Yakni cangkul, sekop, gerobak artco, arit, dan lain-lain. “Informasi […]

  • Tingkatkan Kualitas Bahasa Asing Santri, LPBA Al-Yasini Datangkan Tutor BEC Pare

    Tingkatkan Kualitas Bahasa Asing Santri, LPBA Al-Yasini Datangkan Tutor BEC Pare

    • calendar_month Kam, 14 Mar 2024
    • visibility 300
    • 0Komentar

    Wonorejo, NU PasuruanLembaga Pengembangan Bahasa Asing (LPBA) Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini (PPTA), Kabupaten Pasuruan menggelar penguatan berbahasa asing bersama Basic English Course (BEC) Pare, Kabupaten Kediri, Jumat (08/03/2024). Ketua LPBA Pesantren Al-Yasini Ustadzah Zahrotun Nafisah berharap, datangya tutor bahasa asing dalam mengoptimalkan upgrading dan peningkatan kapasitas berbahasa inggris para santri. “Meningkatkan kesadaran santri akan pentingnya […]

  • Milad Ke 25, ISNU Pasuruan Tasyakuran dengan Potong Tumpeng

    Milad Ke 25, ISNU Pasuruan Tasyakuran dengan Potong Tumpeng

    • calendar_month Rab, 20 Nov 2024
    • visibility 301
    • 0Komentar

    Kraton, NU Pasuruan Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pasuruan menggelar tasyakuran Milad ISNU ke 25 dengan tumpeng di Masjid Gus Dur, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, Selasa(19/11/2024). Milad ke 25 di tandai dengan pemotongan tumpeng dan penyerahan sertifikat halal oleh pengurus ISNU Kabupaten Pasuruan kepada pelaku UMKM. Ketua PC ISNU Kabupaten Pasuruan […]

  • Himbau Sholat Idul Fitri Pakai Masker Sekaligus Bagi Takjil Terakhir

    Himbau Sholat Idul Fitri Pakai Masker Sekaligus Bagi Takjil Terakhir

    • calendar_month Rab, 12 Mei 2021
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Rejoso, NU PasuruanJajaran Badan Otonom (Banom) Pengurus Ranting (PR) Nahdlatul Ulama (NU) bersama Pemerintah Desa Sambirejo mengingatkan warga agar disiplin protokol kesehatan dalam pelaksanaan Sholat Idul Fitri besok pagi dan tidak mudik. Kepala Desa Sambirejo Daifah, menyampaikan terima kasih kepada Ansor dan IPNU IPPNU atas kerja bersamanya untuk mengingatkan warga agar disiplin protokol kesehatan dalam […]

  • Lazisnu Kabupaten Pasuruan Syiarkan Muharram Bersama 700 Yatim

    • calendar_month Rab, 11 Sep 2019
    • visibility 303
    • 0Komentar

    Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (PC LAZISNU) Kabupaten Pasuruan, gelar santunan Yatim & Dhuafa di beberapa kecamatan, kali ini, selasa (10/9/2019) bertempat di Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin Desa Karanganyar Kecamatan Kraton. Tepat 10 Muharram tersebut, tercatat 700 Anak Yatim yang sudah disantuni oleh Lazisnu. Menurut Agus H. Muhammad Nawawi, lazisnu […]

  • Aswaja NU Center Kabupaten Pasuruan Perkuat Aqidah AnNahdliyah Dikalangan Santri

    Aswaja NU Center Kabupaten Pasuruan Perkuat Aqidah AnNahdliyah Dikalangan Santri

    • calendar_month Ming, 26 Des 2021
    • visibility 352
    • 0Komentar

    Menjaga tradisi NU dan amaliyah Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah, menjadi perhatian Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Pasuruan. Salah satunya melalui pengajian penguatan aswaja yang digelar besama santri Pondok Pesantren Assholach. Pengajian ini dilaksanakan pagi hari Ahad, 26 Desember 2021 di Aula KH. Zainuddin MA Assholach Kejeron Gondangwetan. Kegiatan ini dibuka langsung oleh pengasuh Pondok […]

expand_less

Eksplorasi konten lain dari PCNU Kab. Pasuruan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca